“Tidak ada yang berputus asa dari rahmat Tuhannya kecuali orang-orang yang sesat.” (QS. Al Hijr: 56)
Ayat ini menunjukkan bahwa berputus asa dari rahmat Allah adalah sikap yang tercela dan tidak terpuji. Itu merupakan dosa besar yang harus kita jauhi.
Nabi ﷺ ditanya tentang dosa-dosa besar, maka beliau menjawab:
الشِّرْكُ بِاللهِ، وَالْيَأْسُ مِنْ رَوْحِ اللهِ وَالْأَمْنُ مِنْ مَكْرِ اللهِ
“Syirik kepada Allah, berputus asa dari rahmat Allah, dan merasa aman dari makar Allah.” (Al-Jami’ Ash-Shaghir)
Karena itu, kita dilarang berputus asa dari rahmat Allah. Kita diharamkan berputus asa dari rezeki-Nya.
Tidak boleh kita berputus asa dari kebaikan-Nya. Tidak boleh kita berputus asa dari pemberian-Nya.
Itu berputus asa dari rahmat Allah, rezeki-Nya, kebaikan-Nya, dan pemberian-Nya. Lantas bagaimana dengan berputus asa dari kebaikan manusia atau pemberiannya?
Nabi ﷺ bersabda:
وَأْيَسْ مِمَّا فِي أَيْدِي النَّاسِ تَكُنْ غَنِيًّا
“Berputus asalah dari apa yang ada di tangan manusia, niscaya engkau kaya.” (HR. Ath-Thabrani)
Berputus asalah dari jabatan orang lain. Berputus asalah dari harta orang lain. Berputus asalah dari penghargaan orang lain.
Jangan mengharapkan kedudukan di tengah-tengah mereka. Jangan mengharapkan kekayaan yang ada di tangan mereka. Jangan mengharapkan penghormatan dari mereka!
Merasa cukuplah dengan apa yang Allah berikan kepadamu, niscaya engkau kaya dan mulia.
Dan itulah yang dikabarkan oleh Jibril kepada nabi kita.
Jibril berkata:
يَا مُحَمَّدُ شَرَفُ الْمُؤْمِنِ قِيَامُ اللَّيْلِ وَعِزُّهُ اسْتِغْنَاؤُهُ عَنِ النَّاسِ
“Wahai Muhammad, kehormatan seorang mukmin yaitu melaksanakan salat malam dan kemuliaannya yaitu merasa cukup dari orang lain.” (HR. Al-Hakim)
Ya, merasa cukup dari orang lain. Merasa cukup dengan apa yang Allah berikan, dan merasa tidak membutuhkan apa yang dimiliki orang lain.
Itulah yang membuat seseorang kaya, mulia, dan merdeka.
Abu Ja’far berkata:
عَن أَبِي جعفر قَالَ اليأس عما في أيدي الناس عز
“Berputus asa dari apa yang ada di tangan manusia adalah mulia.” (Raudhah Al-‘Uqala wa Nuzhah Al-Fudhala)
Sa’d bin ‘Umarah berkata kepada putranya:
يا بني أظهر اليأس فإنه غنى وإياك والطمع فإنه فقر حاضر
“Wahai putraku, tampakkanlah sikap putus asa, karena sesungguhnya itu merupakan kekayaan. Hati-hatilah engkau dari kerakusan, karena sesungguhnya itu merupakan kemiskinan yang segera datang.” (Raudhah Al-‘Uqala wa Nuzhah Al-Fudhala)
Imam Ibnu Hibban berkata:
ومن أحب أن يكون حرا فلا يهوى مَا ليس له
“Siapa yang ingin merdeka, maka hendaknya ia tidak menginginkan apa yang bukan miliknya.”
Mengapa demikian?
Beliau menjelaskan:
لأن الطمع فقر كما أن اليأس غنى ومن طمع ذل وخضع كما أن من قنع عف واستغنى
“Sebab, kerakusan itu merupakan kemiskinan, sebagaimana putus asa dari apa yang tidak dimiliki itu merupakan kekayaan. Siapa yang rakus, maka ia akan rendah dan hina, sebagaimana siapa yang merasa cukup, maka ia akan terhormat dan merasa kaya.” (Raudhah Al-‘Uqala wa Nuzhah Al-Fudhala)
Kalau demikian, berputus asa dari pemberian Allah adalah tercela, sedangkan berputus asa dari pemberian manusia adalah terpuji dan tidak tercela.
Siberut, 8 Syawwal 1446
Abu Yahya Adiya






