Menjadi Penyayang, maka akan Disayang

Menjadi Penyayang, maka akan Disayang

Anak kecil itu terbaring dalam keadaan kritis. Ia pun dibawa ke hadapan kakeknya dalam keadaan nafasnya tersengal-sengal dan tidak beraturan. Maka, melelehlah air mata si kakek.

Sa’d bin Ubadah yang menyaksikan pemandangan yang memilukan itu terkejut lalu bertanya:

مَا هَذَا؟ يَا رَسُولَ اللَّهِ!

“Apa ini, wahai Rasulullah?”

Beliau ﷺ pun menjawab:

هَذِهِ رَحْمَةٌ جَعَلَهَا اللَّهُ فِي قُلُوبِ عِبَادِهِ، وَإِنَّمَا يَرْحَمُ اللَّهُ ‌مِنْ ‌عِبَادِهِ ‌الرُّحَمَاءَ

“Ini adalah rahmat yang Allah letakkan dalam hati hamba-hamba-Nya. Sesungguhnya Allah hanya menyayangi hamba-hamba-Nya yang penyayang.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Itulah tangisan kasih sayang dari seorang utusan-Nya, bukan tangisan penentangan terhadap keputusan-Nya, karena Dia menyayangi hamba-Nya yang penyayang. Maka, sudah sepantasnya, seorang muslim menjadi sosok yang penyayang.

Nabi ﷺ bersabda:

‌من ‌لَا ‌يَرْحَمْ ‌النَّاسَ ‌لَا ‌يَرْحَمْهُ ‌اللَّهُ

“Siapa yang tidak menyayangi manusia, maka Allah tidak akan menyayanginya.” (HR. Muslim)

Ada orang yang hatinya keras tak tersentuh sedikit pun saat menyaksikan penderitaan orang lain. Bahkan, ada yang tega menyiksa, menyakiti, dan melukai, tanpa rasa kasihan sama sekali. Orang seperti itu harus waspada. Sebab, kasih sayang-Nya tidak akan singgah pada dirinya.

Lantas, adakah orang yang tidak membutuhkan kasih sayang-Nya?

Syekh ’Abdurrahmān As-Sa’dī berkata:

والعبد في غاية الضرورة والافتقار إلى رحمة الله، لا يستغني عنها طرفة عين، وكل ما هو فيه من النعم واندفاع النقم، من رحمة الله

“Seorang hamba sangat membutuhkan dan bergantung pada kasih sayang Allah. Ia tidak bisa lepas darinya walaupun sekejap mata. Segala nikmat yang ada padanya dan segala musibah yang tertolak darinya adalah termasuk kasih sayang Allah.” (Bahjah Qulūb Al-Abrār wa Qurratu ‘Uyūn Al-Akhyār fī Syarh Jawāmi‘ Al-Akhbār)

Kalau memang segala nikmat yang ia rasakan dan segala musibah yang dapat ia hindari merupakan hasil dari kasih sayang-Nya, maka bagaimana ia bisa mempertahankannya?

Syekh ’Abdurrahmān As-Sa’dī berkata:

فمتى أراد أن يستبقيها ويستزيد منها، فليعمل جميع الأسباب التي تنال بها رحمته

“Apabila ia ingin mempertahankannya dan menambahnya, maka hendaknya ia mengerjakan semua sebab yang dengannya tergapai kasih sayang-Nya.” (Bahjah Qulūb Al-Abrār wa Qurratu ‘Uyūn Al-Akhyār fī Syarh Jawāmi‘ Al-Akhbār)

Siapa yang ingin senantiasa mendapatkan kebaikan dan terhindar dari keburukan, maka hendaknya ia melakukan apa yang bisa mengundang kasih sayang-Nya, di antaranya dengan menyayangi hamba-hamba-Nya.

Syekh ’Abdurrahmān As-Sa’dī berkata:

فرحمة العبد للخلق من أكبر الأسباب التي تنال بها رحمة الله، التي من آثارها خيرات الدنيا، وخيرات الآخرة، وفقدها من أكبر القواطع والموانع لرحمة الله،

“Kasih sayang seorang hamba kepada makhluk termasuk sebab terbesar yang dengannya tergapai kasih sayang Allah. Dari kasih sayang tersebut muncullah kebaikan dunia dan kebaikan akhirat. Sedangkan kehilangan kasih sayang pada dirinya itu termasuk sebab terbesar yang memutus dan menghalangi kasih sayang Allah.” (Bahjah Qulūb Al-Abrār wa Qurratu ‘Uyūn Al-Akhyār fī Syarh Jawāmi‘ Al-Akhbār)

Maka, jadilah penyayang, niscaya engkau disayangi oleh Yang Maha Penyayang.

Nabi ﷺ bersabda:

‌الرّاحِمُونَ يَرْحَمُهُمُ الرحمنُ، ارْحَمُوا من في الأرْضِ، يَرْحَمْكُمْ من في السَّمَاءِ

“Para penyayang itu disayangi oleh Yang Maha Penyayang. Sayangilah yang ada di bumi, niscaya kalian disayangi oleh Yang ada di atas langit.” (HR. Abū Dāwūd dan Tirmiżī)

 

Siberut, 14 Rabī’ul Ṡāni 1447

Abu Yahya Adiya