‘Umar mencopot Khalid bin Al-Walid sebagai komandan pasukan kaum muslimin lalu menggantinya dengan Abu ‘Ubaidah bin Al-Jarrah. Padahal, setiap pasukan yang dipimpin Khalid selalu memenangkan peperangan.
Kenapa ‘Umar malah mencopotnya?
‘Umar bin Al-Khaththab berkata:
لأَعْزِلَنَّ خَالِدَ بْنَ الْوَلِيدِ وَالْمُثَنَّى مُثَنَّى بَنِي شَيْبَانَ حَتَّى يَعْلَمَا أَنَّ اللَّهَ إِنَّمَا كَانَ يَنْصُرُ عِبَادَهُ وَلَيْسَ إِيَّاهُمَا كَانَ يَنْصُرُ.
“Sungguh, akan kucopot Khalid bin Al-Walid dan Mutsanna yakni Mutsanna bin Syaiban hingga keduanya tahu bahwa Allah menolong hamba-hamba-Nya bukan hanya menolong keduanya.” (Ath-Thabaqaat Al-Kubra)
‘Umar khawatir kaum muslimin mengira bahwa kemenangan yang diraih pasukan muslimin adalah karena kehebatan Khalid bin Al-Walid, bukan karena karunia Allah terhadap mereka sehingga akhirnya rusaklah tauhid mereka.
Selain itu, di antara isi surat pertama yang ditulis ‘Umar bin Al-Khaththab kepada Abu ‘Ubaidah bin Al-Jarrah tatkala menggantikan Khalid bin Al-Walid:
وَقَدِ اسْتَعْمَلْتُكَ عَلَى جُنْدِ خَالِدِ بْنِ الْوَلِيدِ، فَقُمْ بِأَمْرِهِمُ الَّذِي يَحِقُّ عَلَيْكَ، لَا تُقَدِّمِ الْمُسْلِمِينَ إِلَى هَلَكَةٍ رَجَاءَ غَنِيمَةٍ، وَلَا تُنْزِلْهُمْ مَنْزِلًا قَبْلَ أَنْ تَسْتَرِيدَهُ لَهُمْ، وَتَعْلَمَ كَيْفَ مَأْتَاهُ، وَلَا تَبْعَثْ سَرِيَّةً إِلَّا فِي كَثْفٍ مِنَ النَّاسِ وَإِيَّاكَ وَإِلْقَاءَ الْمُسْلِمِينَ فِي الْهَلَكَةِ
“Sungguh, aku telah menunjukmu sebagai komandan pasukan Khalid bin Al-Walid. Karena itu, tunaikanlah urusan mereka yang merupakan kewajibanmu. Jangan engkau membawa kaum muslimin menuju kebinasaan karena mengharap harta rampasan perang. Dan jangan engkau menempatkan mereka di suatu tempat sebelum engkau bisa mendahului mereka dan mengetahui bagaimana bisa mendatanginya. Dan janganlah engkau mengirim batalyon kecuali dengan jumlah yang banyak. Dan hati-hatilah jangan sampai engkau melemparkan kaum muslimin menuju kebinasaan.” (Al-Bidayah Wa An-Nihayah)
‘Umar khawatir Khalid bin Al-Walid-karena kenekatannya-mengarahkan pasukan muslimin pada keadaan yang membahayakan mereka sehingga akhirnya jatuhlah banyak korban di antara mereka.
Apa arti semua itu?
‘Umar bin Al-Khaththab adalah sosok yang penyayang dan sangat mengasihi bawahannya. Maka, demikianlah seharusnya seseorang ketika menjadi pemimpin. Mesti menjadi sosok yang penyayang dan mengasihi orang yang ada di bawahnya.
Siberut, 26 Jumada Ats-Tsaniyah 1445
Abu Yahya Adiya






