Menggunjing Suami

Menggunjing Suami

Aku melihat kebanyakan penghuni neraka adalah kaum wanita!

Itulah kabar dari nabi kita . Kabar tersebut membuat para sahabatnya terkejut sehingga mereka bertanya:

بِمَ يَا رَسُولَ اللَّهِ؟

Karena apa, wahai Rasulullah?

Beliau menjawab:

بِكُفْرِهِنَّ

Karena kekufuran mereka.

Ada yang bertanya:

يَكْفُرْنَ بِاللَّهِ؟

Apakah mereka kufur kepada Allah?

Beliau menjawab:

يَكْفُرْنَ العَشِيرَ، وَيَكْفُرْنَ الإِحْسَانَ، لَوْ أَحْسَنْتَ إِلَى إِحْدَاهُنَّ الدَّهْرَ كُلَّهُ، ثُمَّ رَأَتْ مِنْكَ شَيْئًا، قَالَتْ:

“Mereka kufur kepada suami mereka, dan mengingkari kebaikan suami mereka. Seandainya engkau berbuat baik kepada salah seorang di antara mereka sepanjang waktu, lalu ia melihat suatu (kesalahan) darimu, niscaya ia mengatakan:

مَا رَأَيْتُ مِنْكَ خَيْرًا قَطُّ

“Aku tidak pernah melihat kebaikan sedikit pun darimu!” (HR. Bukhari dan Muslim)

Ternyata, mengingkari kebaikan suami bukanlah perbuatan remeh. Sebab, itu bisa menghalangi seorang wanita dari surga.

Kalau sekadar mengingkari kebaikan suami saja bisa menghalangi seorang wanita dari surga, lantas bagaimana pula kalau ditambah dengan menggunjingnya dan menjatuhkan kehormatannya di hadapan orang lain?!

Menggunjing itu perbuatan hina yang hanya dilakukan oleh orang yang hina. Jika seseorang menggunjing orang lain, maka pada hakikatnya ia sedang menghinakan dirinya sendiri.

Ada seseorang yang mencela orang lain di sisi seorang ulama. Maka ulama tersebut berkata kepadanya:

قَدِ اسْتَدْلَلْتَ عَلَى كَثْرَةِ عُيُوبِكَ بِمَا تُكْثِرُ مِنْ عُيُوبِ النَّاسِ؛ لِأَنَّ الطَّالِبَ لِلْعُيُوبِ إِنَّمَا يَطْلُبُهَا بِقَدْرِ مَا فِيهِ مِنْهَا.

“Sungguh, engkau telah menunjukkan banyaknya aibmu dengan banyak menyebutkan aib orang lain. Sebab, orang yang mencari aib-aib orang lain, sesungguhnya ia mencarinya sesuai dengan kadar aib yang ada pada dirinya.” (Al-Mujaalasah wa Jawaahir Al-Ilm)

Ketika seorang wanita menggunjing suaminya sendiri, sebenarnya ia sedang mempermalukan dirinya sendiri, tanpa ia sadari. Dan tentu saja itu bukan sifat wanita yang salihah. Sebab, wanita yang salihah adalah wanita yang menjaga kehormatan suaminya.

Allah berfirman:

فَالصَّالِحَاتُ قَانِتَاتٌ حَافِظَاتٌ لِلْغَيْبِ

Wanita-wanita yang salihah adalah mereka yang taat kepada Allah dan menjaga diri ketika suami tidak ada.” (QS. An-Nisa’: 34)

Apa maksud menjaga diri ketika suami tidak ada?

Amatullah binti ‘Abdilmuthalib berkata:

وحفظها للغيب أن تحفظه في ماله وعرضه.

“Menjaga diri ketika suami tidak ada yakni menjaga harta dan kehormatan suaminya.” (Rifqan Bi Al-Qawaariir)

 

Siberut, 25 Rabi’ul Tsani 1445

Abu Yahya Adiya