Kecewa Menikah dengan Ustad?

Kecewa Menikah dengan Ustad?

“Banyak akhwat yang ingin menikah dengan ustad, tapi setelah menikah, bisa jadi mereka kecewa.”

Itulah yang dulu pernah disampaikan seorang ikhwan kepada saya.

Yang menjadi menjadi pertanyaan adalah kenapa mereka kecewa?

Ikhwan itu berkata, “Sebelum menikah, si akhwat membayangkan enaknya nikah sama orang berilmu. Tapi, setelah menikah, si ustad pergi mengajar ke sana sini, ngisi tablig akbar di sana dan di sini, akhirnya dia kesepian, dan timbul penyesalan.”

Saya tidak tahu, apakah ikhwan ini berbicara sesuai dengan fakta, atau cuma perkiraannya saja. Namun, betulkah perkataannya?

Setelah saya renungkan, perkataannya ada betulnya juga, walaupun tidak bisa dikatakan sampai 100%.

Perlu kita bedakan dulu pasangan ustad itu. Maksud saya, dengan siapa ustad itu menikah?

Apakah ia menikah dengan seorang ustazah?

Atau menikah dengan seorang akhwat ‘biasa’?

Atau menikah dengan seorang akhwat awam?

 

Jika Ustad Menikah dengan Ustazah

Maksud ustazah di sini adalah wanita yang berilmu dan mencintai ilmu. Dan ini istilah dari saya saja agar mudah dalam menjelaskan.

Kalau seorang ustad menikahi ustazah atau wanita yang sekufu dengannya dari sisi ilmu, mungkin ia tidak akan terlalu banyak menghadapi kendala dalam rumah tangga mereka. Karena, gaya hidup keduanya tidak jauh beda.

Kalau si ustad sibuk menelaah kitab di rumah, maka istrinya akan memakluminya. Karena, ia sadar bahwa ilmu itu memang penting bagi suaminya dan tidak mungkin mendapatkan ilmu kecuali dengan sibuk menelaah kitab.

Begitu juga ketika suaminya sering keluar rumah dalam rangka mengajar, tablig akbar, dan semacamnya. Ia akan memakluminya. Karena, ia tahu bahwa dakwah itu penting bagi umat, dan tidak mungkin umat tersentuh oleh dakwah kecuali dengan mengorbankan waktu untuk mendakwahi mereka.

Ia rela ‘mengorbankan’ suaminya di jalan Allah. Ia rela menahan kerinduan dan kesepian tatkala ditinggal suaminya pergi berdakwah, karena ia berharap mendapat pahala dari-Nya dengan melakukan semua itu.

 

Jika Ustad Menikah dengan Akhwat ‘Biasa’

Maksud akhwat ‘biasa’ di sini artinya wanita yang sudah tersentuh oleh ilmu dan dakwah, tapi tidak sibuk dengan ilmu dan belum merasakan manisnya ilmu. Dan ini istilah dari saya saja agar mudah dalam menjelaskan.

Kalau seorang ustad menikahi wanita jenis ini, mungkin ia akan menghadapi berbagai kendala dalam rumah tangga mereka. Karena, gaya hidup keduanya agak beda.

Kalau si ustad itu sibuk menelaah kitab di rumah, bisa jadi yang muncul dari kepala istrinya:

“Kenapa sih suami saya sibuk dengan kitab? Mestinya baca kitab itu secukupnya!”

Ia belum menyadari pentingnya ilmu.

Begitu juga ketika si ustad sering keluar rumah dalam rangka mengajar, tablig akbar, dan semacamnya, bisa jadi akan muncul dari kepala istrinya:

“Kenapa sih suami saya selalu mengajar dan keluar ke sana kemari? Mestinya keluarga lebih diperhatikan daripada orang lain!”

Ia belum menyadari pentingnya menyebarkan ilmu.

Maka, bagaimana seorang ustad menjaga keutuhan rumah tangganya jika ia menikahi wanita jenis ini?

Tanamkan kepadanya pentingnya ilmu!

Tanamkan kepadanya pentingnya menyebarkan ilmu!

Bersabarlah dalam melakukan semua itu!

 

Jika Ustad Menikahi Akhwat Awam

Maksud akhwat awam di sini artinya wanita yang belum tersentuh oleh ilmu dan dakwah. Dan ini istilah dari saya saja agar mudah dalam menjelaskan.

Kalau seorang ustad menikahi wanita jenis ini, mungkin ia akan menghadapi kendala dalam rumah tangga yang lebih banyak daripada menikahi wanita jenis sebelumnya. Karena, gaya hidup keduanya jauh berbeda.

Kalau si ustad itu sibuk menelaah kitab di rumah, bisa jadi yang muncul dari kepala istrinya:

“Kenapa sih suami saya sibuk dengan kitab? Baca kitab itu tidak penting! Yang penting itu cari uang sebanyak mungkin!”

Begitu juga ketika si ustad sering keluar rumah dalam rangka mengajar, tablig akbar, dan semacamnya, bisa jadi akan muncul dari kepala istrinya:

“Kenapa sih suami saya selalu mengajar dan keluar ke sana kemari? Yang harus diperhatikan itu keluarga, bukan orang lain!”

Maka, bagaimana seorang ustad menjaga keutuhan rumah tangganya jika ia menikahi wanita jenis ini?

Ajarkan kepadanya ilmu!

Tanamkan kepadanya pentingnya ilmu!

Tanamkan kepadanya pentingnya menyebarkan ilmu!

Bersabarlah dalam melakukan semua itu!

 

Siberut, 12 Jumada Ats-Tsaniyah 1442