Seandainya Agama dengan Perasaan

Seandainya Agama dengan Perasaan

Tiga orang mendatangi rumah isteri-isteri Nabi untuk bertanya tentang ibadah Nabi ﷺ. Setelah diberitahu, seakan-akan mereka menganggap sedikit ibadah Nabi ﷺ.

Mereka pun berkata:

وَأَيْنَ نَحْنُ مِنَ النَّبِيِّ ﷺ؟ قَدْ غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ وَمَا تَأَخَّرَ

“Di mana kita dibandingkan Nabi ﷺ? Beliau sudah diampuni dosa-dosanya yang telah lalu dan yang akan datang!”

Salah seorang dari mereka berkata:

أَمَّا أَنَا فَإِنِّي أُصَلِّي اللَّيْلَ أَبَدًا

“Adapun aku, maka sungguh, aku akan melaksanakan salat malam selama-lamanya!”

Kemudian yang lain berkata:

أَنَا أَصُومُ الدَّهْرَ وَلاَ أُفْطِرُ

“Adapun aku, maka sungguh, aku akan berpuasa terus-menerus dan tidak akan berbuka!”

Dan yang lain lagi berkata:

أَنَا أَعْتَزِلُ النِّسَاءَ فَلاَ أَتَزَوَّجُ أَبَدًا

“Aku akan menjauhi wanita dan tidak akan menikah selama-lamanya!”

Kemudian datanglah Nabi ﷺ kepada mereka seraya berkata:

أَنْتُمُ الَّذِينَ قُلْتُمْ كَذَا وَكَذَا، أَمَا وَاللَّهِ إِنِّي لَأَخْشَاكُمْ لِلَّهِ وَأَتْقَاكُمْ لَهُ، لَكِنِّي أَصُومُ وَأُفْطِرُ، وَأُصَلِّي وَأَرْقُدُ، وَأَتَزَوَّجُ النِّسَاءَ، فَمَنْ رَغِبَ عَنْ سُنَّتِي فَلَيْسَ مِنِّي

“Kalian yang berkata begini dan begitu? Sungguh, demi Allah, aku adalah orang yang paling takut kepada Allah dan paling bertakwa di antara kalian. Walaupun begitu, aku berpuasa dan aku juga berbuka. Aku melaksanakan salat dan aku juga tidur. Dan aku tetap menikahi wanita. Karena itu, siapa yang membenci sunnahku, maka ia bukan termasuk golonganku!” (HR. Bukhari dan Muslim)

Lihatlah 3 sahabat Nabi ﷺ tadi. Mereka ingin salat semalam suntuk, berpuasa setiap hari, dan tidak menikah, sebagai bentuk ibadah kepada-Nya. Namun, apakah itu diizinkan oleh Nabi-Nya?

Tidak, beliau justru melarangnya.

Indahnya niat mereka ternyata tidak cukup menjadikan amalan mereka diterima di sisi-Nya.

Anggapan baik perasaan mereka ternyata tidak cukup menjadikan amalan mereka diterima di sisi-Nya.

‘Ali bin Abi Thalib berkata:

لَوْ كَانَ الدِّينُ بِالرَّأْيِ لَكَانَ أَسْفَلُ الْخُفِّ أَوْلَى بِالْمَسْحِ مِنْ أَعْلَاهُ وَقَدْ رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ يَمْسَحُ عَلَى ظَاهِرِ خُفَّيْهِ

“Seandainya agama itu berdasarkan akal pikiran, niscaya bagian bawah khuf, lebih pantas diusap dibandingkan bagian atasnya. Namun, sungguh, aku telah melihat Rasulullah ﷺ mengusap bagian atas khufnya.” (HR. Abu Daud)

Seandainya agama berdasarkan pikiran, perkiraan, dan perasaan semata, tentu yang pantas diusap adalah bagian bawah khuf. Sebab, bagian itulah yang banyak menyentuh kotoran.  Namun kenyataannya, Nabi ﷺ hanya mengusap bagian atas khuf dan tidak pernah mengusap bagian bawahnya.

Itu menunjukkan bahwa beragama itu harus berdasarkan wahyu ilahi. Bukan semata-mata berdasarkan pikiran, perkiraan, dan perasaan pribadi.

 

Tatkala Perasaan Lebih Didahulukan

Syekh Muhammad bin Saleh Al-‘Utsaimin berkata:

وإني أقول وأكرر أمانة أبلغها لمن شاء الله: إن الدين ليس بالعاطفة، الدين حدود وتشريعات من الله عز وجل

“Sesungguhnya aku katakan dan aku ulangi sebagai bentuk amanah yang kusampaikan kepada siapa yang Allah kehendaki, sesungguhnya agama ini bukan berdasarkan perasaan. Agama ini adalah hukum dan pensyariatan dari Allah.

انظر عملك قبل أن تفعل ما تهوى نفسك، هل عملك مطابق للشريعة أم لا؟

Perhatikanlah amalanmu sebelum engkau melakukan apa yang diinginkan oleh dirimu: apakah amalanmu sesuai dengan syariat atau tidak?

إن كان مطابقاً للشريعة فذلك من فضل الله، فافعل ما تقتضيه الشريعة

Jika sesuai dengan syariat, maka itu termasuk karunia dari Allah. Lakukanlah apa yang dituntut oleh syariat.

لو كان الدين بالعاطفة لكان جميع أهل البدع على حق؛ لأن هذا هو الذي تمليه عليهم عاطفتهم

Seandainya agama ini dengan perasaan, tentu semua ahli bidah berada dalam kebenaran. Sebab, itulah yang diinginkan oleh perasaan mereka.

الصوفية يقولون: هذا أعلى رتب الإيمان

Kaum Sufi berkata tentang perbuatan mereka, ‘Ini adalah puncak keimanan.

والمعطلة لأسماء الله وصفاته يقولون: هذا أعلى رتب التنزيه

Kaum yang menolak nama dan sifat Allah berkata tentang perbuatan mereka, ‘Ini adalah puncak penyucian terhadap Allah.

والممثلة يقولون: هذا أعلى رتب الامتثال

Kaum yang menyerupakan Allah dengan makhluk berkata tentang perbuatan mereka, ‘Ini adalah puncak ketaatan.

وهلم جراً، لكن الدين شرع محدد من قبل الله ورسوله

Begitulah seterusnya. Namun, agama ini adalah syariat yang sudah ditentukan oleh Allah dan Rasul-Nya.

فإذا كان كذلك فليس كلما يروق لي ويدخل مخي ويتحلاه ذوقي يكون شرعاً، ليس بصحيح

Kalau begitu, tidak setiap yang menyentuh hatiku dan masuk ke otakku serta terasa manis oleh perasaanku adalah syariat. Itu tidak benar.” (Al-Liqa Asy-Syahri)

Seandainya agama berdasarkan perasaan semata, tentu tidak ada orang yang sesat di muka bumi ini. Sebab, semua orang yang sesat merasa tidak sesat. Karena, perasaan mereka menganggap baik kesesatan mereka.

Itu menunjukkan bahwa beragama itu harus berdasarkan wahyu ilahi. Bukan semata-mata berdasarkan pikiran, perkiraan, dan perasaan pribadi.

Karena itu, siapa yang beragama semata-mata berdasarkan perasaan, maka ia sudah terjerumus dalam kesesatan!

Imam Adz-Dzahabi berkata:

وَإِذَا رَأَيْتَ السَّالِكَ التَّوْحِيْدِيَّ يَقُوْلُ: دَعْنَا مِنَ النَّقْلِ وَمِنَ العَقْلِ وَهَاتِ الذَّوْقَ وَالوَجْدَ، فَاعْلَمْ أَنَّهُ إِبْلِيْسُ قَدْ ظَهَرَ بِصُوْرَةِ بَشَرٍ أَوْ قَدْ حَلَّ فِيْهِ

“Dan bila engkau melihat seorang pengikut suluk Tauhidi berkata, ‘Jauhkan kita dari dalil-dalil naqli dan dalil-dalil akal. Tunjukkan saja dalil perasaan!’, maka ketahuilah, ia adalah iblis yang telah menampakkan dirinya dalam rupa manusia atau telah menyatu ke dalam dirinya!

فَإِنْ جَبُنْتَ مِنْهُ، فَاهْرُبْ، وَإِلاَّ فَاصْرَعْهُ، وَابْرُكْ عَلَى صَدْرِهِ، وَاقْرَأْ عَلَيْهِ آيَةَ الكُرْسِيِّ، وَاخْنُقْهُ.

Kalau engkau takut, maka menjauhlah darinya. Kalau tidak, maka doronglah ia, dan dudukilah dadanya dan bacakanlah untuknya ayat Kursi, lalu cekiklah ia!” (Siyar A’lam An-Nubala)

 

Siberut, 20 Dzulqa’dah 1442

Abu Yahya Adiya