Suatu hari Nafi’ sedang berjalan bersama Ibnu ‘Umar lalu keduanya mendengar suara seruling seorang penggembala. Maka Ibnu ‘Umar pun menutup kedua telinganya dengan kedua jarinya, lalu mencari jalan yang lain.
Ibnu ‘Umar berkata kepada Nafi’:
يَا نَافِعُ هَلْ تَسْمَعُ شَيْئًا؟
“Wahai Nafi, apakah engkau masih mendengar suara tersebut?”
Nafi’ menjawab:
لَا
“Tidak.”
Ibnu ‘Umar pun melepaskan jarinya dari telinganya lalu berkata:
كُنْتُ مَعَ النَّبِيِّ ﷺ فَسَمِعَ مِثْلَ هَذَا فَصَنَعَ مِثْلَ هَذَا
“Aku pernah bersama Nabi ﷺ lalu beliau mendengar suara seperti itu, maka beliau ﷺ pun berbuat sepertiku ini.” (HR. Abu Daud)
Ada beberapa pelajaran yang bisa kita petik dari hadis ini:
1. Terlarangnya memainkan seruling.
Syekh ‘Abdul Muhsin Al-‘Abbad berkata:
وهذا يدل على أن استعمال المزامير غير سائغ، وقد جاء ما يدل على ذلك في أحاديث أخرى منها الحديث الذي في البخاري: (يستحلون الحر والحرير والخمر والمعازف
“Ini menunjukkan bahwa menggunakan seruling tidak diperbolehkan. Sungguh, telah ada yang menunjukkan demikian dalam hadis-hadis lain, di antaranya hadis yang ada dalam Shahih Bukhari.” (Syarh Sunan Abu Daud)
Hadis yang beliau isyaratkan yaitu sabda Nabi ﷺ:
لَيَكُونَنَّ مِنْ أُمَّتِي أَقْوَامٌ، يَسْتَحِلُّونَ الحِرَ وَالحَرِيرَ، وَالخَمْرَ وَالمَعَازِفَ
“Akan muncul dari umatku orang-orang yang menghalalkan zina, kain sutra, minuman keras, dan alat-alat musik.” (HR. Bukhari)
2. Siapa yang tidak sanggup mengingkari suatu kemungkaran, maka hendaknya ia menjauh dari kemungkaran tersebut dan juga pelakunya. Seperti yang telah dicontohkan oleh Ibnu ‘Umar tadi.
3. Keutamaan Ibnu ‘Umar. Ia merupakan orang yang sangat semangat meneladani Nabi ﷺ dalam segala hal.
Suatu hari Nabi ﷺ berada di masjid. Beliau ﷺ melihat suatu pintu masjid lalu bersabda:
لَوْ تَرَكْنَا هَذَا الْبَابَ لِلنِّسَاءِ
“Sebaiknya pintu ini untuk kaum wanita saja.”
Lalu apa yang dilakukan oleh Ibnu ‘Umar setelah mengetahui perkataan Nabi ﷺ itu?
Nafi’ berkata:
فَلَمْ يَدْخُلْ مِنْهُ ابْنُ عُمَرَ، حَتَّى مَاتَ
“Maka Ibnu ‘Umar tidak pernah masuk lewat pintu itu lagi sampai ia meninggal dunia.” (HR. Abu Daud)
Apa arti semua ini?
Itulah cinta. Cinta itu tidak cukup dengan pengakuan, melainkan perlu pembuktian.
Allah berfirman:
قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ
“Katakanlah (wahai Rasul): ‘Jika kalian memang mencintai Allah, maka ikutilah aku, niscaya Allah mencintai kalian dan mengampuni dosa kalian.” (QS. Ali-‘Imran: 31)
Siberut, 23 Rabi’ul Awwal 1445
Abu Yahya Adiya






