“Apabila anak yatim datang kepadanya untuk meminta sesuatu atau berbicara kepadanya tentang suatu urusan, engkau dapati ia meremehkan anak yatim tersebut dan menolaknya dengan kasar, sehingga tidak menaruh belas kasihan kepadanya.” (Tafsīr Juz ’Amma)
Demikianlah pernyataan Syekh Muḥammad bin Ṣāliḥ Al-’Uṡaimīn tatkala menjelaskan surat Al-Mā’ūn ayat 2.
Ada orang-orang yang bersikap kasar dan merendahkan anak yatim tanpa sedikit pun kasih sayang kepadanya. Padahal, Allah telah berfirman:
فَأَمَّا الْيَتِيمَ فَلا تَقْهَرْ
“Adapun terhadap anak yatim, maka janganlah engkau berlaku sewenang-wenang.” (QS, Aḍ-Ḍuḥā: 9)
Mengapa yang disebutkan di sini hanya anak yatim? Bukankah kita juga dilarang berlaku sewenang-wenang kepada selain anak yatim?
Syekh Muḥammad bin Ṣāliḥ Al-’Uṡaimīn berkata:
لأن اليتيم الذي مات أبوه قبل أن يبلغ منكسر الخاطر، يحتاج إلى جبر، يحتاج إلى من يسليه، وإلى من يدخل عليه السرور لاسيما إذا كان قد بلغ سنًّا يعرف به الأمور كالسابعة والعاشرة
“Sebab, anak yatim yang kehilangan ayahnya sebelum balig, hatinya terluka dan membutuhkan penghiburan, membutuhkan orang yang menenangkannya, dan yang memasukkan kebahagiaan ke dalam hatinya, apalagi jika ia telah mencapai usia di mana ia mulai memahami berbagai perkara, seperti usia tujuh atau sepuluh tahun.” (Tafsīr Juz ’Amma)
Imam Al-Qurṭubī menjelaskan
وَخَصَّ الْيَتِيمَ لِأَنَّهُ لَا نَاصِرَ لَهُ غَيْرُ اللَّهِ تَعَالَى
“Dia menyebut anak yatim secara khusus karena ia tidak memiliki penolong selain Allah.” (Al-Jāmi’ li Aḥkām Al-Qur‘ān)
Anak yatim tidak memiliki tangan yang menggenggamnya ketika ia takut, dan tidak memiliki pundak tempat ia bersandar ketika ia sedih. Ia hanya memiliki Allah, satu-satunya Penolong bagi hatinya yang retak. Oleh karena itu, jangan sakiti anak yatim dengan tanganmu, lidahmu, bahkan sikap dinginmu.
Syekh As-Sa’dī berkata:
بل أكرمه، وأعطه ما تيسر، واصنع به كما تحب أن يصنع بولدك من بعدك.
“Bahkan, muliakanlah dia, berilah ia apa yang mudah bagimu, dan perlakukanlah dia sebagaimana engkau ingin anakmu diperlakukan sepeninggalmu.” (Taisīr Al-Karīm Ar-Raḥmān fī Tafsīr Kalām Al-Mannān)
Maka, sudah sepentasnya seseorang menyayangi anak yatim, sebagaimana ia menyayangi anaknya sendiri.
Qatadah berkata:
كُنْ لِلْيَتِيمِ كَالْأَبِ الرَّحِيمِ
“Jadilah engkau bagi anak yatim selayaknya ayah yang penyayang.” (Al-Jāmi’ li Aḥkām Al-Qur‘ān)
Kelembutanmu kepada anak yatim adalah tanda kelembutan hatimu. Sebaliknya, kekasaranmu kepada anak yatim adalah tanda kekasaran hatimu. Apakah engkau ingin memiliki hati yang kasar, bahkan membatu?
Seorang pria mendatangi Nabi ﷺ dan mengadukan kekerasan hatinya. Maka beliau ﷺ bersabda.
إِنْ أَرَدْتَ تَلْيِينَ قَلْبِكَ فَأَطْعِمْ الْمِسْكِينَ وَامْسَحْ رَأْسَ الْيَتِيمِ.
“Jika engkau hendak melunakkan hatimu, maka berilah makan kepada orang miskin dan usaplah kepala anak yatim.” (HR. Aḥmad)
Maka, lembutkanlah hatimu dengan senyuman yang menyejukkan, belaian yang menenangkan, dan perhatian yang hangat bagi anak-anak yatim.
Siberut, 4 Jumādā Al-Ūlā 1447
Abu Yahya Adiya






