‘Umar bin ‘Abdul ‘Aziz sudah hafal Al-Quran ketika masih kecil.
Suatu hari ibunya mendengar kabar bahwa anaknya, yaitu ‘Umar bin ‘Abdul ‘Aziz menangis. Ibunya pun mengutus seseorang untuk menanyakan sebab tangisannya. ‘Umar pun menjawab:
ذَكَرْتُ المَوْتَ.
“Aku teringat mati.”
Setelah ucapannya itu sampai ke telinga ibunya, ibunya pun menangis. (Siyar A’lam An-Nubala)
Lihatlah, di saat anak kecil seusianya menangis karena tidak mendapat jajan, menangis karena tidak mendapat mainan, sedangkan Umar menangis karena teringat kematian!
Bagaimana bisa anak sekecil itu sudah berpikir seperti itu?
Apa rahasianya?
Buah itu jatuh tidak jauh dari pohonnya. Mungkin itulah ungkapan yang cocok bagi kasusnya.
Sebab, siapakah ayah ‘Umar bin ‘Abdul ‘Aziz?
Dialah ‘Abdul ‘Aziz bin Marwan bin Al-Hakam
Dan siapakah ‘Abdul ‘Aziz bin Marwan bin Al-Hakam?
Ternyata ia adalah sosok yang alim lagi saleh. Bukan sosok yang biasa, apalagi pendosa!
Karena itu, siapa yang menginginkan anak yang saleh, hendaknya ia terlebih dahulu menjadi orang yang saleh. Agar kesalehannya menurun pada anaknya.
Namun, apakah itu saja rahasia kesalehan ‘Umar bin ‘Abdul ‘Aziz?
Tidak. Ada lagi…
Dibotak karena Terlambat Salat
Ayah ‘Umar yaitu ‘Abdul ‘Aziz bin Marwan mengutus ‘Umar ke Madinah untuk belajar adab di sana. Abdul ‘Aziz pun menulis surat kepada Imam Saleh bin Kaisan, ulama Madinah, untuk mendidiknya.
Perhatikanlah, siapa yang mendidik ‘Umar?
Seorang ulama! Bukan orang biasa!
Maka, kalau kita menginginkan anak kita saleh, carilah guru yang berkualitas. Bukan “apa adanya”. Sebab, kualitas seorang guru menentukan kualitas anak kita.
Sesampainya di Madinah, Imam Saleh bin Kaisan mewajibkan ‘Umar bin ‘Abdul ‘Aziz untuk melaksanakan salat.
Suatu hari, ‘Umar terlambat salat. Maka Imam Saleh bertanya:
مَا حَبَسَكَ؟
“Apa yang menyebabkanmu terlambat?”
‘Umar menjawab:
كَانَتْ مُرَجِّلَتِي تُسَكِّنُ شَعْرِي.
“Tukang sisirku merapikan rambutku.”
Imam Saleh berkata:
بَلَغَ مِنْ تَسْكِيْنِ شَعْرِكَ أَنْ تُؤْثِرَهُ عَلَى الصَّلاَةِ.
“Menyisir rambutmu lebih engkau utamakan daripada salat?”
Imam Saleh pun menulis surat kepada ayahnya, ‘Abdul ‘Aziz bin Marwan, memberitahukan kejadian itu.
Maka ‘Abdul ‘Aziz pun mengutus seseorang kepada ‘Umar lalu membotaki kepalanya! (Siyar A’lam An-Nubala)
Lihatlah, ‘Abdul ‘Aziz bin Marwan tidak mendiamkan kesalahan anaknya!
Ia memberikan keputusan yang tegas terhadap anaknya!
Demikianlah kalau kita menginginkan anak yang saleh. Harus tegas dalam mendidik.
Jangan sampai karena rasa sayang kita kepada anak, akhirnya kita membiarkannya terus salah dan lalai.
‘Abdul ‘Aziz memberikan kepercayaan penuh kepada Imam Saleh bin Kaisan untuk mendidik anaknya. Dan Imam Saleh pun tidak menyia-nyiakan kepercayaan yang sudah diberikan kepadanya.
Hasilnya?
Di kemudian hari….
Siapa yang tidak kenal dengan ‘Umar bin ‘Abdul ‘Aziz?
Seorang pemimpin negara dan juga ulama.
Seorang yang saleh dan juga bijaksana.
Seorang ahli ibadah dan jauh dari kemewahan dunia.
Dialah khalifah yang alim, saleh, adil, dan bijaksana.
Imam Asy-Syafi’i berkata:
الخُلَفَاءُ خَمْسَةٌ: أَبُو بَكْرٍ، وَعُمَرُ،وَعُثْمَانُ، وَعَلِيٌّ، وَعُمَرُ بنُ عَبْدِ العَزِيْزِ.
“Khalifah itu ada 5: Abu Bakar, ‘Umar, ‘Utsman, ‘Ali dan ‘Umar bin ‘Abdul ‘Aziz.” (Siyar A’lam An-Nubala)
Lihatlah buah dari kerja sama antara orang tua yang saleh dengan guru yang saleh!
Karena itu, siapa yang menginginkan anak yang saleh, hendaknya ia bekerja sama dengan orang-orang yang mengajari anaknya.
Hargai mereka dan jangan lupakan jasa-jasa mereka.
Karena, lewat merekalah, seorang anak mengenal apa itu kebaikan, dan apa itu keburukan, apa itu adab yang baik dan apa itu adab yang buruk.
Kalau anak kita menjadi sosok yang saleh, maka ketahuilah, bisa jadi itu karena sebab keikhlasan gurunya dalam mengajarinya, dan bisa juga karena sebab gurunya selalu mendoakannya dalam kesendiriannya.
Nabi ﷺ bersabda:
مَنْ لَمْ يَشْكُرِ النَّاسَ، لَمْ يَشْكُرِ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ
“Siapa yang tidak bersyukur kepada manusia, maka ia tidak bersyukur kepada Allah. ” (HR. Ahmad)
Siberut, 25 Shafar 1442
Abu Yahya Adiya






