Permasalahan Seputar Wikalat (Perwakilan)

Permasalahan Seputar Wikalat (Perwakilan)

1. Apa hukum perwakilan?

Imam Ibnu Qudamah berkata:

وَهِيَ جَائِزَةٌ بِالْكِتَابِ وَالسُّنَّةِ وَالْإِجْمَاعِ

“Itu diperbolehkan berdasarkan Al-Quran, As-Sunnah, dan ijmak.” (Al-Mughni)

Adapun dalil dari Al-Quran yakni kabar dari Allah tentang Ashhabul Kahfi bahwa mereka berkata:

فَابْعَثُوا أَحَدَكُمْ بِوَرِقِكُمْ هَذِهِ إِلَى الْمَدِينَةِ فَلْيَنْظُرْ أَيُّهَا أَزْكَى طَعَامًا فَلْيَأْتِكُمْ بِرِزْقٍ مِنْهُ

“Maka suruhlah salah seorang di antara kalian pergi ke kota dengan membawa uang perak kalian ini, dan hendaklah ia lihat manakah makanan yang lebih baik, maka hendaklah ia membawa makanan itu untuk kalian.” (QS. Al-Kahfi: 19)

Imam Ibnu Qudamah berkata:

وَهَذِهِ وَكَالَةٌ.

“Dan itulah perwakilan.” (Al-Mughni)

Adapun dalil dari As-Sunnah yakni kabar dari Abu Rafi’ bahwa ia berkata:

تَزَوَّجَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ مَيْمُونَةَ حَلَالًا، وَبَنَى بِهَا حَلَالًا وَكُنْتُ الرَّسُولَ بَيْنَهُمَا

“Rasulullah ﷺ menikahi Maimunah dalam keadaan halal (tidak berihram), dan beliau mencampurinya dalam keadaan halal (tidak berihram), dan akulah perantara antara keduanya.” (HR. Ahmad, Ad-Darimi dan lain-lain)

Adapun ijmak, maka Imam Ibnu Qudamah telah berkata:

وَأَجْمَعَتْ الْأُمَّةُ عَلَى جَوَازِ الْوَكَالَةِ فِي الْجُمْلَةِ. وَلِأَنَّ الْحَاجَةَ دَاعِيَةٌ إلَى ذَلِكَ؛ فَإِنَّهُ لَا يُمْكِنُ كُلَّ وَاحِدٍ فِعْلُ مَا يَحْتَاجُ إلَيْهِ، فَدَعَتْ الْحَاجَةُ إلَيْهَا.

“Dan umat telah sepakat akan bolehnya perwakilan secara umum dan karena hajat mendorong demikian. Karena setiap orang tidak bisa melakukan segala yang ia butuhkan, makanya dibutuhkan perwakilan.” (Al-Mughni)

 

2. Apakah boleh perwakilan dengan imbalan?

Syekh Muhammad bin Ibrahim At-Tuwaijiri berkata:

وتجوز بأجر وبدون أجر.وتستحب بدون أجر؛ لأنها نوع من التعاون على البر والتقوى، وفيها أجر وثواب؛ لما فيها من إعانة المسلم، وقضاء حاجته. قال الله تعالى:

“Perwakilan diperbolehkan dengan imbalan maupun tanpa imbalan, akan tetapi disukai tanpa imbalan. Sebab, itu termasuk tolong-menolong dalam kebajikan dan ketakwaan dan ada pahala dan ganjaran dalam perbuatan tersebut, karena terkandung di dalamnya pertolongan terhadap muslim dan penunaian terhadap hajatnya. Allah berfirman (QS. Al-Maidah: 2):

وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَى

“Dan tolong-menolonglah kalian dalam mengerjakan kebajikan dan takwa.” (Mausuah Al-Fiqh Al-Islaami)

 

3. Apa syarat bolehnya perwakilan?

Syekh Muhammad bin Ibrahim At-Tuwaijiri berkata:

شروط الوكالة:

“Syarat-syarat perwakilan:

1 – يشترط في الموكل أن يكون أهلاً للتصرف، وأن يكون مالكاً لما يوكل فيه.

  1. Disyaratkan pada orang yang mewakilkan yakni ia orang yang boleh mengelola harta dan memiliki kuasa atas apa yang diwakilkan.

2 – يشترط في الوكيل أن يكون أهلاً للتصرف.

  1. Disyaratkan pada wakil yakni ia orang yang boleh mengelola harta.

3 – يشترط في الموكَّل فيه أن يكون معلوماً للوكيل، أو مجهولاً جهالة غير فاحشة، وأن يكون قابلاً للنيابة كالبيع والشراء ونحوهما، وأن يكون مباحاً

  1. Disyaratkan pada perkara yang diwakilkan yakni itu diketahui oleh wakil atau sedikit tidak diketahui, bisa diwakilkan, seperti jual beli dan semacamnya, dan diperbolehkan.” (Mausuah Al-Fiqh Al-Islaami)

Karena itu….

Perwakilan tidak sah, jika orang yang mewakilkan adalah anak yang belum balig atau orang yang idiot.

Perwakilan tidak sah, jika orang yang mewakilkan tidak memiliki kuasa atas perkara yang hendak diwakilkan.

Perwakilan tidak sah, jika orang yang jadi wakil adalah anak yang belum balig atau orang yang idiot.

Perwakilan tidak sah, jika perkara yang diwakilkan benar-benar tidak diketahui oleh wakil.

Perwakilan tidak sah, jika perkara yang hendak diwakilkan termasuk perkara yang tidak boleh diwakilkan, seperti bersuci, salat, dan puasa.

Perwakilan tidak sah, jika perkara yang hendak diwakilkan termasuk perkara yang diharamkan, seperti membuat minuman keras, menjual barang haram, dan semacamnya.

Imam Ibnu Qudamah berkata:

وَكُلُّ مَنْ صَحَّ تَصَرُّفُهُ فِي شَيْءٍ بِنَفْسِهِ، وَكَانَ مِمَّا تَدْخُلُهُ النِّيَابَةُ، صَحَّ أَنْ يُوَكِّلَ فِيهِ رَجُلًا كَانَ أَوْ امْرَأَةً، حُرًّا أَوْ عَبْدًا

“Setiap orang yang sah bertindak sendiri dalam sesuatu dan itu termasuk perkara yang bisa diwakilkan, maka itu sah diwakilkan, baik itu pria maupun wanita, baik ia merdeka maupun budak.” (Al-Mughni)

 

4. Apakah perwakilan tetap sah dengan kehadiran orang yang mewakilkan?

Imam Ibnu Qudamah berkata:

وَيَجُوزُ التَّوْكِيلُ فِي الشِّرَاءِ وَالْبَيْعِ، وَمُطَالَبَةِ الْحُقُوقِ، وَالْعِتْقِ وَالطَّلَاقِ، حَاضِرًا كَانَ الْمُوَكِّلُ أَوْ غَائِبًا) . لَا نَعْلَمُ خِلَافًا فِي جَوَازِ التَّوْكِيلِ فِي الْبَيْعِ وَالشِّرَاءِ. وَقَدْ ذَكَرْنَا الدَّلِيلَ عَلَيْهِ مِنْ الْآيَةِ وَالْخَبَرِ، وَلِأَنَّ الْحَاجَةَ دَاعِيَةٌ إلَى التَّوْكِيلِ فِيهِ

“Diperbolehkan perwakilan dalam jual beli, menuntut hak, memerdekakan budak dan menalak, baik orang yang mewakilkan hadir maupun tidak. Kami tidak mengetahui perbedaan pendapat dalam hal bolehnya mewakilkan dalam jual beli. Sungguh, kami telah menyebutkan dalil yang menunjukkan demikian dari ayat dan hadis, dan karena kebutuhan mendorong adanya perwakilan.” (Al-Mughni)

 

5. Apakah perwakilan diperbolehkan dalam hal penegakan hukum?

Imam Ibnu Qudamah berkata:

فَأَمَّا حُقُوقُ اللَّهِ تَعَالَى فَمَا كَانَ مِنْهَا حَدًّا كَحَدِّ الزِّنَى وَالسَّرِقَةِ، جَازَ التَّوْكِيلُ فِي اسْتِيفَائِهِ؛ لِأَنَّ النَّبِيَّ ﷺ قَالَ:

“Adapun hak-hak Allah, jika itu termasuk hudud, seperti hukuman karena zina dan mencuri, maka boleh diwakilkan dalam pelaksanaannya. Sebab, Nabi ﷺ pernah bersabda:

اُغْدُ يَا أُنَيْسُ إلَى امْرَأَةِ هَذَا، فَإِنْ اعْتَرَفَتْ فَارْجُمْهَا

“Pergilah wahai Unais kepada wanita itu. Jika ia mengaku berzina, maka rajamlah ia!” (Al-Mughni)

 

Siberut, 24 Rabi’ul Awwal 1445

Abu Yahya Adiya