3 Dosa Besar yang Harus Dijauhi

3 Dosa Besar yang Harus Dijauhi

Ada 3 dosa besar yang harus kita jauhi. Ada 3 dosa besar yang harus kita waspadai.

Nabi ﷺ ditanya tentang dosa-dosa besar, maka beliau menjawab:

الشِّرْكُ بِاللهِ، وَالْيَأْسُ مِنْ رَوْحِ اللهِ وَالْأَمْنُ مِنْ مَكْرِ اللهِ

“Syirik kepada Allah, berputus asa dari rahmat Allah, dan merasa aman dari makar Allah.” (Diriwayatkan dalam Al-Jami’ Ash-Shaghir)

Ibnu Mas’ud berkata:

«أَكْبَرُ الْكَبَائِرِ الْإِشْرَاكُ بِاللَّهِ , وَالْأَمْنُ مِنْ مَكْرِ اللَّهِ , وَالْقَنُوطُ مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ , وَالْيَأْسُ مِنْ رَوْحِ اللَّهِ»

“Dosa besar yang paling besar adalah: menyekutukan Allah, merasa aman dari siksa Allah, berputus harapan dari rahmat Allah, dan berputus asa dari pertolongan Allah.” (Tafsir Abdurrazzaq)

 

Faidah yang bisa kita petik dari 2 riwayat ini:

 

  1. Syirik adalah dosa yang sangat besar.

Ya, sangat besar dan paling besar. Saking besarnya dosa syirik sampai-sampai Allah tidak mengampuni pelakunya jika mati dalam keadaan belum bertaubat darinya.

Allah berfirman:

إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ وَمَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدِ افْتَرَى إِثْمًا عَظِيمًا

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni dosa selain syirik bagi siapa yang Dia kehendaki. Siapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh, ia telah berbuat dosa yang besar.” (QS. An Nisaa: 48)

 

  1. Merasa aman dari siksa Allah adalah dosa yang sangat besar.

Engkau berkali-kali melakukan dosa lalu engkau merasa bahwa engkau tidak akan mengalami apa-apa?!

Engkau terus menerus bermaksiat kepada Tuhanmu lalu engkau merasa bahwa Tuhanmu tidak murka kepadamu dan tidak menurunkan siksa kepadamu?!

Itu dosa besar dan sangat besar kepada Tuhanmu!

Allah berfirman:

أَفَأَمِنَ أَهْلُ الْقُرَى أَنْ يَأْتِيَهُمْ بَأْسُنَا بَيَاتًا وَهُمْ نَائِمُونَ

“Maka apakah penduduk negeri itu merasa aman dari siksaan Kami yang datang di malam hari ketika mereka sedang tidur?

أَوَأَمِنَ أَهْلُ الْقُرَى أَنْ يَأْتِيَهُمْ بَأْسُنَا ضُحًى وَهُمْ يَلْعَبُونَ

Atau apakah penduduk negeri itu merasa aman dari siksaan Kami yang datang di  pagi hari ketika mereka sedang bermain?

أَفَأَمِنُوا مَكْرَ اللَّهِ فَلا يَأْمَنُ مَكْرَ اللَّهِ إِلا الْقَوْمُ الْخَاسِرُونَ

Maka apakah mereka merasa aman dari siksaan Allah (yang tidak terduga-duga)? Tidak ada yang merasa aman dari siksaan Allah kecuali orang-orang yang merugi.” (97-99)

Siksa Allah tiba tanpa bisa kita duga. Kadang lewat banjir dan tanah longsor. Kadang lewat gempa bumi dan Tsunami. Kadang lewat wabah penyakit, seperti Corona yang kita hadapi sekarang ini.

Karena itu, jangan sampai merasa aman dari siksa Allah.

 

  1. Termasuk dosa yang sangat besar yaitu berputus asa dari rahmat Allah. Berputus asa dari kasih sayang Allah. Berputus asa dari ampunan Allah. Berputus asa dari pertolongan Allah.

Allah berfirman:

وَمَنْ يَقْنَطُ مِنْ رَحْمَةِ رَبِّهِ إِلا الضَّالُّونَ

“Tidak ada yang berputus asa dari rahmat Tuhannya kecuali orang-orang yang sesat.” (QS. Al Hijr: 56)

Maka, jangan berputus asa dari rahmat Allah.

Separah apapun musibah yang menimpamu, maka ketahuilah itu adalah kebaikan bagi dirimu.

Nabi ﷺ bersabda:

إِنَّ عِظَمَ الجَزَاءِ مَعَ عِظَمِ البَلَاءِ، وَإِنَّ اللَّهَ إِذَا أَحَبَّ قَوْمًا ابْتَلَاهُمْ، فَمَنْ رَضِيَ فَلَهُ الرِّضَا، وَمَنْ سَخِطَ فَلَهُ السَّخَطُ

“Sesungguhnya besarnya pahala tergantung besarnya bencana. Dan sungguh, Allah jika mencintai suatu kaum, maka Allah memberikan kepada mereka ujian. Siapa yang rida terhadap ujian tersebut, baginya keridaan Allah. Sebaliknya, siapa yang murka, baginya kemurkaan Allah.” (HR. Tirmidzi)

Berarti, ujian dan cobaan yang Allah berikan kepadamu merupakan tanda cinta-Nya kepadamu. Lantas, apakah engkau mau menolak tanda cinta-Nya?

Begitu juga, separah apa pun dosamu dan sebanyak apa pun dosamu, kalau engkau bertobat dan menyesali kesalahanmu, maka ketahuilah, Tuhanmu Maha Pengampun lagi Maha Menyayangimu.

Nabi ﷺ bersabda:

قَالَ اللَّه تَعَالَى:

“Allah Ta’ala berfirman:

يَا ابْنَ آدَمَ إِنَّكَ مَا دَعوْتَني وَرَجوْتَني غَفَرْتُ لَكَ عَلى مَا كَانَ مِنكَ وَلاَ أُبَالِي

“Hai anak Adam, sesungguhnya engkau selama masih berdoa kepada-Ku dan mengharapkan rahmat-Ku, pastilah Aku mengampuni dosamu bagaimanapun dosa itu dan Aku tidak peduli.

يَا ابْنَ آدمَ، لَوْ بَلغَتْ ذُنُوبُكَ عَنَانَ السماءِ، ثُمَّ اسْتَغْفَرْتَني غَفَرتُ لَكَ وَلاَ أُبَالِي

Hai anak Adam, seandainya dosa-dosamu telah mencapai awan di langit, kemudian engkau memohon ampun kepada-Ku, pasti Aku mengampuninya dan Aku tidak peduli.

يَا ابْنَ آدَم، إِنَّكَ لَو أَتَيْتَني بِقُرابٍ الأَرْضِ خَطَايا، ثُمَّ لَقِيْتَني لاَ تُشْرِكُ بِي شَيْئاً، لأَتَيْتُكَ بِقُرَابِهَا مَغْفِرَةً

Hai anak Adam, seandainya engkau datang pada-Ku dengan membawa dosa sepenuh bumi, kemudian engkau menemui-Ku dalam keadaan tidak menyekutukan-Ku, pastilah Aku akan mendatangimu dengan membawa ampunan sepenuh bumi pula.” (HR. Tirmidzi)

 

  1. Hendaknya seorang hamba selalu berada dalam keadaan takut dan harap.

Ya, takut akan siksa-Nya dan harap akan kasih sayang-Nya, sampai ia bertemu dengan-Nya.

Suatu hari Nabi ﷺ menjenguk seorang anak muda yang sedang sekarat, beliau bertanya:

كَيْفَ تَجِدُكَ؟

“Bagaimana engkau mendapati dirimu? ”

Ia menjawab:

أَرْجُو اللَّهَ يَا رَسُولَ اللَّهِ وَأَخَافُ ذُنُوبِي

“Aku sangat mengharapkan Allah, wahai Rasulullah! Dan aku takut akan dosa-dosaku.

Maka Nabi ﷺ bersabda:

لَا يَجْتَمِعَانِ فِي قَلْبِ عَبْدٍ فِي مِثْلِ هَذَا الْمَوْطِنِ، إِلَّا أَعْطَاهُ اللَّهُ مَا يَرْجُو، وَآمَنَهُ مِمَّا يَخَافُ

“Tidaklah berkumpul dua perkara tadi dalam hati seorang hamba di saat-saat seperti ini, melainkan Allah akan memberikan kepadanya apa yang ia harapkan, dan memberikan kepadanya rasa aman dari apa yang ia khawatirkan.” (HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah)

Siberut, 19 Dzulhijjah 1441

Abu Yahya Adiya

 

Sumber:

  1. Al-Mulakhkhash Fii Syarh Kitab At-Tauhid karya Syekh Saleh Al-Fauzan.
  2. Riyadhus Shalihin karya Imam An-Nawawi.