Ilmu dan Kerendahan Hati: Pelajaran dari Qatādah As-Sadūsī

Ilmu dan Kerendahan Hati: Pelajaran dari Qatādah As-Sadūsī

Suatu hari Abu Hilāl bertanya tentang suatu masalah kepada Imam Qatādah bin Di’āmah As-Sadūsī. Maka beliau pun menjawab:

لاَ أَدْرِي.

“Aku tidak tahu.”

Abu Hilāl berkata:

قُلْ فِيْهَا بِرَأْيكَ.

“Katakanlah saja menurut pendapatmu sendiri!”

Qatādah menjawab:

مَا قُلْتُ بِرَأْيٍ مُنْذُ أَرْبَعِيْنَ سَنَةً.

“Aku tidak pernah mengucapkan sesuatu dengan pendapatku sendiri sejak empat puluh tahun yang lalu!”

Abu Hilāl berkata:

وَكَانَ يَوْمَئِذٍ لَهُ نَحْوٌ مِنْ خَمْسِيْنَ سَنَةً.

“Padahal ketika itu ia sudah berusia sekitar lima puluh tahun!” (Siyar A’lām An-Nubalā‘)

Lihatlah, orang sekelas Qatādah bin Di’āmah As-Sadūsī, ulama tabiin yang masyhur, tidak malu untuk mengucapkan “tidak tahu” tatkala ditanya tentang suatu permasalahan yang tidak ia ketahui.

Beliau tidak gengsi untuk dianggap bodoh oleh orang lain. Lalu bagaimana dengan diri kita?

Apakah kita ingin selalu dianggap pintar sehingga ‘alergi’ untuk mengatakan “tidak tahu” dalam permasalahan yang tidak kita ketahui?

’Abdullāh bin Mas’ūd berkata:

مَنْ عَلِمَ فَلْيَقُلْ، وَمَنْ لَمْ يَعْلَمْ فَلْيَقُلِ: اللَّهُ أَعْلَمُ، فَإِنَّ ‌مِنَ ‌الْعِلْمِ ‌أَنْ ‌تقول ‌لِمَا ‌لَا ‌تعلم لَا أَعْلَمُ

“Siapa yang tahu, maka katakanlah. Dan siapa yang tidak tahu, maka ucapkanlah, ‘Allah lebih tahu’, karena sesungguhnya termasuk dari ilmu, yaitu engkau mengucapkan, ‘Aku tidak tahu’ terhadap apa yang tidak engkau ketahui.” (Ṣaḥīḥ Al-Bukhārī)

 

Siberut, 18 Jumādā Al-Ūlā 1447

Abu Yahya Adiya