- Apa hukum memberi wasiat berupa harta tertentu?
Nabi ﷺ bersabda:
مَا حَقُّ امْرِئٍ مُسْلِمٍ، لَهُ شَيْءٌ يُوصِي فِيهِ، يَبِيتُ لَيْلَتَيْنِ إِلَّا وَوَصِيَّتُهُ مَكْتُوبَةٌ عِنْدَهُ
“Tidak pantas bagi seorang muslim yang mempunyai suatu yang akan ia wasiatkan, untuk melewati dua malam, kecuali wasiatnya sudah tertulis di sisinya.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Mayoritas ulama berpendapat bahwa wasiat di sini tidak wajib. Adapun ‘Aṭā, Az-Zuhrī, Abū Mijlaz, dan lain-lain berpendapat bahwa hukum wasiat di sini wajib. Mereka berdalil dengan hadis ini dan juga ayat:
كُتِبَ عَلَيْكُمْ إِذَا حَضَرَ أَحَدَكُمُ الْمَوْتُ إِنْ تَرَكَ خَيْراً الْوَصِيَّةُ لِلْوَالِدَيْنِ وَالْأَقْرَبِينَ بِالْمَعْرُوفِ حَقّاً عَلَى الْمُتَّقِينَ
“Diwajibkan atas kalian, bila maut hendak menjemput seseorang di antara kalian, jika ia meninggalkan harta, berwasiat untuk kedua orang tua dan karib kerabat dengan cara yang makruf, sebagai kewajiban bagi orang-orang yang bertakwa.” (Al-Baqarah: 180)
Syekh Muhammad bin Sāleh Al-‘Uṡaimīn berkata:
فأكثر العلماء على أنه منسوخ؛ ولكن القول الراجح أنه ليس بمنسوخ؛ لإمكان التخصيص؛ فيقال: إن قوله تعالى: {للوالدين والأقربين} مخصوص بما إذا كانوا وارثين؛ بمعنى أنهم إذا كانوا وارثين فلا وصية لهم اكتفاءً لما فرضه الله لهم من المواريث؛ وتبقى الآية على عمومها فيمن سوى الوارث.
“Kebanyakan ulama berpendapat bahwa ayat ini mansukh. Namun, pendapat yang kuat bahwa ayat ini tidak mansukh, karena mungkin untuk dikhususkan. Dikatakan bahwa firman-Nya: ‘untuk kedua orang tua dan karib kerabat’ dikecualikan jika mereka termasuk ahli waris. Artinya, jika mereka termasuk ahli waris, maka tidak ada wasiat untuk mereka karena cukup dengan warisan yang Allah tentukan bagi mereka dan ayat ini tetap dalam keumumannya yakni bagi yang tidak termasuk ahli waris.” (Tafsīr Al-Fātiḥah wa Al-Baqarah)
- Bolehkah memberikan wasiat berupa harta tertentu kepada ahli waris?
Nabi ﷺ bersabda:
إِنَّ اللَّهَ قَدْ أَعْطَى كُلَّ ذِي حَقٍّ حَقَّهُ، فَلَا وَصِيَّةَ لِوَارِثٍ
“Sesungguhnya Allah telah memberi hak kepada setiap pemiliknya. Maka tidak ada wasiat untuk ahli waris.” (HR. Aḥmad, Nasā’i dan Ibnu Mājah).
Imam Mālik berkata:
السُّنَّةُ الثَّابِتَةُ عِنْدَنَا الَّتِي لَا اخْتِلَافَ فِيهَا: أَنَّهُ لَا يجُوزُ للِوَارِثٍ وَصِيَّةٌ، إِلَاّ أَنْ يُجِيزَوا وَرَثَةُ الْمَيِّتِ ذَلِكَ
“Sunnah yang telah tetap menurut kami yang tidak ada padanya perbedaan pendapat yakni tidak boleh memberikan wasiat kepada ahli waris kecuali kalau para ahli waris mengizinkan demikian.” (Al-Muwaṭṭa’)
- Bolehkah memberikan wasiat berupa harta dengan jumlah lebih dari sepertiganya?
Ketika sakit keras, Sa‘ad bin Abī Waqqāṣ berkata kepada Nabi ﷺ:
أَفأَتصَدَّق بثُلُثَىْ مالِي؟
“Apakah boleh kusedekahkan dua pertiga hartaku?”
Nabi ﷺ menjawab:
لا
“Tidak.”
Sa‘ad bertanya lagi:
فالشَّطُر؟
“Bagaimana kalau setengah dari hartaku?”
Nabi ﷺ kembali menjawab:
لا
“Tidak.”
Sa‘ad kembali bertanya:
الثُّلُثُ؟
“Bagaimana kalau sepertiga?”
Nabi ﷺ pun menjawab:
الثُّلُثُ كَبِيرٌ
“Sepertiga itu sudah besar jumlahnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Syekh Muhammad bin Saleh Al-‘Utsaimin berkata:
وعلى هذا فلا يزاد في الوصية على ثلث المال؛ فتكون الآية مقيدة بالحديث.
“Karena itu, dalam wasiat tidak boleh melebihi sepertiga harta, makanya ayat tadi dibatasi oleh hadis tadi.” (Tafsīr Al-Fātiḥah wa Al-Baqarah)
Al-‘Allāmah Ṣiddīq Ḥasan Khān berkata:
وقد ذهب الجمهور إلى المنع من الزيادة على الثلث، ولو لم يكن للموصي وارث. وجوز الزيادة مع عدم الوارث: الحنفية، وإسحاق، وشريك، وأحمد في رواية، وهو قول علي، وابن مسعود. واحتجوا بأن الوصية مطلقة في الآية، فقيدتها السنة بمن له وارث، فبقي من لا وارث له على الإطلاق.
“Mayoritas ulama berpendapat terlarangnya mewasiatkan sepertiga harta, meskipun pewasiat tidak memiliki ahli waris. Namun, Ḥanafiyyah, Ishāq, Syarīk, Aḥmad dalam salah satu riwayatnya, dan itu pendapat ‘Ali dan Ibnu Mas‘ūd membolehkan wasiat melebihi sepertiga harta. Mereka berdalil bahwa wasiat itu mutlak dalam ayat, tetapi Sunnah membatasinya untuk orang yang mempunyai ahli waris, sehingga wasiat bagi orang yang tidak mempunyai ahli waris tetap bersifat mutlak.” (Ar-Rauḍah An-Naddiyyah)
- Apa hukum memberikan wasiat yang bertujuan untuk membahayakan?
Allah berfirman:
فَمَنْ خَافَ مِنْ مُوصٍ جَنَفاً أَوْ إِثْماً فَأَصْلَحَ بَيْنَهُمْ فَلا إِثْمَ عَلَيْهِ إِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ
“Siapa yang khawatir bahwa pemberi wasiat berlaku berat sebelah atau berbuat salah, lalu ia melakukan perbaikan antara mereka, maka ia tidak berdosa. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Al-Baqarah: 182)
Ibnu ‘Abbās mengomentari ayat ini:
الجَنَف فِي الْوَصِيَّةِ وَالْإِضْرَارُ فِيهَا مِنَ الْكَبَائِرِ.
“Berlaku berat sebelah dan membahayakan dalam berwasiat termasuk dosa besar.” (Sunan Sa‘īd bin Manṣūr)
Al-‘Allāmah Ṣiddīq Ḥasan Khān berkata:
وقد روى جماعة من الأئمة الإجماع على بطلان وصية الضرار. والحاصل: أن وصية الضرار ممنوعة بالكتاب السنة.
“Sejumlah ulama meriwayatkan adanya ijmak tentang batilnya wasiat yang bertujuan untuk membahayakan. Walhasil, wasiat yang bertujuan untuk membahayakan itu terlarang berdasarkan Al-Quran dan As-Sunnah.” (Ar-Rauḍah An-Naddiyyah)
Lalu beliau menyebutkan contoh memberikan wasiat yang bertujuan untuk membahayakan:
ومن جملة أنواع الضرار: تفضيل بعض الورثة على بعض؛ فإن النبي ﷺ سمى ذلك جورا؛ كما في حديث النعمان بن بشير الصحيح. ومن جملتها: أن تكون لإخراج المال مضارة للورثة؛ فإن من أوصى بماله؛ أو جزء منه لقربة من القرب؛ مريدا بذلك إحرام الورثة جميع ميراثهم أو بعضه؛ فوصيته باطلة؛ لأنه مضار.
“Dan termasuk macam wasiat untuk membahayakan yaitu melebihkan sebagian ahli waris di atas sebagian yang lain. Karena sesungguhnya Nabi ﷺ menyebut itu dengan kezaliman, sebagaimana ada dalam hadis Nu‘man bin Basyīr yang sahih. Dan termasuk macam wasiat tersebut yaitu mengeluarkan harta untuk membahayakan ahli waris. Karena sesungguhnya siapa yang mewasiatkan harta atau bagian darinya untuk amalan yang mendekatkan kepada Allah karena ingin menghalangi ahli waris dari semua warisan atau sebagiannya, maka wasiat tersebut batil, karena membahayakan.” (Ar-Rauḍah An-Naddiyyah)
- Apakah boleh memberikan wasiat untuk maksiat?
Nabi ﷺ bersabda:
إنَّ اللَّهَ تصدَّقَ عليْكُم، عندَ وفاتِكُم بثلثِ أموالِكُم، زيادةً لَكم في أعمالِكُم
“Sesungguhnya Allah telah bersedekah kepada kalian dengan sepertiga harta kalian tatkala kalian wafat, sebagai tambahan bagi amal kalian.” (HR. Ibnu Mājah).
Setelah menyebutkan hadis ini dan hadis-hadis yang serupa dengannya, Al-‘Allāmah Ṣiddīq Ḥasan Khān berkata:
وقد دلت على أن الإذن بالوصية بالثلث إنما هو لزيادة الحسنات، والوصية في المعصية معصية؛ قد نهى الله عباده عن معاصيه في كتابه وعلى لسان رسوله ﷺ
“Hadis-hadis ini menunjukkan bahwa pemberian izin untuk mewasiatkan sepertiga harta hanyalah untuk menambah kebaikan. Adapun wasiat untuk maksiat adalah maksiat. Allah telah melarang hamba-hamba-Nya bermaksiat kepada-Nya dalam kitab-Nya dan lewat lisan rasul-Nya ﷺ.” (Ar-Rauḍah An-Naddiyyah)
- Apa yang perlu didahulukan: hutang atau memberi wasiat?
Sa‘ad bin Al-Aṭwāl berkata:
مَاتَ أَخِي وَتَرَكَ ثَلَاثَ مِئَةِ دِينَارٍ، وَتَرَكَ وَلَدًا صِغَارًا، فَأَرَدْتُ أَنْ أُنْفِقَ عَلَيْهِمْ، فَقَالَ لِي رَسُولُ اللهِ ﷺ:
“Saudaraku meninggal dalam keadaan meninggalkan hutang sebanyak tiga ratus dinar dan seorang anak kecil. Aku pun ingin menginfakkan harta untuk mereka. lalu Rasulullah ﷺ bersabda kepadaku:
إِنَّ أَخَاكَ مَحْبُوسٌ بِدَيْنِهِ، فَاذْهَبْ، فَاقْضِ عَنْهُ
“Saudaramu tertahan karena hutangnya. Karena itu, pergilah dan bayarlah untuknya!”
Sa‘ad bin Al-Aṭwāl berkata:
قَالَ: فَذَهَبْتُ، فَقَضَيْتُ عَنْهُ، ثُمَّ جِئْتُ، فَقُلْتُ:
“Aku pun pergi untuk membayarnya, kemudian kembali dan berkata:
يَا رَسُولَ اللهِ، قَدْ قَضَيْتُ عَنْهُ، وَلَمْ يَبْقَ إِلَّا امْرَأَةً تَدَّعِي دِينَارَيْنِ، وَلَيْسَتْ لَهَا بَيِّنَةٌ
“Wahai Rasulullah, aku telah membayarnya dan tidak tersisa kecuali seorang wanita yang mengaku berhak atas dua dinar, tetapi ia tidak mempunyai bukti.”
Nabi pun ﷺ bersabda:
أَعْطِهَا، فَإِنَّهَا صَادِقَةٌ
“Berikanlah itu kepadanya, karena sesungguhnya ia jujur.” (HR. Ahmad)
- Jika seseorang meninggal dalam keadaan tidak menyisakan harta yang cukup untuk membayar hutangnya.
Al-‘Allāmah Ṣiddīq Ḥasan Khān berkata:
ومن لم يترك ما يقضي دينه؛ قضاه السلطان من بيت المال؛ لحديث أبي هريرة في ” الصحيحين “، وغيرهما: أنه ﷺ قال في خطبته:
“Siapa yang tidak meninggalkan sesuatu yang bisa untuk membayar hutangnya, maka penguasalah yang membayarnya dari baitulmal, berdasarkan hadis Abu Hurairah dalam Shahih Bukhari dan Muslim serta selain keduanya bahwa Nabi ﷺ berkata dalam khutbahnya:
من خلف مالا أو حقا فلورثته، ومن خلف كلا أو دينا؛ فكله إلي ودينه علي
“Siapa yang meninggalkan harta atau hak, maka itu milik ahli warisnya. Namun, siapa yang meninggalkan tanggungan atau hutang, maka serahkan itu kepadaku dan hutangnya menjadi tanggunganku.” (Ar-Rauḍah An-Naddiyyah)
- Wasiat yang wajib hanya berlaku bagi orang yang meninggalkan harta yang banyak. Adapun orang yang meninggalkan harta yang sedikit, maka yang lebih utama baginya tidak memberikan wasiat jika ia memiliki ahli waris.
Syekh Muhammad bin Saleh Al-‘Utsaimin menjelaskan hadis Sa’ad tadi:
ومن فوائد هذا الحديث أنه: إذا كان مال الإنسان قليلاً، وكان ورثته فقراء؛ فالأفضل أن لا يوصي بشيء، لا قليل، ولا كثير؛ لقوله عليه الصلاة والسلام:
“Di antara faidah hadis ini yaitu jika harta seseorang sedikit, sedangkan ahli warisnya miskin, maka yang lebih utama ia tidak mewasiatkan apa pun, baik sedikit maupun banyak. Itu berdasarkan sabda Nabi ﷺ:
((إنك إن تذر ورثتك أغنياء خير من أن تذرهم عالة))
“Sungguh, jika engkau meninggalkan ahli warismu dalam keadaan kaya, itu lebih baik daripada engkau meninggalkan mereka dalam keadaan miskin.”
خلافاً لما يظنه بعض العوام أنه لابد من الوصية، فهذا خطأ، والإنسان الذي ماله قليل وورثته فقراء ليس عندهم مال، لا ينبغي له أن يوصي، الأفضل أن لا يوصي.
Berbeda dengan anggapan sebagian orang awam yakni mesti memberikan wasiat. Itu keliru. Orang yang hartanya sedikit sedangkan ahli warisnya miskin dan tidak mempunyai harta, tidak sepantasnya ia memberikan wasiat. Yang lebih utama baginya yaitu tidak memberikan wasiat.” (Syarh Riyadhush Shalihin)
28 Dzulhijjah 1446
Abu Yahya Adiya






