Penyimpangan Terkait dengan Tauhid Asma wa Shifat

Penyimpangan Terkait dengan Tauhid Asma wa Shifat

Apa sajakah penyimpangan terkait dengan tauhid asma wa shifat?

Syekhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata:

وَمِنَ الْإِيمَانِ بِاللَّهِ:

“Termasuk iman kepada Allah yaitu:

الْإِيمَانُ بِمَا وَصَفَ بِهِ نَفْسَهُ فِي كِتَابِهِ. وَبِمَا وَصَفَهُ بِهِ رَسُولُهُ مُحَمَّدٌ ﷺ. مِنْ غَيْرِ: تَحْرِيفٍ وَلَا تَعْطِيلٍ، وَمِنْ غَيْرِ: تَكْيِيفٍ وَلَا تَمْثِيلٍ.

Mengimani sifat yang Allah berikan kepada diri-Nya dalam kitab-Nya dan sifat yang diberikan rasul-Nya, Muhammad ﷺ kepada diri-Nya, tanpa tahrif (menyelewengkannya), dan ta’thil (menolaknya), dan tanpa takyif (menentukan hakekatnya) dan tamtsil (menyerupakannya dengan makhluk-Nya).

بَلْ يُؤْمِنُونَ بِأَنَّ اللَّهَ تَعَالَى: {لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ}

Bahkan, Ahlussunnah beriman bahwa tidak ada sesuatu yang menyerupai-Nya dan Dia Maha mendengar lagi Maha melihat.” (Al-‘Aqidah Al-Wasithiyyah)

Kalau demikian, penyimpangan terkait dengan tauhid asma wa shifat yaitu:

 

  1. Tahrif (menyelewengkannya).

Apa itu tahrif?

Syekh Muhammad bin Jamil Zainu berkata:

هو صرف ظاهر الآيات و الأحاديث الصحيحة إلى معنى آخر باطل مثل استوى بمعنى استولى.

“Yaitu memalingkan lahiriah ayat dan hadis-hadis sahih pada makna lain yang batil. Seperti istawa (tinggi di atas) diartikan istaula (menguasai).” (Minhaj Al-Firqah An-Najiyah wa Ath-Thaifah Al-Manshurah)

Maksud Syekh yaitu seperti yang dilakukan sekte Asy’ariyyah terhadap firman Allah:

الرَّحْمَنُ عَلَى العَرْشِ اسْتَوَى

“Yang Maha Pengasih, yang istawa Arsy.” (QS. Thahaa: 5)

Dan makna istawa yaitu:

الْعُلُوّ والارتفاع

“Tinggi di atas.” (Al-‘Aqidah Riwayah Abi Bakr Al-Khollal)

Artinya, makna ayat tadi yaitu Tuhan Yang Maha Pengasih tinggi di atas Arsy.

Sangat terang dan jelas. Namun, anehnya, sekte Asy’ariyyah membelokkan makna istawa menjadi menguasai, sehingga makna ayat tadi berubah menjadi: “Tuhan Yang Maha Pengasih menguasai Arsy.”

Mereka melakukan demikian, karena mengikuti Jahmiyyah, dan sekte bidah lainnya.

Imam Ibnu Khuzaimah berkata:

فَنَحْنُ نُؤْمِنُ بِخَبَرِ اللَّهِ جَلَّ وَعَلَا أَنَّ خَالِقَنَا مُسْتَوٍ عَلَى عَرْشِهِ، لَا نُبَدِّلُ كَلَامَ اللَّهِ، وَلَا نَقُولُ قَوْلًا غَيْرَ الَّذِي قِيلَ لَنَا، كَمَا قَالَتِ الْمُعَطِّلَةُ الْجَهْمِيَّةُ:

“Kita mengimani kabar dari Allah bahwa Pencipta kita di atas Arsy-Nya. Kita tidak akan mengganti perkataan Allah dan tidak akan mengucapkan perkataan yang tidak dikatakan kepada kita. Sebagaimana para penolak sifat yaitu Jahmiyyah berkata:

إِنَّهُ اسْتَوْلَى عَلَى عَرْشِهِ، لَا اسْتَوَى

“Sesungguhnya Allah menguasai Arsy, bukan di atas Arsy!”

فَبَدَّلُوا قَوْلًا غَيْرَ الَّذِي قِيلَ لَهُمْ، كَفِعْلِ الْيَهُودِ كَمَا أُمِرُوا أَنْ يَقُولُوا: حِطَّةٌ، فَقَالُوا: حِنْطَةٌ، مُخَالِفِينَ لِأَمْرِ اللَّهِ جَلَّ وَعَلَا كَذَلِكَ الْجَهْمِيَّةُ

Mereka telah mengganti firman-Nya dengan perkataan yang tidak dikatakan kepada mereka. Itu serupa dengan perbuatan kaum Yahudi. Mereka diperintahkan untuk mengucapkan hiththah (berilah kami ampun), tetapi mereka malah mengucapkan hinthah (berilah kami gandum), untuk menyalahi perintah Allah. Maka begitu pula dengan kaum Jahmiyyah!” (At-Tauhid)

 

  1. Ta’thil (menolaknya).

Apa itu ta’thil?

Syekh Muhammad bin Jamil Zainu berkata:

هو جحد صفات الله و نفيها عنه كعلوّ الله على السماء

“Yaitu mengingkari sifat-sifat Allah dan menolaknya. seperti (mengingkari) Allah berada di atas langit.” (Minhaj Al-Firqah An-Najiyah wa Ath-Thaifah Al-Manshurah)

Maksud Syekh yaitu seperti yang dilakukan sekte Muktazilah, Asy’ariyyah dan sekte lainnya yang menolak ketinggian Allah di atas Arsy.

 

  1. Takyif (menentukan hakekatnya).

Apa itu takyif?

Syekh Muhammad bin Jamil Zainu berkata:

هو تكييف صفات الله و أن كيفيتها كذا

“Yaitu menentukan hakekat sifat-sifat Allah dan bahwasanya sifat-sifat-Nya seperti begini dan begitu.” (Minhaj Al-Firqah An-Najiyah wa Ath-Thaifah Al-Manshurah)

Seperti apakah contoh takyif?

Seperti dengan mengatakan, “Ketinggian Allah di atas Arsy yaitu seperti begini dan begitu!”

Syekh Muhammad bin Jamil Zainu berkata:

فعلوّ الله على العرش لا يشبه مخلوقاته و لا يعلم كيفيته أحد إلا الله .

“Ketinggian Allah di atas Arsy tidak serupa dengan makhluk-Nya, dan tak seorang pun yang mengetahui hakekat sesungguhnya kecuali Allah semata.” (Minhaj Al-Firqah An-Najiyah wa Ath-Thaifah Al-Manshurah)

Artinya, tidak ada yang mengetahui hakekat ketinggian Allah di atas Arsy kecuali Dia sendiri. Karena itu, bagaimana bisa seseorang berani menentukan hakekatnya?

Bukankah itu sikap yang lancang terhadap Tuhannya?

 

  1. Tamtsil (menyerupakannya).

Apa itu tamtsil?

Syekh Muhammad bin Jamil Zainu berkata:

تمثيل صفات الله بصفات خلقه فلا يقال : ينزل الله إلى السماء كنزولنا

“Yaitu menyerupakan sifat Allah dengan sifat makhluk-Nya. Karena itu, tidak dikatakan, Allah turun ke langit dunia, seperti turunnya kita.” (Manhaj Al-Firqah An-Najiyah wa Ath-Thaifah Al-Manshurah)

Maksud Syekh yaitu seperti yang dituduhkan kepada Syekhul Islam Ibnu Taimiyyah bahwa beliau menyatakan bahwa maksud Allah turun ke langit dunia (sebagaimana disebutkan dalam hadis sahih) yaitu seperti turunnya kita dari kursi.

Syekh Muhammad bin Jamil Zainu berkata:

ومن الكذب نسبة هذا التشبيه إلى شيخ الاسلام ابن تيمية ، إذ لم نجده في كتبه بل وجدنا نفيه للتمثيل و التشبيه.

“Dan termasuk kedustaan yaitu menyandarkan kepada Syekhul Islam Ibnu Taimiyah bahwa beliau telah menyerupakan sifat turunnya Allah ke langit dunia dengan turunnya makhluk. Karena, kita tidak menemukan keterangan tersebut dalam kitab-kitab beliau, justru sebaliknya, yang kita temukan adalah pernyataan beliau yang menolak kesamaan dan keserupaan Allah dengan makhluk-Nya dalam hal itu.” (Manhaj Al-Firqah An-Najiyah wa Ath-Thaifah Al-Manshurah)

 

  1. Tafwidh (menyerahkan kepada-Nya).

Syekh Muhammad bin Jamil Zainu berkata:

التفويض : عند السلف في الكيف لا في المعنى

“Menurut ulama salaf, tafwidh hanya dalam hal hakekat dari sifat-Nya, bukan dalam hal makna dari sifat-Nya.” (Manhaj Al-Firqah An-Najiyah wa Ath-Thaifah Al-Manshurah)

Maksud Syekh di sini yaitu para ulama salaf menerima dan mengimani sifat-sifat Allah beserta maknanya. Adapun hakekat dari sifat-sifat-Nya, maka mereka menyerahkan pengetahuan tentang itu kepada-Nya.

Contohnya, Allah berfirman:

الرَّحْمَنُ عَلَى العَرْشِ اسْتَوَى

“Yang Maha Pengasih, yang istawa Arsy.” (QS. Thahaa: 5)

Dan makna istawa yaitu:

الْعُلُوّ والارتفاع

“Tinggi di atas.” (Al-‘Aqidah Riwayah Abi Bakr Al-Khollal)

Artinya, makna ayat tadi yaitu Tuhan Yang Maha Pengasih tinggi di atas Arsy.

Para ulama salaf, Ahlussunnah wal Jama’ah menerima dan meyakini ketinggian Allah di atas Arsy berdasarkan ayat itu. Adapun hakekat ketinggian-Nya di atas Arsy seperti apa, maka mereka menyerahkan pengetahuan tentang itu kepada-Nya.

Kalau demikian, sesatlah orang yang berkata, “Kita tidak tahu apa itu makna istawa. Kita serahkan saja pengetahuan tentang maknanya kepada Allah!”

Imam Malik pernah berkata:

الاستواء غير مجهول، والكيف غير معقول، والإيمان به واجب، والسؤال عنه بدعة

Istawa itu diketahui maknanya, sedangkan bagaimana hakikatnya itu tidak diketahui. Sementara beriman bahwa Dia istawa Arsy adalah wajib. Dan bertanya tentang hakikatnya adalah bidah!” (‘Aqidah As-Salaf Ashhab Al-Hadits)

Karena itu, siapa yang tidak menetapkan sifat Allah dengan alasan tidak mengetahui maknanya, maka ia telah menyimpang dari jalan-Nya.

Syekh Muhammad bin Saleh Al-‘Utsaimin berkata:

وبهذا علم بطلان مذهب المفوضة الذين يفوضون علم معاني نصوص الصفات، ويدعون أن هذا مذهب السلف. والسلف بريئون من هذا المذهب

“Dari sini diketahui batilnya pendapat kaum Mufawwidhah yang menyerahkan pengetahuan tentang makna ayat-ayat sifat kepada-Nya dan mereka mengklaim bahwa itulah pendapat salaf, padahal salaf berlepas diri dari pendapat tersebut.

وقد تواترت الأقوال عنهم بإثبات المعاني لهذه النصوص إجمالاً أحياناً وتفصيلاً أحياناً، وتفويضهم الكيفية إلى علم الله – عز وجل.

Telah banyak perkataan dari salaf yang menetapkan makna dari ayat-ayat sifat, kadang secara umum dan kadang secara terperinci dan mereka menyerahkan hakekat dari sifat-sifat tersebut kepada pengetahuan Allah.” (Al-Qawa’id Al-Mutslaa)

Maka, Ahlussunnah wal Jama’ah menerima dan mengimani semua sifat Allah yang disebutkan dalam Al-Quran dan hadis sahih, sesuai dengan keagungan dan kemuliaan-Nya.

Mereka tidak menolak sifat-Nya, tidak menyelewengkan maknanya, tidak menentukan hakekatnya, dan tidak menyerupakannya dengan sifat makhluk-Nya.

Mereka menerima sifat-sifat-Nya beserta maknanya. Adapun hakekat dari sifat-Nya, maka mereka menyerahkan pengetahuan tentang itu kepada-Nya.

 

Siberut, 6 Muharram 1444

Abu Yahya Adiya