Surat Al-Baqarah Ayat 38

Surat Al-Baqarah Ayat 38

Setelah Allah mengabarkan bahwa Adam menerima beberapa kalimat dari-Nya, lalu Dia menerima tobatnya, Allah mengabarkan:

 

  1. قُلْنَا اهْبِطُوا مِنْهَا جَمِيعًا فَإِمَّا يَأْتِيَنَّكُمْ مِنِّي هُدًى فَمَنْ تَبِعَ هُدَايَ فَلا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلا هُمْ يَحْزَنُونَ

Kami berfirman: “Turunlah kalian semua dari surga itu! Kemudian jika datang petunjuk-Ku kepada kalian, maka siapa yang mengikuti petunjuk-Ku, niscaya tidak ada kekhawatiran atas mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati.”

Allah memerintahkan Adam dan Hawa untuk turun dari surga. Dia mengabarkan bahwa jika datang petunjuk-Nya kepada mereka, lalu mereka mengambil petunjuk tersebut dan berpegang teguh padanya, maka mereka akan merasakan kebahagiaan dan keamanan di kemudian hari dan tidak merasa sedih atas apa yang telah berlalu.

 

Faidah yang dapat kita petik dari ayat:

 

  1. Surga yang ditempati Adam berada di tempat yang tinggi.

Hal ini tampak dalam firman-Nya: “Turunlah kalian semua dari surga”.

Sesuatu dikatakan turun apabila berpindah dari posisi atas ke bawah.

 

  1. Allah memiliki sifat berbicara dan perkataan-Nya terdengar dan tersusun dari huruf-huruf, sesuai dengan keagungan dan kemuliaan-Nya.

Hal ini tampak dalam firman-Nya: “Kami berfirman: ‘Turunlah kalian semua dari surga”.

Seandainya Allah tidak berbicara dengan suara dan huruf, tentu perkataan tersebut tidak akan dapat dipahami oleh Adam dan Hawa.

 

  1. Hidayah berada di tangan Allah, sebagaimana ditunjukkan oleh firman-Nya: “Kemudian jika datang petunjuk-Ku kepada kalian”.

Petunjuk berasal dari Allah. Yang dapat memberikan petunjuk dan hidayah hanyalah Allah, bukan manusia.

Sehebat dan setakwa apa pun seseorang, ia tidak mampu menjadikan orang lain mendapatkan hidayah. Manusia hanya bisa mengarahkan dan membimbing. Adapun seseorang mendapat hidayah atau tidak, hal itu sepenuhnya ditentukan oleh Allah.

Lihatlah Nabi Nūḥ, beliau tidak dapat memberi hidayah kepada istri dan putranya.

Lihatlah Nabi Lūṭ, beliau tidak dapat memberi hidayah kepada istrinya.

Lihatlah Nabi Ibrāhīm, beliau tidak dapat memberi hidayah kepada ayahnya.

Lihatlah Nabi Muḥammad, beliau tidak dapat memberi hidayah kepada pamannya.

Hidayah berada di tangan Allah. Oleh karena itu, jangan bersandar pada kemampuan kita sendiri. Mintalah petunjuk kepada Allah. Sebab, hidayah dan petunjuk berada di tangan-Nya.

Syahr bin Ḥausyab berkata:

قُلْتُ لأُمِّ سَلَمَةَ، رَضِي اللَّه عَنْهَا،

“Aku bertanya kepada Ummu Salamah-semoga Allah meridainya-:

يَا أُمَّ المؤمِنِين مَا كَانَ أَكْثَرُ دُعَاءِ رسُول اللَّهِ ﷺ إِذا كانَ عِنْدكِ؟

“Hai Ummul mukminin, apa doa yang banyak diucapkan Rasulullah ﷺ jika beliau sedang ada di sisimu?”

Ummu Salamah menjawab:

كانَ أَكْثَرُ دُعائِهِ:

“Doa yang banyak doa diucapkan Rasulullah yaitu:

يَا مُقلبَ القُلوبِ ثَبِّتْ قلْبي علَى دِينِكَ

“Wahai Zat yang membolak-balikkan keadaan hati. Tetapkanlah hatiku di atas agama-Mu.” (HR. Tirmiżī)

 

  1. Siapa yang mengikuti petunjuk Allah, niscaya akan merasa aman di kemudian hari dan tidak merasa sedih akan masa lalu, sebagaimana ditunjukkan oleh firman-Nya: “Niscaya tidak ada kekhawatiran atas mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.”

 

  1. Siapa yang tidak mengikuti petunjuk Allah, maka ia akan merasa gelisah, resah dan cemas. Baik ia sadari maupun tidak.

Allah berfirman:

وَمَنْ أَعْرَضَ عَنْ ذِكْرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنْكًا

“Dan siapa yang berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya ia akan merasakan kehidupan yang sempit.” (QS. Thaha: 124)

Siapa yang melanggar larangan Allah, maka gundahlah hatinya.

Siapa yang berbuat dosa, maka resahlah jiwanya.

Siapa yang berbuat maksiat, maka sesaklah dadanya.

Siapa yang berpaling dari peringatan Allah, maka sempitlah hidupnya.

Karena itu akankah ia merasa lapang dan tenang? Akankah ia merasa ceria dan bahagia?

Suatu hari, Muḥammad bin Sīrīn merasa gundah dan resah. Ia pun berkata:

إِنِّي لَأَعْرِفُ هَذَا الْغَمَّ بِذَنْبٍ أَصَبْتُهُ مُنْذُ أَرْبَعِينَ سَنَةً.

“Sungguh, aku sadar kalau kegundahan yang kurasakan ini disebabkan dosa yang kuperbuat pada 40 tahun yang lalu!” (Az-Zuhd)

 

  1. Tidak boleh beribadah kepada Allah kecuali dengan mengikuti tuntunan-Nya.

Hal ini tampak dalam firman-Nya: “Kemudian jika datang petunjuk-Ku kepada kalian, maka siapa yang mengikuti petunjuk-Ku, niscaya tidak ada kekhawatiran atas mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati.”

 

  1. Siapa yang beribadah tanpa mengikuti tuntunan dari Allah berarti ia tidak mendapatkan petunjuk dari Allah. Kalau sudah tidak dapat petunjuk, maka akan bingung.

 

Siberut, 16 Syawwāl 1442

Abu Yahya Adiya

 

Sumber:

  1. At-Tashīl li Ta’wīl At-Tanzīl karya Syekh Musṭafā Al-‘Adawī.
  2. Tafsīr Al-Fatiḥah wa Al-Baqarah karya Syekh Muḥammad bin Ṣāliḥ Al-Uṡaimīn.