Merasa Aman dari Siksa Allah

Allah Ta’ala berfirman:

أَفَأَمِنَ أَهْلُ الْقُرَى أَنْ يَأْتِيَهُمْ بَأْسُنَا بَيَاتًا وَهُمْ نَائِمُونَ

“Maka apakah penduduk negeri itu merasa aman dari siksaan Kami yang datang di malam hari ketika mereka sedang tidur?

أَوَأَمِنَ أَهْلُ الْقُرَى أَنْ يَأْتِيَهُمْ بَأْسُنَا ضُحًى وَهُمْ يَلْعَبُونَ

Atau apakah penduduk negeri itu merasa aman dari siksaan Kami yang datang di  pagi hari ketika mereka sedang bermain?

أَفَأَمِنُوا مَكْرَ اللَّهِ فَلا يَأْمَنُ مَكْرَ اللَّهِ إِلا الْقَوْمُ الْخَاسِرُونَ

Maka apakah mereka merasa aman dari siksaan Allah (yang tidak terduga-duga)? Tidak ada yang merasa aman dari siksaan Allah kecuali orang-orang yang merugi.” (97-99)

 

Faidah yang bisa kita petik dari ayat-ayat ini:

 

  1. Siksa Allah tidak bisa ditebak dan dikira. Ia akan datang dengan tiba-tiba.

 

  1. Jika suatu umat sudah merasa aman dari siksa Allah, maka bersiap-siaplah menanti bencana.

 

  1. Haramnya sikap merasa aman dari siksa Allah.

Sikap merasa aman dari makar Allah adalah sikap yang buruk dan sangat buruk dan bisa menghasilkan berbagai perbuatan buruk.

Sebab, ketika seseorang sudah merasa aman dari makar Allah, ia sudah tidak segan lagi untuk melakukan dosa. Ia sudah tidak takut lagi berbuat maksiat. Sehingga akhirnya makin jauhlah ia dari rahmat Allah dan makin dekatlah ia kepada siksa Allah.

Kalau engkau hendak melakukan dosa apa pun, ingatlah, Tuhanmu melihatmu. Tuhanmu mendengarmu. Siksa-Nya bisa saja segera menghampirimu kalau engkau nekat melanggar aturan-Nya.

Karena itu, takutlah kepada-Nya. Takutlah akan siksa-Nya.

Ishaq bin Khalaf berkata:

لَيْسَ الْخَائِفُ مَنْ بَكَى وَعَصَرَ عَيْنَيْهِ، وَلَكِنَّ الْخَائِفَ مَنْ تَرَكَ الْأَمْرَ الَّذِي يَخَافُ أَنْ يُعَذَّبَ عَلَيْهِ.

“Orang yang takut bukanlah orang yang menangis dan memeras kedua matanya. Akan tetapi orang yang takut adalah orang yang meninggalkan perkara yang dikhawatirkan akan menyebabkan ia tersiksa.” (Al-Mujalasah wa Jawahir Al-‘Ilm)

Siberut, 18 Dzulhijjah 1441

Abu Yahya Adiya

 

Sumber:

  1. Al-Mulakhkhash Fii Syarh Kitab At-Tauhid karya Syekh Saleh Al-Fauzan.
  2. Aisar At-Tafasir Likalam Al-‘Aliyy Al-Kabir karya Syekh Abu Bakr Al-Jazairi.
  3. Al-Mujalasah wa Jawahir Al-‘Ilm karya Abu Bakr Ahmad Ad-Dainuri Al-Maliki.