Orang-orang merasa takut di Mahsyar. Mereka takut kepada kemurkaan Allah di waktu itu.
Mereka pun meminta tolong kepada Nabi Adam, tetapi beliau angkat tangan.
Lalu mereka meminta tolong kepada Nabi Nuh, tetapi beliau juga angkat tangan. Kemudian mereka meminta tolong kepada Nabi Ibrahim, Musa, lalu ‘Isa, tetapi mereka semua juga angkat tangan.
Akhirnya mereka meminta tolong kepada Nabi Muhammad, lalu beliau pun datang dan sujud di bawah Arsy kemudian berdoa kepada Allah.
Peristiwa tersebut disebutkan dalam hadis Shahih Bukhari dan Muslim.
Dan para pengagung kubur menggunakan hadis tersebut untuk melegalkan perbuatan mereka meminta tolong kepada orang mati.
Bisakah hadis tersebut menjadi dalil bagi mereka?
Imam Ash-Shan’ani berkata:
هذا تلبيس، فإنَّ الاستغاثة بالمخلوقين الأحياء فيما يقدرون عليه لا يُنكرُها أحد، وقد قال الله تعالى في قصة موسى مع الإسرائيلي والقبطي: [28: 15]
“Ini adalah penipuan, karena sesungguhnya meminta tolong kepada makhluk yang masih hidup dalam perkara yang mereka sanggupi itu tidak diingkari oleh seorang pun. Sesungguhnya Allah telah berfirman dalam kisah Musa bersama seorang Bani Israel dan seorang Mesir (QS. Al-Qashash: 15):
فَاسْتَغَاثَهُ الَّذِي مِنْ شِيعَتِهِ عَلَى الَّذِي مِنْ عَدُوِّهِ
“Maka orang dari Bani Israel meminta pertolongan kepada Musa untuk mengalahkan orang yang merupakan musuhnya lalu Musa meninjunya, dan matilah musuhnya itu.” (Tathirr Al-I’tiqad An Adraan Al-Ilhaad)
Maksud beliau, para nabi yang dimintai pertolongan ketika di Mahsyar, mereka itu dalam keadaan hidup. Sedangkan meminta pertolongan kepada makhluk yang masih hidup dan dalam perkara yang ia sanggupi adalah diperbolehkan dan tidak ada seorang pun yang mengingkarinya.
Sebagaimana halnya seorang Bani Israel meminta tolong kepada Nabi Musa, dan ketika itu beliau hidup dan sanggup untuk menolongnya.
Lalu Imam Ash-Shan’ani berkata:
وإنَّما الكلام في استغاثة القبوريِّين وغيرهم بأوليائهم، وطلبهم منهم أموراً لا يقدر عليها إلاَّ الله تعالى، مِن عافية المريض وغيرها،
“Yang menjadi pembicaran yaitu tentang permintaan tolong yang diajukan para pengagung kubur dan selain mereka kepada wali-wali mereka dan meminta kepada mereka beberapa perkara yang hanya disanggupi oleh Allah, berupa menyembuhkan orang sakit dan selain itu.” (Tathirr Al-I’tiqad ‘An Adraan Al-Ilhaad)
Meminta tolong kepada makhluk yang masih hidup dalam perkara yang ia sanggupi jelas itu diperbolehkan, akan tetapi meminta tolong kepada orang yang sudah mati? Atau meminta tolong kepada orang yang masih hidup dalam perkara yang tidak ia sanggupi?
Tentu saja itu tidak diperbolehkan. Namun anehnya, ada saja yang melakukannya, dan itu terjadi masa Imam Ash-Shan’ani.
Imam Ash-Shan’ani berkata:
بل أعجَبُ من هذا أنَّ القبوريِّين وغيرهم من الأحياء مِن أتباع مَن يعتقدون فيه، قد يَجعلون له حصَّة مِن الولد إن عاش ويشترون منه الحمل في بطن أمِّه ليعيش لهم، ويأتون بمنكرات ما بَلَغ إليها المشركون الأولون
“Bahkan, yang lebih aneh dari itu yakni para pengagung kubur dan para pengikut orang yang meyakini demikian selain mereka, kadang mereka menjadikan untuk penghuni kubur bagian dari anak jika ia hidup dan membeli darinya kehamilan di perut ibunya agar hidup untuk mereka. Mereka melakukan kemungkaran yang tidak pernah dilakukan oleh kaum musyirikin terdahulu.
ولقد أخبرني بعضُ مَن يتولى قَبض ما ينذر القبوريُّون لبعض أهل القبور: أنَّه جاءه إنسانٌ بدراهم وحِلية نسائية، وقال
Sungguh, orang yang mengurus nazar yang diberikan para pengagung kubur kepada penghuni kubur mengabarkan kepadaku bahwa seseorang mendatanginya dengan membawa beberapa dirham dan kalung wanita lalu berkata:
هذه لسيِّده فلان ـ يريد صاحب القبر ـ نصف مهر ابنتي؛ لأنِّي زوجتها وكنتُ مَلكت نصفَ مهرها فلاناً ـ يريد صاحب القبر.
“Ini adalah milik tuan fulan-yakni penghuni kubur- yaitu setengah mahar putriku. Sebab, aku menikahkannya dalam keadaan aku memberikan kepemilikan setengah maharnya kepada fulan-yakni penghuni kubur-.”
وهذه النذور بالأموال وجَعْلُ قِسط منها للقبر كما يجعلون شيئاً مِن الزرع يسمُّونه (تلما) في بعض الجهات اليمنية، وهذا شيءٌ ما بلغ إليه عُبَّادُ الأصنام، وهو داخلٌ تحت قول الله تعالى: [16: 56]
Nazar dengan harta semacam itu dan menjadikan sebagian darinya untuk kubur seperti halnya mereka menjadikan sebagian hasil tanaman di beberapa daerah Yaman yang mereka namakan talam, itu merupakan sesuatu yang tidak pernah dilakukan oleh para penyembah berhala. Dan perbuatan itu tidak diragukan lagi terkena firman Allah (QS. An-Nahl: 56):
{وَيَجْعَلُونَ لِمَا لا يَعْلَمُونَ نَصِيباً مِمَّا رَزَقْنَاهُمْ} بلا شكٍّ ولا ريب.
“Dan mereka sediakan untuk berhala-berhala yang tidak mereka ketahui (kekuasaannya), sebagian dari rezeki yang telah Kami berikan kepada mereka.” (Tathirr Al-I’tiqad ‘An Adraan Al-Ilhaad)
Nah, kalau itu saja terjadi sekitar tiga abad lalu yakni di masa Imam Ash-Shan’ani, maka bagaimana pula dengan zaman ini?!
Siberut, 20 Rabi’ul Tsani 1446
Abu Yahya Adiya






