Permasalahan Seputar Jihad (Bag. 3)

Permasalahan Seputar Jihad (Bag. 3)

 

  1. Apakah boleh membakar musuh?

Abu Hurairah berkata:

بَعَثَنَا رَسُولُ اللَّهِ ﷺ فِي بَعْثٍ فَقَالَ

“Rasulullah ﷺ mengutus kami dalam pengiriman pasukan, lalu beliau bersabda:

إِنْ وَجَدْتُمْ فُلَانًا وَفُلَانًا فَأَحْرِقُوهُمَا بِالنَّارِ

“Jika kalian menemukan fulan dan fulan, maka bakarlah keduanya dengan api!”

ثُمَّ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ حِينَ أَرَدْنَا الْخُرُوجَ

Kemudian Rasulullah ﷺ bersabda ketika kami hendak berangkat:

إِنِّي أَمَرْتُكُمْ أَنْ تُحْرِقُوا فُلَانًا وَفُلَانًا وَإِنَّ النَّارَ لَا يُعَذِّبُ بِهَا إِلَّا اللَّهُ فَإِنْ وَجَدْتُمُوهُمَا فَاقْتُلُوهُمَا

“Sesungguhnya aku telah memerintahkan kalian agar membakar fulan dan fulan. Sesungguhnya tidak boleh ada yang menyiksa dengan api kecuali Allah. Oleh karena itu, bila kalian menemukan keduanya, maka bunuhlah keduanya!” (HR. Bukhari)

Ibnu Baṭṭāl berkata:

ليس نهيه ﷺ عن التحريق بالنار على معنى التحريم، وإنما هو على سبيل التواضع لله، وأن لا يتشبه بغضبه فى تعذيب الخلق؛ إذ القتل يأتى على ما يأتى عليه الإحراق

“Larangan beliau untuk membakar dengan api bukan bermakna pengharaman, melainkan itu sebagai bentuk kerendahan hati kepada Allah dan agar tidak menyerupai kemarahan-Nya dalam menyiksa makhluk. Sebab, pembunuhan juga terjadi dengan pembakaran.” (Syarḥ Ṣaḥīḥ Al-Bukhārī)

Apa dalil perkataan beliau?

Di antaranya perbuatan Nabi ﷺ terhadap orang-orang yang murtad, membunuh penggembala beliau ﷺ, kemudian mereka mencuri unta-unta beliau ﷺ. Maka beliau ﷺ engutus beberapa orang sahabat untuk mengejar mereka

Anas bin Malik berkata:

فَأُتِيَ بِهِمْ، فَقَطَعَ أَيْدِيَهُمْ وَأَرْجُلَهُمْ، وَسَمَلَ أَعْيُنَهُمْ

“Mereka pun ditangkap, lalu tangan dan kaki-kaki mereka dipotong, mata mereka dicungkil dengan besi panas.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Namun Al-Ḥāfiẓ Ibnu Ḥajar berkata:

وقال ابن المنير وغيره: لا حجة فيما ذكر للجواز، لأن قصة العرنيين كانت قصاصا أو منسوخة كما تقدم.

“Ibnu Al-Munīr dan selainnya menyatakan tidak ada hujah dalam hadis tadi untuk menyatakan bolehnya demikian. Sebab kisah itu menjelaskan bentuk kisas atau telah dihapus hukumnya, sebagaimana telah berlalu.” (Fatḥu Al-Bārī Syarḥ Ṣaḥīḥ Al-Bukhārī)

Karena itu, beliau menyimpulkan:

وأما حديث الباب فظاهر النهي فيه التحريم

“Adapun hadis dalam permasalahan ini, maka yang tampak dari larangan di sini adalah pengharaman.” (Fatḥu Al-Bārī Syarḥ Ṣaḥīḥ Al-Bukhārī)

Imam Ibnu Qudāmah berkata:

أمَّا العدُوُّ إِذا قُدِرَ عليه، فلا يجوزُ تَحْرِيقُه بالنَّارِ، بغيرِ خلافٍ نَعْلَمُه

“Adapun musuh, jika bisa dikuasai, maka tidak boleh dibakar dengan api, tanpa ada perbedaan pendapat yang kami ketahui.” (Al-Mugnī)

Lantas, bagaimana jika tidak bisa mengalahkan musuh melainkan dengan membakar mereka?

Imam Ibnu Qudāmah berkata:

فأمَّا رَمْيُهم قبلَ أخْذِهم بالنارِ، فإنْ أمْكَنَ أخْذُهم بدُونِها، لم يَجُزْ رَمْيُهم بها؛ لأنَّهُم فى معنَى المَقْدورِ عليه، وأمَّا عندَ العَجْزِ عنهم بغيرِها، فجائِزٌ، فى قولِ أَكْثرِ أهْلِ العِلْمِ. وبه قال الثَّوْرِىُّ، والأوْزَاعِىُّ، والشافِعِىُّ. ورَوَى سعيدٌ ، بإسْنادِه عن صَفْوانَ بن عمرٍو، وجَرِيرِ بن عثمانَ، أنَّ جُنادَةَ بن أبى أُمَيَّةَ الأزْدِىَّ، وعبدَ اللَّه بن قَيْس الْفَزارِىَّ، وغيرَهما من وُلاةِ البَحْرَيْن، ومَنْ بعدَهم، كانُوا يَرْمُون العَدُوَّ من الرُّومِ وغيرِهم بالنَّارِ، ويُحَرِّقُونَهم، هؤلاء لهؤلاء، وهؤلاء لهؤلاء. قال عبدُ اللَّه بن قَيْسٍ:

“Adapun melempari mereka dengan api sebelum menangkap mereka, jika mungkin menangkap mereka tanpa menggunakan api, maka tidak boleh melempari mereka dengan api. Sebab, mereka termasuk dalam makna ‘yang dapat dikuasai’. Adapun jika tidak mampu menghadapi mereka tanpa api, maka melempari mereka dengan api diperbolehkan, menurut pendapat mayoritas ulama. Dan itulah pendapat Aṡ-Ṡaurī, Al-Auzā’ī, dan Asy-Syāfi’ī. Dan Sa’id meriwayatkan dengan sanadnya dari Ṣafwān bin ’Amru dan Jarīr bin Uṡmān, bahwa Junādah bin Abī Umayyah Al-Azdiy, ’Abdullāh bin Qais Al-Fazāriy, dan para penguasa Bahrain selain mereka serta orang setelah mereka, mereka biasa melempari musuh dari kalangan Romawi dan selain mereka dengan api, dan membakar mereka; ini dilakukan oleh pihak ini terhadap pihak itu, dan sebaliknya. ’Abdullāh bin Qais berkata:

لم يَزلْ أمْرُ المسلمين على ذلك

“Perkara kaum muslimin terus demikian.” (Al-Mugnī)

 

  1. Jika harta seorang muslim direbut oleh musuh dalam perang, kemudian berhasil direbut oleh lagi kaum muslimin, maka siapa yang berhak memilikinya?

’Ubaidullāh bin ’Umar berkata:

أَخْبَرَنِي نَافِعٌ: أَنَّ عَبْدًا لِابْنِ عُمَرَ أَبَقَ فَلَحِقَ بِالرُّومِ فَظَهَرَ عَلَيْهِ خَالِدُ بْنُ الْوَلِيدِ فَرَدَّهُ عَلَى عَبْدِ اللَّهِ، وَأَنَّ فَرَسًا لِابْنِ عُمَرَ عَارَ فَلَحِقَ بِالرُّومِ، فَظَهَرَ عَلَيْهِ فَرَدُّوهُ عَلَى عَبْدِ اللَّهِ.

“Nāfi’ mengabarkan kepadaku bahwa budak Ibnu ’Umar melarikan diri ke negeri Romawi. Kemudian Khālid bin Al-Walīd bisa menguasainya lalu mengembalikannya kepada Ibnu ’Umar dan bahwasanya seekor kuda milik Ibnu ’Umar kabur, maka Khālid menyusulnya di negeri Romawi, lalu berhasil menguasainya kemudian mengembalikannya kepada Ibnu ’Umar.” (HR. Bukhārī)

Imam Asy-Syaukānī berkata:

وقد ذهب الشافعي، وجماعة من أهل العلم إلى أن أهل الحرب لا يملكون بالغلبة شيئا من أموال المسلمين، ولصاحبه أخذه قبل الغنيمة وبعدها. وروي عن علي، والزهري، وعمرو بن دينار، والحسن: أنه لا يرد أصلا، ويختص به أهل المغانم.

وروي عن عمر، وسليمان بن ربيعة، وعطاء، والليث، ومالك، وأحمد، وآخرين: إن وجده صاحبه قبل القسمة؛ فهو أحق به، وإن وجده بعد القسمة؛ فلا يأخذه إلا بالقيمة.

“Asy-Syāfi’ī dan sekelompok ulama berpendapat bahwa orang yang berperang tidak dapat memiliki sedikit pun kepemilikan atas harta kaum muslimin dengan cara paksa dan pemiliknya boleh mengambilnya, baik sebelum pembagian rampasan, maupun setelahnya. Dan diriwayatkan dari ’Ali, Az-Zuhrī, ’Amru bin Dīnār, dan Al-Ḥasan bahwa barang yang ditemukan tidak boleh dikembalikan sama sekali, dan hanya diperuntukkan bagi orang yang mendapatkan rampasan perang. Dan diriwayatkan dari ’Umar, Sulaimān bin Rabī’ah,’Aṭā‘, Al-Laiṡ, Mālik, Aḥmad, dan yang lainnya bahwa jika pemiliknya menemukan barang itu sebelum pembagian rampasan perang, maka dialah yang lebih berhak memilikinya. Namun, jika ditemukan setelah pembagian, maka tidak boleh ia mengambilnya kecuali dengan membayar harga (nilai barang tersebut).” (Ad-Darārī Al-Muḍiyyah Syarḥ Ad-Durar Al-Bahiyyah)

 

(bersambung)

 

Siberut, 21 Rabī’ul Ṡāni 1447

Abu Yahya Adiya