Antara Talbiah dan Bidah

Antara Talbiah dan Bidah

Di antara argumen para pelaku bidah untuk melegalkan bidah yang mereka lakukan yaitu perbuatan Ibnu ’Umar dalam hal talbiah.

’Abdullāh bin ’Umar berkata:

سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ يُهِلُّ مُلَبِّدًا يَقُولُ:

“Aku mendengar Rasulullah ﷺ bertalbiah dalam keadaan merekatkan rambutnya sambil mengucapkan:

لَبَّيْكَ اللَّهُمَّ لَبَّيْكَ

“Aku memenuhi panggilan-Mu ya Allah, aku memenuhi panggilan-Mu.

لَبَّيْكَ لاَ شَرِيكَ لَكَ لَبَّيْكَ

Aku memenuhi panggilan-Mu tidak ada sekutu bagi-Mu, aku memenuhi panggilan-Mu.

إِنَّ الحَمْدَ وَالنِّعْمَةَ لَكَ وَالمُلْكَ، لاَ شَرِيكَ لَكَ

Sesungguhnya segala puji, nikmat, dan kerajaan hanyalah milik-Mu, tidak ada sekutu bagi-Mu.”

لَا يَزِيدُ عَلَى هَؤُلَاءِ الْكَلِمَاتِ

Dan beliau tidak mengucapkan kalimat lebih dari itu.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Nafi’ berkata:

كَانَ عَبْدُ اللَّهِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ يَزِيدُ مَعَ هَذَا

“Walaupun begitu, ’Abdullāh (bin ’Umar) menambah talbiah dengan:

لَبَّيْكَ لَبَّيْكَ وَسَعْدَيْكَ وَالْخَيْرُ بِيَدَيْكَ لَبَّيْكَ وَالرَّغْبَاءُ إِلَيْكَ وَالْعَمَلُ

Aku memenuhi panggilan-Mu. Aku memenuhi panggilan-Mu. Aku siap membantu dalam rangka menaati-Mu. Seluruh kebaikan ada pada kedua tangan-Mu. Aku memenuhi panggilan-Mu. Permohonan dan amal hanya ditujukan untuk-Mu.” (HR. Muslim)

Ahli bidah berkata, “Lihatlah, Ibnu ’Umar menambah talbiah yang telah diajarkan oleh Rasulullah ﷺ. Itu menunjukkan bolehnya melakukan perkara baru dalam agama kalau memang itu baik. Itu menunjukkan adanya bidah hasanah!”

Maka bagaimana menjawab argumen itu?

 

Jawaban:

 

  1. Menambah talbiah bukan hanya dilakukan oleh Ibnu ’Umar saja, melainkan juga oleh ’Umar bin Al-Khaṭṭāb, Anas bin Mālik, dan para sahabat Nabi lainnya yang diketahui oleh Nabi ﷺ.

Apabila para sahabat Nabi ﷺ mengerjakan sesuatu dalam keadaan diketahui Nabi ﷺ lalu beliau tidak mengingkarinya, maka tentu saja itu boleh dikerjakan, dan bukanlah bidah, bahkan termasuk sunnah takririyah.

Jābir bin ’Abdillāh berkata:

فَأَهَلَّ بِالتَّوْحِيدِ

“Nabi mengucapkan talbiah yang berisi tauhid:

لَبَّيْكَ اللَّهُمَّ لَبَّيْكَ

“Aku memenuhi panggilan-Mu ya Allah, aku memenuhi panggilan-Mu.

لَبَّيْكَ لاَ شَرِيكَ لَكَ لَبَّيْكَ

Aku memenuhi panggilan-Mu tidak ada sekutu bagi-Mu, aku memenuhi panggilan-Mu.

إِنَّ الحَمْدَ وَالنِّعْمَةَ لَكَ وَالمُلْكَ، لاَ شَرِيكَ لَكَ

Sesungguhnya segala puji, nikmat, dan kerajaan hanyalah  milik-Mu, tidak ada sekutu bagi-Mu.”

وَأَهَلَّ النَّاسُ بِهَذَا الَّذِي يُهِلُّونَ بِهِ، فَلَمْ يَرُدَّ رَسُولُ اللهِ ﷺ عَلَيْهِمْ شَيْئًا مِنْهُ، وَلَزِمَ رَسُولُ اللهِ ﷺ تَلْبِيَتَهُ،

Sedangkan orang-orang mengucapkan talbiah seperti yang mereka ucapkan itu, tapi Rasulullah ﷺ tidak melarang mereka dari mengucapkannya, sedangkan beliau ﷺ sendiri tetap mengucapkan talbiah seperti yang beliau ucapkan.” (HR. Muslim)

Syekh Abdullāh Al-Jibrīn berkata:

فالتلبية النبوية هي التي سمعنا، والزيادة عليها جائزة، فقد ثبت أنه ﷺ كان يسمع أصحابه يزيدون ولا يغير عليهم ولا ينكر عليهم، فمنها زيادة ابن عمر

Talbiah yang dipraktekkan Nabi adalah yang telah kita dengar, sedangkan menambah talbiah itu diperbolehkan. Telah sahih dari Nabi ﷺ bahwa beliau mendengar para sahabatnya menambah talbiah, dan beliau tidak menegur serta mengingkari perbuatan mereka, di antaranya tambahan talbiah yang dilakukan oleh Ibnu ’Umar.” (Syarḥ ’Umdah Al-Aḥkām)

 

  1. Kalau pun tambahan terhadap talbiah itu tidak diketahui Nabi ﷺ, maka perbuatan para sahabat Nabi tetap boleh kita ikuti.

Imam Asy-Syāṭibī berkata:

سُنَّةُ الصَّحَابَةِ -رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ- سُنَّةٌ يُعْمَلُ عَلَيْهَا وَيُرْجَعُ إِلَيْهَا

“Sunnah para sahabat adalah sunnah yang bisa diamalkan dan dijadikan rujukan.” (Al-Muwāfaqāt)

Karena itu, perbuatan para sahabat tidak bisa kita katakan sebagai bidah.

Setelah menyebutkan bahwa semua perbuatan yang tidak ada nasnya adalah bidah, Syekh Muḥammad Nāṣiruddīn Al-Albānī berkata:

إلا ما كان عن صحابي

“Kecuali perbuatan yang ternukil dari seorang sahabat Nabi.” (Aḥkām Al-Janāiz)

Dan Syekh Muḥammad bin Ṣāliḥ Al-’Uṡaimīn menyebutkan definisi bidah:

ما أُحْدِثَ في الدين على خلاف ما كان عليه النبي ﷺ وأصحابه من عقيدة أو عمل

“Segala yang diada-adakan dalam agama dan bertentangan dengan keyakinan atau perbuatan Nabi ﷺ dan para sahabatnya.” (Ta’līq Mukhtaṣar ‘alā Lum’ah Al-I’tiqād)

 

Faidah:

Walaupun menambah talbiah yang diajarkan Rasulullah ﷺ diperbolehkan, yang lebih utama adalah mencukupkan diri dengan apa yang beliau ajarkan.

Imam Asy-Syāfi’ī berkata setelah menyebutkan talbiah Rasulullah ﷺ:

وَهِيَ الَّتِي أُحِبُّ أَنْ تَكُونَ تَلْبِيَةَ الْمُحْرِمِ لَا يَقْصُرُ عَنْهَا وَلَا يُجَاوِزُهَا

“Itulah yang kusukai menjadi talbiah bagi orang yang melakukan ihram. Ia tidak menguranginya dan tidak pula menambahnya.” (Al-Umm)

Al-Qāḍī ’Iyāḍ berkata:

قَالَ أَكْثَرُ الْعُلَمَاءِ الْمُسْتَحَبُّ الِاقْتِصَارُ عَلَى تَلْبِيَةِ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ وَبِهِ قَالَ مَالِكٌ وَالشَّافِعِيُّ

“Kebanyakan ulama menyatakan dianjurkannya mencukupkan diri dengan talbiah Rasulullah ﷺ. Demikianlah pendapat Mālik dan Asy-Syāfi’ī.” (Al-Minhāj Syarḥ Ṣaḥīḥ Muslim bin Al-Ḥajjāj)

Setelah menyebutkan bolehnya menambah talbiah yang diajarkan Rasulullah ﷺ sebagaimana yang dilakukan oleh Ibnu Umar, Syekh Muḥammad bin Ṣāliḥ Al-’Uṡaimīn berkata:

لكن الأولى ملازمة ما ثبت عن النبي ﷺ

“Namun, yang paling utama yaitu mengikuti apa  yang sahih dari Nabi ﷺ.” (Asy-Syarḥ Al-Mumti’ ‘alā Zād Al-Mustaqni’)

 

Siberut, 7 Sya’bān 1442

Abu Yahya Adiya

 

Sumber:

  1. Al-Minhāj Syar Ṣaḥīḥ Muslim bin Al-Ḥajjāj karya Imam An-Nawawī.
  2. http://www.ahlalhdeeth.com
  3. https://islamqa.info/ar/answers/220989/%D8%AD%D9%83%D9%85-%D8%A7%D9%84%D8%B2%D9%8A%D8%A7%D8%AF%D8%A9-%D9%81%D9%8A-%D8%A7%D9%84%D8%AA%D9%84%D8%A8%D9%8A%D8%A9