Rabi’ah bin Ka’b Al-Aslami adalah anak kecil yang selalu membantu Nabi ﷺ. Ia selalu menyiapkan air wudu untuk beliau dan berbagai kebutuhan lainnya.
Suatu hari Nabi ﷺ bersabda kepadanya:
سَلْنِي أُعْطِكَ
“Mintalah sesuatu kepadaku, niscaya kan kuberi!”
Maka Rabi’ah pun berkata:
يَا رَسُولَ اللهِ، أَنْظِرْنِي أَنْظُرْ فِي أَمْرِي
“Wahai Rasulullah, berilah aku waktu untuk berpikir.”
Nabi ﷺ pun menjawab:
فَانْظُرْ فِي أَمْرِكَ
“Kalau begitu pikirkanlah!”
Ia pun berpikir dan berpikir. Setelah berpikir beberapa lama, ia pun mendapatkan apa yang ingin ia minta dari Nabi ﷺ. Ia pun mendatangi Nabi ﷺ lagi. Maka, beliau pun bertanya kepadanya:
مَا حَاجَتُكَ ؟
“Apa yang kamu inginkan?”
Rabi’ah menjawab:
أَسْأَلُكَ مُرَافَقَتَكَ فِي الْجَنَّة
“Aku meminta kepadamu agar bisa menemanimu di surga nanti!”
Jawaban yang mengejutkan!
Bagaimana mungkin anak sekecil itu mengucapkan perkataan seperti itu?!
Kenapa ia tidak meminta hadiah berupa makanan?
Mengapa ia tidak meminta kepada Nabi ﷺ sebuah mainan?
Sungguh, permintaan yang menakjubkan dan mengagumkan.
Nabi ﷺ bertanya kepadanya:
أَوْ غَيْرَ ذَلِك ؟
“Apa tidak ada permintaanmu selain itu?”
Rabi’ah menjawab:
هُوَ ذَاك
“Itu saja.”
Maka beliau ﷺ pun bersabda:
فَأَعِنِّي عَلَى نَفْسِكَ بِكَثْرَةِ السُّجُودِ
“Kalau begitu, bantulah aku mewujudkan cita-citamu dengan memperbanyak sujud!” (HR. Muslim, Ahmad dan lain-lain)
Anak ajaib!
Sangat berbeda dengan anak-anak yang seusia dengannya!
Kalau keinginan terbesar anak-anak lain adalah mendapatkan mainan, makanan, dan benda-benda remeh lainnya, tapi anak itu, keinginannya yang terbesar adalah surga, mendampingi nabinya yang tercinta!
Itulah akhlak mulia yang bernama ‘uluwwul himmah yaitu mempunyai semangat dan cita-cita yang tinggi dan mulia. Akhlak ini pula yang ditanamkan oleh Nabi ﷺ kepada para sahabatnya.
Beliau ﷺ pernah bersabda:
إِنَّ اللهَ تَعَالَى يُحِبُّ مَعَالِيَ الْأُمُورِ وَيَكْرَهُ سَفَاسِفَهَا
“Sesungguhnya Allah mencintai perkara-perkara yang tinggi dan membenci perkara-perkara yang rendah.” (HR. Baihaqi dalam Syu’ab Al-Iman)
Imam Ibnul Jauzi berkata:
مِنْ عَلاَمَةِ كَمَالِ الْعَقْلِ عُلُوُّ الْهِمَّةِ، وَالرَّاضِي بِالدُّوْنِ دَنِي
“Di antara tanda sempurnanya akal seseorang yaitu memiliki cita-cita yang tinggi dan mulia. Adapun orang yang rela dengan sesuatu yang rendah, berarti ia orang yang rendah.” (Shaid Al-Khaathir)
Ya, siapa yang rela dengan sesuatu yang rendah, berarti ia orang yang rendah dan tidak memiliki cita-cita yang tinggi.
Siapa yang bisa melaksanakan salat berjamaah di masjid, tapi memilih melaksanakannya di rumah, berarti ia orang yang tidak memiliki cita-cita yang tinggi.
Siapa yang mampu membaca Al-Quran setiap hari, tapi memilih membacanya hanya seminggu sekali, berarti ia orang yang tidak memiliki cita-cita yang tinggi.
Siapa yang sanggup berbuat baik kepada banyak orang, tapi hanya berbuat baik kepada satu atau dua orang, berarti ia orang yang tidak memiliki cita-cita yang tinggi.
Kita memohon kepada Allah kekuatan dan kemuliaan dan berlindung kepada-Nya dari kelemahan dan kerendahan.
Siberut, 22 Juli 2016
Abu Yahya Adiya






