Suatu hari seseorang menegur Imam Abu Hanifah dengan berkata:
اتَّقِ اللهَ
“Bertakwalah engkau kepada Allah!”
Maka apa reaksi Imam Abu Hanifah?
Bergetarlah badan beliau dan menguning wajah beliau lalu beliau menundukkan kepala beliau. Beliau pun berkata:
جَزَاكَ اللهَ خَيْراً، مَا أَحوَجَ النَّاسَ كُلَّ وَقْتٍ إِلَى مَنْ يَقُوْلُ لَهُم مِثْلَ هَذَا.
“Semoga Allah membalasmu dengan kebaikan! Alangkah butuhnya orang-orang pada orang yang mengucapkan semacam ini di setiap waktu.” (Siyar A’lam An-Nubala)
Beliau mengajarkan kepada kita sikap tawaduk. Sikap rendah hati. Walaupun memiliki kedudukan yang tinggi, beliau tidak menyombongkan diri. Beliau tetap menerima nasehat dari orang lain. Beliau tidak meremehkan orang lain. Karena, beliau tahu bahwa meremehkan itu termasuk dari kesombongan.
Abu Wahb Al-Marwazi bertanya kepada Imam Ibnul Mubarak:
مَا الكِبْرُ؟
“Apa itu kesombongan?”
Imam Ibnul Mubarak pun menjawab:
أَنْ تَزْدَرِيَ النَّاسَ
“Engkau meremehkan orang lain!” (Siyar A’lam An-Nubala)
Maka, jangan sampai kita meremehkan orang yang memberi nasehat. Hendaknya kita menerimanya dan jangan sampai kita menolaknya. Sebab, di antara tanda kesombongan adalah menolak dan meremehkan nasehat.
Siberut, 29 Rabi’ul Tsani 1445
Abu Yahya Adiya






