Anak kecil itu terus memerhatikan gerak-gerik ayahnya. Entah, sudah berapa banyak salat yang dilakukan oleh ayahnya.
Seusai salat, ayahnya menghampirinya lalu berkata:
لأزيدن في صلاتي من أجلك، رجاء أن أحفظ فيك
“Sungguh, akan kuperbanyak salat demi kebaikanmu, mudah-mudahan dengan itu engkau akan dijaga Allah.” (Rawai’ At-Tafsir)
Itulah perkataan Imam Sa’id bin Al-Musayyab, seorang ulama tabiin kepada putranya.
Seorang anak mudah meniru dan terpengaruh oleh apa yang ia rasakan dan ia lihat. Makanya, kondisi di dalam rumah sangat memengaruhi kejiwaan seorang anak.
Anak yang menyaksikan ibu dan ayahnya setiap hari beribadah, tentu hasilnya berbeda dengan anak yang selalu menyaksikan ibu dan ayahnya bermaksiat.
Seorang anak yang selalu menyaksikan ibu dan ayahnya menyenandungkan ayat-ayat Al-Quran, tentu hasilnya berbeda dengan anak yang selalu menyaksikan ibu dan ayahnya menyenandungkan nyanyian.
Seorang anak yang menyaksikan ayahnya selalu berkata baik dan jujur, tentu berbeda dengan anak yang menyaksikan ayahnya selalu berkata kotor dan sering bohong.
Seorang anak yang menyaksikan ibunya selalu menutup aurat di hadapan orang lain, tentu berbeda dengan anak yang selalu menyaksikan ibunya mengumbar aurat di hadapan orang lain.
Seorang anak yang selalu menyaksikan ibu ayahnya saling menyayangi dan harmonis, tentu berbeda dengan anak yang menyaksikan ibu ayahnya selalu cekcok dan bertengkar.
Maka, seperti apakah kelakuan kita di hadapan anak-anak kita?
Siberut, 3 Rabi’ul Tsani 1442
Abu Yahya Adiya






