Kenapa Abu Jahl, Abu Lahab, ‘Abdullah bin Abi Umayyah, dan penentang dakwah Nabi ﷺ lainnya tidak dianggap mengesakan Allah?
Bukankah mereka mengakui bahwa Allah lah yang telah menciptakan mereka dan seluruh isi alam semesta?
Bukankah mereka mengakui bahwa Allah lah yang memiliki kekuasaan yang mutlak dan tidak terbatas?
Bukankah mereka mengakui bahwa Allah lah yang mengatur hidup mereka, bahkan seluruh makhluk yang ada di dunia?
Ya, mereka memang meyakini demikian. Namun, mereka masih dianggap musyrik dan belum mengesakan-Nya, karena mereka belum mempraktekkan tauhid lainnya yaitu tauhid uluhiyah.
Syekh Muhammad bin Jamil Zainu berkata:
توحيد الإله: هو توحيد الله بأنواع العبادات المشروعة ، كالدعاء و الاستعانة و الطواف و الذبح و النذر و غيرها
“Tauhid uluhiyah yaitu mengesakan Allah dengan melakukan berbagai macam ibadah yang disyariatkan. Seperti berdoa, memohon pertolongan, tawaf, menyembelih binatang, bernazar dan berbagai ibadah lainnya.” (Minhaj Al-Firqah An-Najiyah wa Ath-Thaifah Al-Manshurah)
Tauhid inilah yang tidak dilakukan oleh musyrikin Quraisy dan para penentang dakwah nabi kita.
Dalam hal peribadatan, mereka masih menyekutukan Allah dengan selain-Nya. Karena itulah nabi kita memerangi mereka. Dan karena itulah para rasul berseteru dengan kaum mereka.
Syekh Muhammad bin Jamil Zainu berkata:
وهذا النوع هو الذي حجده الكفار و كانت فيه الخصومة بين الأمم و رسلهم منذ نوح عليه السلام إلى محمد ﷺ
“Macam tauhid inilah yang ditentang oleh orang-orang kafir. Dan itu pula yang menjadi sebab perseteruan antara umat terdahulu dengan para rasul mereka, sejak Nuh ‘alaihissalam hingga Muhammad ﷺ.” (Minhaj Al-Firqah An-Najiyah wa Ath-Thaifah Al-Manshurah)
Beribadah kepada Allah semata dan tidak beribadah selain-Nya. Itulah inti dakwah para nabi dan rasul, sejak Nabi Nuh sampai nabi kita. Dan itulah inti dari kandungan kitab Tuhan kita.
Syekh Muhammad bin Jamil Zainu berkata:
وقد حث القرآن الكريم في أكثر سوره عليه ، و على دعاء الله وحده ، ففي سورة الفاتحة نقرأ
“Dalam kebanyakan suratnya, Al-Quran yang mulia telah memberikan anjuran tentang tauhid uluhiyah dan berdoa kepada Allah semata. Dalam surat Al-Fatihah, kita membaca:
إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ
“Hanya kepada-Mu lah kami beribadah dan hanya kepada-Mu lah kami memohon pertolongan.”
و معناها نخصّك بالعبادة ، فندعوك وحدك ، و لا نستعين بغيرك
Maknanya yaitu kami mengkhususkan untuk-Mu ibadah, karenanya kami berdoa kepada-Mu semata, dan kami tidak memohon pertolongan kepada selain-Mu.
وتوحيد الإله يشمل إفراده في دعائه ، و الحكم بقرآنه ، و الاحتكام إلى شرعه ، و كله داخل في قوله تعالى:
Tauhid uluhiyah ini mencakup mengesakan-Nya dalam hal berdoa kepada-Nya, berhukum kepada kitab-Nya, dan merujuk kepada syariat-Nya. Semua itu masuk dalam firman-Nya:
إِنَّنِي أَنَا اللَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنَا فَاعْبُدْنِي
“Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan (yang hak) selain Aku, maka beribadahlah kepada-Ku!” (Minhaj Al-Firqah An-Najiyah wa Ath-Thaifah Al-Manshurah)
Lantas, apa saja penyimpangan terkait dengan tauhid ini?
- Rukuk dan sujud kepada selain Allah.
Syekh Muhammad bin Saleh Al-‘Utsaimin berkata:
فلو ركع لإنسان، أو سجد لشيء يعظمه كتعظيم الله في هذا الركوع أو السجود; لكان مشركا،
“Kalau seseorang rukuk kepada orang lain atau sujud kepada sesuatu yang ia agungkan seperti pengagungannya terhadap Allah dalam hal rukuk atau sujud ini, maka ia telah menjadi musyrik.
ولهذا منع النبي ﷺ من الانحناء عند الملاقاة؛ لما سئل عن الرجل يلقى أخاه ينحني له؟ قال: “لا”.
Karena itulah Nabi ﷺ melarang menunduk ketika bertemu dengan orang lain. Tatkala beliau ditanya tentang seseorang yang bertemu dengan temannya, apakah ia menunduk kepadanya? Beliau menjawab, ‘Tidak.’
خلافا لما يفعله بعض الجهال إذا سلم عليك انحنى لك; فيجب على كل مؤمن بالله أن ينكره; لأنه عظمك على حساب دينه.
Itu berbeda dengan apa yang dilakukan oleh sebagian orang bodoh yaitu jika ia mengucapkan salam kepadamu, maka ia menunduk kepadamu. Karenanya, setiap orang yang beriman kepada Allah harus mengingkari itu. Sebab, ia memuliakanmu dengan mengorbankan agamanya.” (Al-Qaul Al-Mufid ‘Alaa Kitab At-Tauhid)
Al-Khathib Asy-Syirbini berkata:
وَمِمَّا يَحْرُمُ مَا يَفْعَلُهُ كَثِيرٌ مِنْ الْجَهَلَةِ مِنْ السُّجُودِ بَيْنَ يَدَيْ الْمَشَايِخِ وَلَوْ إلَى الْقِبْلَةِ أَوْ قَصَدَهُ لِلَّهِ تَعَالَى. وَفِي بَعْضِ صُوَرِهِ مَا يَقْتَضِي الْكُفْرَ، عَافَانَا اللَّهُ تَعَالَى مِنْ ذَلِكَ.
“Di antara perkara yang haram yaitu apa yang dilakukan oleh banyak orang bodoh berupa sujud di hadapan syekh-syekh, walaupun ke arah kiblat atau menujukan itu kepada Allah. Dan pada sebagian bentuknya ada yang memiliki konsekuensi kekafiran. Semoga Allah melindungi kita dari demikian.” (Mughni Al-Muhtaj Ilaa Ma’rifah Ma’ani Alfazh Al-Minhaj)
- Tawaf di kuburan dan meminta pertolongan kepada penghuni kubur.
Imam Ash-Shan’ani berkata:
وكذلك تسمِيةُ القبرِ مَشهداً، ومَن يعتقدون فيه وليًّا، لا تخرجه عن اسم الصَّنم والوثن؛ إذ هم مُعاملون لها معاملة المشركين للأصنام،
“Demikian pula menamai kubur dengan ‘masyhad’ (tempat berkumpul) dan menamai orang-orang yang mereka yakini memiliki keistimewaan dengan ‘wali’, itu semua tidak mengeluarkannya dari nama berhala. Karena, mereka memperlakukan itu seperti kaum musyrikin memperlakukan berhala-berhala.
ويطوفون بهم طواف الحجاج ببيت الله الحرام، ويَستلمونهم استلامَهم لأركان البيت، ويُخاطبون الميت بالكلمات الكفرية، مِن قولهم: على الله وعليك، ويَهتفون بأسمائِهم عند الشدائد ونحوها.
Mereka tawaf sekeliling kubur dan wali-wali itu seperti jamaah haji tawaf sekeliling rumah Allah yang disucikan. Mereka menyentuh semua tadi seperti mereka menyentuh Hajar Aswad dan rukun Yamani. Mereka mengajak bicara orang mati dengan perkataan-perkataan kufur. Di antara perkataan mereka: ‘Kepada Allah dan kepadamu’. Dan mereka memanggil nama-nama mereka ketika terjadi bencana dan semacamnya.
وكلُّ قوم لهم رَجل ينادونه.
Setiap kaum mempunyai sosok yang mereka panggil.
فأهلُ العراق والهند يَدعون عبد القادر الجيلي.
Penduduk Irak dan India memanggil ‘Abdul Qadir Jaelani.
وأهل التهائم لهم في كلِّ بلد ميتٌ يهتفون باسمه، يقولون: يا زيلعي! يا ابن العجيل!
Penduduk Tihamah, pada setiap kota mereka ada orang mati yang mereka panggil namanya. Mereka memanggil, ‘Wahai Zaila’i! Wahai Ibn Al-‘Ajiil!’
وأهلُ مكة وأهل الطائف: يا ابن العباس!
Penduduk Mekah dan Thaif memanggil, ‘Wahai Ibnu ‘Abbas!’
وأهل مصر: يا رفاعي! يا بدوي! والسادة البكرية!
Penduduk Mesir memanggil, ‘Wahai Rifa’i! Wahai Badawi dan para penghulu Bakriyyah!’
وأهلُ الجبال: يا أبا طير!
Penduduk Jibal memanggil, ‘Wahai Abu Thair!’
وأهل اليمن: يا ابن علوان!
Penduduk Yaman memanggil, ‘Wahai Ibn ‘Ulwan!’
وفي كلِّ قرية أمواتٌ يهتفون بهم وينادونهم ويرجونهم لجلب الخير ودفع الضر،
Setiap kampung ada orang-orang sudah mati yang mereka seru, mereka panggil, dan mereka harapkan bisa menarik manfaat dan menolak madarat.
وهذا هو بعينه فعلُ المشركين في الأصنام.
Itulah sebenarnya perbuatan kaum musyrikin terhadap berhala-berhala.” (Tathhiir Al-I’tiqaqad An Adraan Al-Ilhad)
(bersambung)
Siberut, 2 Muharram 1444
Abu Yahya Adiya






