Istrinya sudah mempermalukannya, tapi tidak juga ia menceraikannya. Bahkan, meluncur dari lisannya:
“Saya rela diperlakukan apa saja oleh istri saya, walaupun dianggap jadi pembantunya. Yang penting, dia jangan berpisah dengan saya!”
Itulah ungkapan seorang suami ketika mengadukan permasalahan rumah tangganya.
Walaupun berkali-kali istrinya melakukan kesalahan yang fatal, ia tetap ingin mempertahankannya.
Ia sangat mencintai istrinya. Namun sayangnya, istrinya tidak mencintainya, bahkan ingin berpisah dengannya.
Masih wajarkah cinta si suami? Atau itu sudah tidak wajar lagi?
Cinta yang Harus Diutamakan
Allah berfirman:
وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَتَّخِذُ مِنْ دُونِ اللَّهِ أَنْدَاداً يُحِبُّونَهُمْ كَحُبِّ اللَّهِ وَالَّذِينَ آمَنُوا أَشَدُّ حُبّاً لِلَّه
“Di antara manusia ada yang membuat tuhan-tuhan tandingan selain Allah, mereka mencintainya sebagaimana mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman lebih besar cinta mereka kepada Allah.” (QS. Al Baqarah:165)
Lihatlah, Allah menganggap orang yang menyamakan diri-Nya dengan selain-Nya dalam hal kecintaan sebagai musyrik dan membuat tandingan bagi-Nya.
Maka, apakah pantas kita mencintai seseorang seperti halnya kita mencintai Allah?
Allah berfirman:
قُلْ إِنْ كَانَ آبَاؤُكُمْ وَأَبْنَاؤُكُمْ وَإِخْوَانُكُمْ وَأَزْوَاجُكُمْ وَعَشِيرَتُكُمْ وَأَمْوَالٌ اقْتَرَفْتُمُوهَا وَتِجَارَةٌ تَخْشَوْنَ كَسَادَهَا وَمَسَاكِنُ تَرْضَوْنَهَا أَحَبَّ إِلَيْكُمْ مِنَ اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَجِهَادٍ فِي سَبِيلِهِ فَتَرَبَّصُوا حَتَّى يَأْتِيَ اللَّهُ بِأَمْرِهِ وَاللَّهُ لا يَهْدِي الْقَوْمَ الْفَاسِقِينَ
“Katakanlah, ‘Jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, istri-istri, kaum keluarga, harta kekayaan yang kalian usahakan, perniagaan yang kalian khawatirkan kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kalian sukai, lebih kalian cintai daripada Allah dan Rasul-Nya dan (dari) berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya.’ Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang fasik.” (QS. At-Taubah: 24)
Perhatikanlah, ayah, anak, saudara, istri, keluarga, harta, niaga, rumah.
Kalau semua itu lebih dicintai daripada Allah dan Rasul-Nya…
Dan kalau semua itu lebih disukai daripada menjalankan perintah Allah dan Rasul-Nya, maka…
tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya!
Karena itu, apakah pantas cinta kita kepada seseorang melebihi cinta kita kepada Allah dan Rasul-Nya?
Nabi ﷺ bersabda:
لاَ يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى أَكُونَ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ وَلَدِهِ وَوَالِدِهِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ
“Tidak beriman salah seorang dari kalian hingga aku lebih ia cintai daripada anaknya, orang tuanya, dan seluruh manusia.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Jelaslah bahwa cinta kepada-Nya lah yang harus diprioritaskan dan direalisasikan dengan perkataan dan perbuatan.
Cinta yang Membawa Kebahagiaan
Kalau seseorang menyadari bahwa eksistensi kehidupannya di dunia adalah milik Allah dan hanya untuk beribadah kepada-Nya, maka sudah seharusnya ia menyadari juga bahwa cintanya pun semestinya hanya untuk-Nya.
Adapun cinta kepada selain-Nya, ia tempatkan di bawah cinta kepada-Nya, dan dalam rangka cinta kepada-Nya.
Ya, dalam rangka cinta kepada-Nya dan semata-mata karena-Nya.
Itulah tanda orang yang beriman kepada-Nya. Dan itulah tanda kesempurnaan imannya.
Nabi ﷺ bersabda:
مَنْ أَحَبَّ لِلَّهِ، وَأَبْغَضَ لِلَّهِ، وَأَعْطَى لِلَّهِ، وَمَنَعَ لِلَّهِ فَقَدِ اسْتَكْمَلَ الْإِيمَانَ
“Siapa yang mencintai karena Allah, membenci karena Allah, memberikan pemberian karena Allah, menahan pemberian karena Allah, maka telah sempurnalah imannya.” (HR. Abu Daud)
Lihatlah, salah satu sifat orang yang telah mencapai kesempurnaan iman adalah mencintai seseorang karena Allah.
Ya, karena Allah.
Bukan karena semata-mata alasan fisik atau materi.
Bukan karena semata-mata satu profesi dan satu hobi.
Bukan karena semata-mata satu suku dan golongan.
Mencintai seseorang karena Allah adalah…
Engkau mencintainya karena ia beriman kepada Allah.
Engkau mencintainya karena ia menaati Allah.
Engkau mencintainya karena ia telah membantumu dalam menaati Allah.
Itulah yang dimaksud dengan mencintai karena Allah.
Kalau cintamu kepada seseorang sudah demikian, niscaya engkau mereguk manisnya iman.
Nabi ﷺ bersabda:
ثَلاَثٌ مَنْ كُنَّ فِيهِ وَجَدَ بِهِنَّ حَلَاوَةَ الْإِيْمَانِ:
“Tiga sifat yang jika ada pada diri seseorang, niscaya ia akan meraih manisnya iman:
أَنْ يَكُونَ اللهُ وَرَسُولُهُ أحَبَّ إِلَيْهِ مِمَّا سَوَاهُمَا
Allah dan Rasul-Nya lebih ia cintai dari selain keduanya.
وَأَنْ يُحِبَّ الْمَرْءَ لاَ يُحِبُّهُ إلاَّ لِلهِ
Ia mencintai seseorang, tidaklah mencintainya melainkan karena Allah.
وَأَنْ يَكْرَهَ أَنْ يَعُودَ فِي الْكُفْرِ بَعْدَ أَنْ أَنْقَذَهُ اللهُ مِنْهُ، كَمَا يَكْرَهُ أَنْ يُقْذَفَ فِي النَّارِ
Ia tidak suka kembali kepada kekafiran setelah Allah menyelamatkannya darinya, sebagaimana ia tidak suka bila dilempar ke dalam api neraka.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Cinta yang Membawa Derita
Renungkanlah…
Apakah cintamu selama ini karena Allah?
Sudahkah cintamu kepada temanmu karena-Nya?
Sudahkah cintamu kepada orang tuamu karena-Nya?
Sudahkah cintamu kepada istrimu karena-Nya?
Sudahkah cintamu kepada anakmu karena-Nya?
Kalau semua cintamu itu sudah karena-Nya, maka bersyukurlah…
Engkau akan bahagia!
Namun, kalau semua cintamu itu belum karena-Nya, maka waspadalah…
Imam Ibnul Qayyim berkata:
أن من أحب شيئا سوى الله تعالى، ولم تكن محبته له لله تعالى، ولا لكونه معينا له على طاعة الله تعالى: عذب به فى الدنيا قبل يوم القيامة
“Siapa yang mencintai sesuatu selain Allah dan kecintaannya tersebut bukan karena Allah, dan bukan pula karena bisa menolongnya untuk taat kepada Allah, maka ia akan tersiksa karenanya di dunia, sebelum di akhirat.” (Ighatsah Al-Lahafah Min Mashayid Asy-Syaithan)
Siberut, 14 Shafar 1442
Abu Yahya Adiya






