Kalau kita mau membaca berbagai pendapat sekte Asy’ariyyah dengan jeli, niscaya kita mendapati berbagai kebingungan ada pada diri mereka, terutama dalam masalah sifat-sifat Allah.
Asy’ariyyah menetapkan bahwa sifat Allah yang harus diyakini ada 7 atau 13 atau maksimal 20 sifat, seperti sifat wujud (ada), basar (melihat), sama’ (mendengar) dan sifat lainnya.
Sedangkan sifat Allah selain 20 sifat tadi yang disebutkan dalam Al-Quran dan As-Sunnah mereka tolak dengan cara takwil.
Seperti apa contohnya?
Contohnya sifat kasih sayang, dan tinggi di atas Arsy.
Allah berfirman:
الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ
“Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Fatihah: 3)
Ayat ini menunjukkan bahwa Allah memiliki sifat kasih dan sayang.
Namun, Asy’ariyyah menolak sifat tersebut dengan membelokkan makna kasih dan sayang dalam ayat ini menjadi “hendak melakukan kebaikan”, sehingga makna ayat tadi berubah menjadi: “Yang Maha Berkehendak melakukan kebaikan.”
Dan Allah berfirman:
الرَّحْمَنُ عَلَى العَرْشِ اسْتَوَى
“Tuhan Yang Maha Pengasih, yang istawa Arsy.” (QS. Thahaa: 5)
Dan makna istawa disebutkan oleh Imam Ahmad:
الْعُلُوّ والارتفاع
“Tinggi di atas.” (Al-‘Aqidah Riwayah Abi Bakr Al-Khollal)
Dan itu juga yang disebutkan oleh 2 ulama tabiin, Abu Al-‘Aliyah dan Mujahid (lihat Shahih Bukhari).
Ayat tadi menunjukkan bahwa Allah tinggi di atas Arsy.
Namun, Asy’ariyyah menolak sifat tersebut dengan membelokkan makna istawa dalam ayat tadi menjadi “menguasai”, sehingga makna ayat tadi berubah menjadi: “Tuhan Yang Maha Pengasih, yang menguasai Arsy.”
Kalau ditanyakan kepada mereka, “Kenapa kalian tidak menetapkan bagi Allah sifat kasih sayang, dan tinggi di atas, serta sifat lainnya yang ada dalam Al-Quran dan As-Sunnah?”, maka mereka akan menjawab, “Karena sifat-sifat itu serupa dengan sifat makhluk! Kalau kita katakan bahwa Allah mengasihi dan menyayangi serta tinggi di atas Arsy, maka itu serupa dengan sifat makhluk. Sebab, makhluk juga memiliki sifat kasih, sayang, dan tinggi di atas sesuatu. Dan Allah tidak serupa dengan makhluk!”
Bagaimana cara menjawab kebingungan mereka itu?
Kita katakan kepada mereka, “Bukankah makhluk juga memiiki sifat wujud (ada), basar (melihat), dan sama’ (mendengar)?”
Kalau mereka menjawab, “Ya”, maka kita katakan, “Lantas, mengapa kalian menetapkan tiga sifat itu bagi Allah, padahal tiga sifat itu juga dimiliki oleh makhluk?”
Kalau mereka berkata, “Karena sifat Allah berbeda dengan sifat makhluk. Hakekat wujud Allah berbeda dengan wujud makhluk. Hakekat penglihatan Allah berbeda dengan penglihatan makhluk. Hakekat pendengaran Allah berbeda dengan pendengaran makhluk”, maka kita katakan, “Begitu pula hakekat kasih sayang Allah berbeda dengan kasih sayang makhluk. Hakekat ketinggian Allah di atas Arsy berbeda dengan ketinggian makhluk di atas sesuatu.”
Seharusnya mereka menerima semua sifat Allah yang ada dalam Al-Quran dan As-Sunnah, bukannya menerima sebagian sifat dan menolak sifat lainnya.
Orang-orang yang benar-benar beriman kepada Allah adalah mereka yang:
الْإِيمَانُ بِمَا وَصَفَ بِهِ نَفْسَهُ فِي كِتَابِهِ. وَبِمَا وَصَفَهُ بِهِ رَسُولُهُ مُحَمَّدٌ ﷺ مِنْ غَيْرِ: تَحْرِيفٍ وَلَا تَعْطِيلٍ، وَمِنْ غَيْرِ: تَكْيِيفٍ وَلَا تَمْثِيلٍ.
“Mengimani sifat yang Allah berikan kepada diri-Nya dalam kitab-Nya dan sifat yang diberikan rasul-Nya, Muhammad ﷺ kepada diri-Nya, tanpa tahrif (menyelewengkan maknanya), dan ta’thil (menolaknya), dan tanpa takyif (menentukan hakekatnya) dan tamtsil (menyerupakannya dengan makhluk-Nya).”
بَلْ يُؤْمِنُونَ بِأَنَّ اللَّهَ تَعَالَى: {لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ}
Bahkan, mereka beriman bahwa tidak ada sesuatu yang menyerupai-Nya dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (Al-‘Aqidah Al-Wasithiyyah)
Siberut, 17 Dzulqa’dah 1444
Abu Yahya Adiya






