Sambutan Nabi ﷺ terhadap Penuntut Ilmu

“Selamat datang wahai penuntut ilmu.”

Itulah sambutan istimewa yang diberikan nabi kita kepada Shafwan bin ‘Assal.

Suatu hari Shafwan bin ‘Assal mendatangi Rasulullah ﷺ lalu berkata:

يا رسول الله! إني جئت أطلب العلم

“Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku datang untuk menuntut ilmu.”

Maka beliau ﷺ pun menjawab:

مرحباً بطالب العلم؛ إن طالب العلم تحفُّه الملائكةُ بأجنحتها، ثم يركبُ بعضُهم بعضاً حتى يبلغوا السماءَ الدنيا من محبتهم لما يطلب

“Selamat datang wahai penuntut ilmu, sesungguhnya para malaikat menaungi penuntut ilmu dengan sayap-sayap mereka, kemudian mereka saling bertumpuk hingga ke langit dunia karena kecintaan mereka kepada apa yang ia cari.” (HR. Ahmad dan lain-lain)

Hadis ini menunjukkan keutamaan menuntut ilmu agama.

Orang yang mempelajarinya akan dinaungi dan dihormati para malaikat.

Nah, kalau kita dihormati presiden saja sudah senang, apalagi oleh para malaikat!

Lantas, kenapa para malaikat menghormati dan mencintai penuntut ilmu?

Nabi ﷺ bersabda:

طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ

“Menuntut ilmu adalah kewajiban bagi setiap muslim.” (HR. Ibnu Majah)

Orang yang mencari ilmu adalah orang yang sedang menjalankan kewajibannya. Sedangkan menjalankan kewajiban itu lebih dicintai Allah dibandingkan menjalankan perkara yang tidak wajib.

Allah berfirman dalam hadis qudsi:

وَمَا تَقَرَّبَ إِلَيَّ عَبْدِي بِشَيْءٍ أَحَبَّ إِلَيَّ مِمَّا افْتَرَضْتُ عَلَيْهِ

“Tidaklah hamba-Ku mendekatkan diri kepada-Ku dengan sesuatu yang lebih Kucintai daripada menjalankan kewajiban yang Kuberikan kepadanya.” (HR. Bukhari)

Allah mencintai hamba-Nya yang mengerjakan kewajiban yang Dia berikan. Sedangkan menuntut ilmu adalah kewajiban, berarti orang yang menuntut ilmu itu dicintai Allah. Dan kalau Allah sudah mencintai seorang hamba, maka Dia sediakan balasan yang istimewa untuknya di sisi-Nya.

Nabi ﷺ bersabda:

مَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَبْتَغِي فِيهِ عِلْمًا سَلَكَ اللَّهُ بِهِ طَرِيقًا إِلَى الجَنَّةِ

“Siapa yang menempuh suatu jalan dalam rangka mencari ilmu, maka Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga.” (HR. Muslim)

Ya, Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga.

Kalau suatu ibadah bisa mengantarkan ke surga, berarti itu bukan ibadah yang biasa. Itu ibadah yang istimewa dan mulia.

Saking istimewanya dan mulianya mempelajari agama, sampai-sampai para pendahulu kita lebih mendahulukan itu daripada ibadah yang sunnah.

Abu Hurairah berkata:

لَأَنْ أَجْلِسَ سَاعَةً فَأَفْقَهُ فِي دِينِي أَحَبُّ إِلَيَّ مِنْ أَنْ أُحْيِيَ لَيْلَةً إِلَى الصَّبَاحِ

“Sungguh, seandainya aku duduk sesaat untuk mendalami agamaku, itu lebih kusukai daripada menghidupkan malam dengan salat sampai pagi hari.” (Jami Bayan Al-‘Ilmi Wa Fadhlihi)

Abu Ad-Darda berkata:

لَأَنْ أَذْكُرَ الْفِقْهَ سَاعَةً أَحَبُّ إِلَيَّ مِنْ قِيَامِ لَيْلَةٍ

“Sungguh, seandainya kupelajari fikih sesaat saja, itu lebih kusukai daripada salat semalam suntuk.” (Al-Faqih wa Al-Mutafaqqih)

Berarti, mempelajari agama lebih mulia daripada melaksanakan ibadah yang sunnah.

Kenapa demikian?

Sebab, manfaat dari ilmu agama akan dirasakan oleh orang yang mempelajarinya, keluarganya, dan orang lain selain dirinya. Sedangkan manfaat dari salat sunnah hanya akan dirasakan oleh pelakunya saja.

Maka, alangkah mulianya ilmu agama. Dan alangkah mulianya orang yang mempelajari ilmu agama. Karena itu, marilah kita menjadi orang-orang yang mulia dengan bersemangat mempelajari ilmu agama.

 

Siberut, 3 Sya’ban 1442

Abu Yahya Adiya