Seorang tua menempelkan kepalanya ke kubur yang dikeramatkan sembari berkata, “Wahai Syekh, tolonglah aku!”
Setelah demikian khusyuk meminta tolong kepada penghuni kubur tersebut, ia pun mengucapkan:
لاَ إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ
Adakah keanehan pada perbuatan orang tersebut?
Apakah perbuatannya selaras dengan kalimat tauhid yang ia ucapkan tadi?
Apa makna Laa Ilaaha Illaa Allah?
Imam Ath-Thabari menjelaskan:
لَا مَعْبُودَ بِحَقٍّ تَجُوزُ عِبَادَتُهُ، وَتَصْلُحُ الْأُلُوهَةُ لَهُ إِلَّا اللَّهَ
“Tidak ada sembahan yang benar dan boleh diibadahi serta pantas mendapatkan ibadah kecuali Allah.” (Jami Al-Bayan Fii Tawiil Al-Quran)
Imam As-Suyuthi menjelaskan:
لَا مَعْبُود بِحَقٍّ فِي الْوُجُود إلَّا هُوَ
“Tidak ada sembahan yang benar dalam kenyataan kecuali Dia.” (Tafsir Jalalain)
Di dunia ini, ada orang yang menyembah nabi. Ada orang yang menyembah malaikat. Ada orang yang menyembah orang saleh. Ada orang yang menyembah jin. Ada orang yang menyembah pepohonan. Ada pula yang menyembah bebatuan.
Sembahan-sembahan selain Allah itu banyak. Namun, semua sembahan itu batil. Sembahan yang benar dan layak diibadahi hanyalah Allah.
Allah berfirman:
ذَلِكَ بِأَنَّ اللَّهَ هُوَ الْحَقُّ وَأَنَّ مَا يَدْعُونَ مِنْ دُونِهِ هُوَ الْبَاطِل
“Yang demikian itu karena sesungguhnya Allah, Dialah (Tuhan) Yang Hak, sedangkan apa saja yang mereka seru selain Allah, itulah yang batil.” (QS. Al-Hajj: 62)
Itulah kandungan kalimat tauhid, Laa Ilaaha Illaa Allah.
Syekh Muhammad bin Jamil Zainu berkata:
فيها نفي الإلهية عن غير الله ، و إثباتها لله وحده.
“Kalimat Laa Ilaaha Illaa Allah ini mengandung makna peniadaan hak disembah dari selain Allah dan menetapkan itu untuk Allah semata.” (Minhaj Al-Firqah An-Najiyah wa Ath-Thaifah Al-Manshurah)
Karena itu, siapa yang mengucapkan Laa Ilaaha Illaa Allah, maka ia harus yakin bahwa yang berhak disembah hanyalah Allah. Ia mesti yakin bahwa yang berhak diibadahi hanyalah Allah. Ia tidak boleh beribadah kepada siapa pun selain Allah. Ia menyalahkan peribadatan kepada siapa pun selain Allah.
Nabi صلى الله عليه وسلم bersabda:
مَنْ قَالَ: لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ، وَكَفَرَ بِمَا يُعْبَدُ مَنْ دُونِ اللهِ، حَرُمَ مَالُهُ، وَدَمُهُ
“Siapa yang mengucapkan Laa Ilaaha Illaa Allah, dan mengingkari segala yang disembah selain Allah, maka terjagalah harta dan darahnya.” (HR. Muslim)
Syekh Muhammad bin Jamil Zainu berkata:
و معنى الحديث أن التلفظ بالشهادة يستلزم أن يكفر و يُنكر كل عبادة لغير الله ، كدعاء الأموات و غيره.
“Makna hadis tersebut yakni mengucapkan syahadat mengharuskan untuk memungkiri dan mengingkari segala peribadatan kepada selain Allah, seperti berdoa kepada mayit, dan lainnya.
و الغريب أن بعض المسلمين يقولونها بألسنتهم ، و يخالفون معناها بأفعالهم و دعائهم لغير الله!
Dan anehnya, sebagian muslimin mengucapkan syahadat dengan lisan mereka, tetapi mereka menyalahi maknanya dengan perbuatan mereka dan doa mereka kepada selain Allah!” (Minhaj Al-Firqah An-Najiyah wa Ath-Thaifah Al-Manshurah)
Maka, anehlah orang-orang yang berdoa, beristigasah, dan menyembelih hewan untuk selain Allah, sambil mengucapkan Laa Ilaaha Illaa Allah!
Bagaimana bisa kalimat tauhid dicampur dengan kemusyrikan?
Kaum musyrikin penentang dakwah nabi kita saja tidak mau menyekutukan Allah sambil mengucapkan kalimat tauhid, maka bagaimana bisa orang-orang yang mengaku muslim menyekutukan Allah sambil mengucapkan kalimat tauhid?!
Syekh Muhammad bin Jamil Zainu berkata:
بقي الرسول ﷺ في مكة ثلاثة عشر عاما، يدعو العرب قائلا : قولوا لا إله إلا الله ، فقالوا إلها واحدا ! ما سمعنا بهذا ؟
“Rasul ﷺ tinggal di Makkah selama 13 tahun, beliau mendakwahi bangsa Arab dengan berkata: ‘Ucapkanlah, ‘Laa Ilaaha Illaa Allah!’, maka mereka menjawab: ‘Hanya satu tuhan? Kami belum pernah mendengar seruan seperti ini!’
لأن العرب فهموا معناها ، و أن من قالها لا يدعو غير الله ، فتركوها و لم يقولوها ، قال الله تعالى عنهم:
Yang demikian, karena bangsa Arab memahami makna kalimat ini dan bahwa siapa yang mengucapkannya, maka ia tidak boleh menyeru selain Allah. Karena itulah mereka meninggalkannya dan tidak mau mengucapkannya. Allah berfirman tentang mereka (QS. Ash-Shaffat: 35-37):
إِنَّهُمْ كَانُوا إِذَا قِيلَ لَهُمْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ يَسْتَكْبِرُونَ وَيَقُولُونَ أَئِنَّا لَتَارِكُو آلِهَتِنَا لِشَاعِرٍ مَجْنُونٍ بَلْ جَاءَ بِالْحَقِّ وَصَدَّقَ الْمُرْسَلِينَ
“Sesungguhnya dahulu bila dikatakan kepada mereka, ‘Laa Ilaaha Illaa Allah (Tiada Tuhan yang berhak disembah melainkan Allah)’, mereka menyombongkan diri, dan mereka berkata, ‘Apakah kami harus meninggalkan sembahan-sembahan kami karena seorang penyair gila?’ Padahal ia (Muhammad) datang dengan membawa kebenaran dan membenarkan rasul-rasul (sebelumnya).” (Minhaj Al-Firqah An-Najiyah wa Ath-Thaifah Al-Manshurah)
Maka, jangan campur adukkan tauhid dengan kemusyrikan! Jangan jadikan kalimat tauhid sebagai permainan!
Siberut, 11 Muharram 1444
Abu Yahya Adiya






