Logika untuk Membantah Bidah

Logika untuk Membantah Bidah

Seseorang mengalami sakit ambeien. Ia pun mendatangi dokter untuk berobat kepadanya.

Lalu dokter memberikan resep obat kepadanya. Ada obat berupa pil yang harus ia makan tiga kali sehari setelah makan. Dan ada juga obat berupa peluru yang harus ia masukkan ke dalam anus, yaitu satu peluru dua kali sehari.

Setelah mendapat resep obat tersebut ia berkata:

“Kenapa pil ini dikonsumsi setelah makan? Lebih baik saya mengonsumsi itu sebelum makan!”

“Kenapa pil ini dimakan tiga kali sehari? Lebih baik saya memakannya empat kali sehari, biar cepat pulih!”

“Kenapa pil ini semuanya harus dimakan? Lebih baik sebagiannya saya masukkan saja ke anus, biar saya cepat sembuh!”

“Kenapa peluru ini harus dimasukkan ke anus? Itu menyakitkan! Lebih baik saya telan saja peluru ini, sama seperti pil itu!”

Kalau orang tadi mengucapkan demikian, maka bisakah ucapannya dibenarkan?

Tentu saja tidak. Sebab, ia telah mengucapkan sesuatu di luar pengetahuannya.

Kalau seseorang mengalami masalah terkait dengan kesehatan badannya, maka sudah seharusnya ia memercayai dan mengikuti arahan ahlinya yaitu dokter badan.

Maka begitu pula seharusnya kalau seseorang mengalami masalah terkait dengan kesehatan hatinya. Sudah seharusnya ia memercayai dan mengikuti arahan ahlinya yaitu dokter hati. Dan dokter hati di sini adalah Nabi ﷺ.

Kalau memang kita sadar bahwa nabi kita telah memberikan beberapa ‘resep’ kepada kita, maka jangan sampai kita berkata:

“Kenapa Nabi ﷺ menyuruh kita melakukan ibadah ini hanya begini? Lebih baik saya tambah lagi biar pahalanya lebih banyak!”

“Kenapa Nabi ﷺ melakukan ibadah dengan cara begitu? Lebih baik saya ubah saja biar sesuai dengan kondisi masyarakat!”

Ketika kita menambah-nambah atau mengubah-ubah ibadah yang sudah ditentukan Nabi ﷺ, itu sama saja kita telah bersikap lancang terhadap Nabi ﷺ, bahkan lancang terhadap Tuhan yang telah mengutus beliau.

Itulah hakikat dari bidah.

Ketika kita berbuat bidah, seakan-akan kita menyatakan bahwa agama-Nya masih belum sempurna sehingga perlu ditambah dan diubah, padahal…

 

  1. Dia telah menyempurnakan agama-Nya (QS. Al-Māidah: 3).
  2. Tidak ada suatu amalan pun yang mendekatkan ke surga dan menjauhkan dari neraka kecuali telah Dia jelaskan (HR. Aṭ-Ṭabrānī dalam Al-Mu’jam Al-Kabīr)

Oleh karena itu, kita katakan kepada para pelaku bidah, “Apakah perbuatan kalian itu baik atau buruk?”

Kalau mereka menjawab, “Buruk”, maka kita katakan, “Kalau memang buruk, lalu untuk apa kalian mengamalkannya?!”

Namun, kalau mereka menjawab, “Baik”, maka kita tanyakan, “Kalau memang itu perbuatan yang baik, maka apakah itu diketahui oleh Rasul-Nya atau tidak?”

Kalau mereka menjawab, “Tidak beliau ketahui”, maka kita katakan, “Bagaimana bisa beliau tidak mengetahuinya, sedangkan kalian mengetahuinya?!”

Namun, kalau mereka menjawab, “Ya, beliau mengetahuinya”, maka kita tanyakan, “Apakah Rasul menyampaikan perbuatan itu kepada kita atau tidak?”

Kalau mereka menjawab, “Tidak beliau sampaikan”, maka kita katakan, “Berarti kalian telah menuduh Rasul berkhianat kepada Allah!”

Namun, kalau mereka menjawab, “Ya, beliau menyampaikannya”, maka kita tanyakan, “Mana buktinya? Sebutkan hadisnya!”

 

Siberut, 4 Sya’bān 1442

Abu Yahya Adiya

 

Sumber: Ar-Rad ’alā Al-Luma’ karya Syaḥātah Muḥammad Ṣaqr.