Penyimpangan Terkait dengan Tauhid Uluhiyah (Bag. 2)

Penyimpangan Terkait dengan Tauhid Uluhiyah (Bag. 2)

 

  1. Cinta kepada selain Allah seperti halnya cinta kepada Allah.

Allah berfirman:

وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَتَّخِذُ مِنْ دُونِ اللَّهِ أَنْدَاداً يُحِبُّونَهُمْ كَحُبِّ اللَّهِ وَالَّذِينَ آمَنُوا أَشَدُّ حُبّاً لِلَّه

“Di antara manusia ada yang membuat tuhan-tuhan tandingan selain Allah, mereka mencintainya sebagaimana mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman lebih besar cinta mereka kepada Allah.” (QS. Al Baqarah:165)

Syekh Muhammad bin Saleh Al-‘Utsaimin berkata:

وهذا موجود في كثير من المنتسبين للإسلام اليوم; فإنهم يحبون أولياءهم أكثر مما يحبون الله

“Ini ada pada banyak orang yang mengaku muslim sekarang ini. Karena sesungguhnya mereka lebih banyak mencintai wali-wali mereka daripada mencintai Allah.

ولهذا لو قيل له: احلف بالله; حلف صادقا أو كاذبا، أما الولي; فلا يحلف به إلا صادقا.

Karenanya, kalau dikatakan kepadanya, ‘Bersumpahlah dengan nama Allah!’, maka ia akan bersumpah, baik untuk mengatakan yang benar maupun dusta. Adapun terkait dengan seorang wali, maka ia hanya mau bersumpah dengan namanya untuk mengatakan yang benar.

وتجد كثيرا منهم يأتون إلى مكة والمدينة، ويرون أن زيارة قبر الرسول صلى الله عليه وسلم أعظم من زيارة البيت

Dengan engkau mendapati banyak dari mereka yang mendatangi Mekah dan Madinah, dan menganggap bahwa menziarahi kubur Rasul ﷺ lebih penting daripada menziarahi Baitullah.

لأنهم يجدون في نفوسهم حبا لرسول الله صلى الله عليه وسلم كحب الله أو أعظم وهذا شرك

Sebab, mereka mendapati dalam jiwa mereka cinta mereka kepada Rasulullah ﷺ seperti cinta mereka kepada Allah, atau malah lebih besar. Itu adalah syirik.

لأن الله يعلم أننا ما أحببنا رسول الله صلى الله عليه وسلم إلا لحب الله، ولأنه رسول الله

Karena, Allah tahu bahwa kita tidaklah mencintai Rasulullah ﷺ kecuali karena cinta kita kepada Allah dan karena ia adalah Rasulullah.

ما أحببناه لأنه محمد بن عبد الله، لكننا أحببناه لأنه رسول الله صلى الله عليه وسلم

Kita tidak mencintainya karena ia adalah Muhammad bin ‘Abdullah. Namun, kita mencintainya karena ia adalah Rasulullah ﷺ.

فنحن نحبه بمحبة الله، لكن هؤلاء يجعلون محبة الله تابعة لمحبة الرسول صلى الله عليه وسلم إن أحبوا الله.

Maka, kita mencintai Rasulullah karena cinta kepada Allah. Namun, mereka jika mencintai Allah, menjadikan kecintaan mereka kepada Allah mengikuti kecintaan mereka kepada Rasul ﷺ.” (Al-Qaul Al-Mufid ‘Alaa Kitab At-Tauhid)

 

  1. Takut kepada selain Allah dalam perkara yang hanya disanggupi oleh Allah.

Allah berfirman:

فَلا تَخَافُوهُمْ وَخَافُونِ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ

“Karena itu janganlah kalian takut kepada mereka, tetapi takutlah kepada-Ku, jika kalian benar-benar orang yang beriman.” (QS. Ali-‘Imran: 175(

Syekh Saleh Al-Fauzan berkata:

فإذا خاف أحدًا في شيء لا يقدر عليه إلا الله فهذا شرك أكبر؛ لأنه صرف نوعًا من أنواع العبادة لغير الله عز وجل، كالذين يخافون من القبور ومن الأضرحة ومن الجن ومن الشياطين أن تمسهم بسوء أو أن تنزل بهم ضررًا، فيذهبون يتقربون إلى هذه الأشياء لدفع ضررها أو خوفًا منها، هذا شرك أكبر

“Jika takut kepada seseorang dalam perkara yang hanya disanggupi oleh Allah, maka itu adalah syirik besar. Karena, ia telah menyerahkan salah satu macam ibadah kepada selain Allah. Seperti orang-orang yang takut kepada kuburan, pusara, jin dan setan, takut kalau semua itu menimpakan keburukan atau bahaya kepada mereka. Karena itulah mereka mendekatkan diri kepada semua tadi untuk menolak bahaya semua itu dan karena takut kepada semua itu. Ini adalah syirik besar.” (Syarh Tsalatsah Al-Ushul)

 

  1. Tawakal kepada selain Allah.

Syekh Muhammad bin Saleh Al-‘Utsaimin berkata:

لكن تعليق القلب بالمخلوق لا شك أنه من الشرك، فإذا علقت قلبك ورجاءك وخوفك وجميع أمورك بشخص معين، وجعلته ملجأ فهذا شرك، لأن هذا لا يكون إلا لله.

“Namun, bergantungnya hati kepada makhluk, tidak diragukan lagi, itu termasuk syirik. Jika engkau menggantungkan hatimu, harapanmu, takutmu, dan semua urusanmu kepada orang tertentu dan engkau menjadikannya sebagai tempat untuk berlindung, maka itu adalah syirik. Karena, semua itu hanya berhak ditujukan kepada Allah.” (Al-Qaul Al-Mufid ‘Alaa Kitab At-Tauhid)

 

  1. Menyembelih hewan untuk selain Allah

Nabi ﷺ bersabda:

 لعَنَ اللهُ مَنْ ذَبَحَ لِغَيْرِ الله

“Allah melaknat orang yang menyembelih untuk selain Allah.” (HR. Muslim)

Imam An-Nawawi berkata:

وَأَمَّا الذَّبْح لِغَيْرِ اللَّه فَالْمُرَاد بِهِ أَنْ يَذْبَح بِاسْمِ غَيْر اللَّه تَعَالَى كَمَنْ ذَبَحَ لِلصَّنَمِ أَوْ الصَّلِيب أَوْ لِمُوسَى أَوْ لِعِيسَى صَلَّى اللَّه عَلَيْهِمَا أَوْ لِلْكَعْبَةِ وَنَحْو ذَلِكَ

“Adapun menyembelih untuk selain Allah, maksudnya yaitu menyembelih dengan menyebut nama selain Allah Ta’ala seperti seseorang yang menyembelih untuk patung, salib, Musa atau ‘Isa atau Kabah dan yang semisalnya.

فَكُلّ هَذَا حَرَام ، وَلَا تَحِلّ هَذِهِ الذَّبِيحَة ، سَوَاء كَانَ الذَّابِح مُسْلِمًا أَوْ نَصْرَانِيًّا أَوْ يَهُودِيًّا ، نَصَّ عَلَيْهِ الشَّافِعِيّ وَاتَّفَقَ عَلَيْهِ أَصْحَابنَا

Seluruhnya haram. Dan sembelihan tadi tidak halal, baik yang menyembelih adalah seorang muslim atau seorang Nashrani atau Yahudi. Demikian Imam Asy-Syafi’i menyebutkan itu dan disepakati oleh para sahabat kami (Asy-Syafi’iyyah).

فَإِنْ قَصَدَ مَعَ ذَلِكَ تَعْظِيم الْمَذْبُوح لَهُ غَيْر اللَّه تَعَالَى وَالْعِبَادَة لَهُ كَانَ ذَلِكَ كُفْرًا ، فَإِنْ كَانَ الذَّابِح مُسْلِمًا قَبْل ذَلِكَ صَارَ بِالذَّبْحِ مُرْتَدًّا

Jika bersamaan dengan penyembelihan tadi bermaksud untuk mengagungkan orang yang untuknya sembelihan dipersembahkan dan juga untuk beribadah kepadanya, maka itu adalah kekafiran. Jika yang menyembelih itu sebelumnya adalah seorang muslim, maka dengan sebab penyembelihan tersebut menjadi murtadlah ia.” (Al-Minhaj Syarh Shahih Muslim bin Al-Hajjaj)

 

  1. Bersumpah dengan nama selain Allah

Nabi kita ﷺ bersabda:

مَنْ حَلَفَ بِغَيْرِ اللَّهِ فَقَدْ أَشْرَكَ

“Siapa yang bersumpah dengan selain Allah, maka sungguh, ia telah berbuat syirik.” (HR. Abu Daud)

Syekh Sulaiman bin ‘Abdullah berkata:

لكن الذي يفعله عباد القبور إذا طلبت من أحدهم اليمين بالله، أعطاك ما شئت من الأيمان صادقًا أو كاذبًا. فإذا طلبت منه اليمين بالشيخ أو تربته أو حياته، ونحو ذلك، لم يقدم على اليمين به إن كان كاذبًا. فهذا شرك أكبر بلا ريب، لأن المحلوف به عنده أخوف وأجل وأعظم من الله

“Seperti yang dilakukan oleh para penyembah kubur. Jika engkau meminta kepada salah seorang dari mereka untuk bersumpah dengan nama Allah, maka ia akan bersumpah untukmu, baik benar maupun dusta. Namun, jika engkau meminta kepadanya untuk bersumpah dengan nama syekhnya atau makamnya atau hidupnya dan semacamnya, maka ia tidak berani untuk bersumpah dengan itu secara dusta. Itu adalah syirik tidak diragukan lagi. Karena, sosok yang dijadikan sumpah itu lebih ditakuti, lebih mulia, dan lebih agung daripada Allah menurutnya.” (Taisir Al-‘Aziz Al-Hamid Fii Syarh Kitab At-Tauhid)

 

  1. Bernazar kepada selain Allah.

Imam Ash-Shan’ani berkata:

والنَّذرُ بالمال للميت ونحوه، والنَّحر على القبر والتوسل به وطلب الحاجات منه، هو بعينه الذي كانت تفعله الجاهلية

“Bernazar dengan harta kepada mayit dan semacamnya, menyembelih hewan di kubur, bertawasul kepadanya, dan meminta hajat kepadanya, itulah sebenarnya yang dilakukan oleh orang-orang di zaman jahiliah.” (Tathhiir Al-I’tiqaqad An Adraan Al-Ilhad)

Dan masih banyak lagi penyimpangan terkait dengan tauhid uluhiyah yang terjadi di tengah-tengah kita.

Hanya kepada Allah kita mengadukan berbagai kerusakan yang ada di tengah-tengah kita.

 

Siberut, 4 Muharram 1444

Abu Yahya Adiya