Keutamaan Kehilangan Penglihatan

Keutamaan Kehilangan Penglihatan

Melalui sepasang mata, kita dapat menikmati warna-warni kehidupan. Dengan kedua mata, kita menyapa sinar mentari pagi, menatap senyum orang terkasih, dan mengagumi keindahan ciptaan-Nya.

Lantas, apa sikap kita seandainya kegelapan tiba-tiba menutup pandangan kita?
Apa reaksi kita tatkala dunia yang semula terang berubah menjadi gelap, tanpa rupa, dan tanpa warna?

Anas bin Malik berkata:

سَمِعْتُ النَّبِيَّ ﷺ يَقُولُ:

“Aku mendengar Nabi ﷺ bersabda:

إِنَّ اللَّهَ قَالَ:

“Sesungguhnya Allah berfirman:

إِذَا ‌ابْتَلَيْتُ ‌عَبْدِي بِحَبِيبَتَيْهِ فَصَبَرَ، عَوَّضْتُهُ مِنْهُمَا الْجَنَّةَ

“Jika Aku menguji hamba-Ku dengan kehilangan dua kesayangannya lalu ia bersabar, maka Kuganti keduanya dengan surga.”

يُرِيدُ: عَيْنَيْهِ.

Maksud dua kesayangannya yaitu kedua matanya.” (HR. Bukhari)

Faidah yang dapat kita petik dari hadis ini:

1. Allah menguji hamba-Nya dengan berbagai cobaan, di antaranya dengan kehilangan penglihatannya.

2. Organ tubuh yang paling dicintai oleh manusia adalah matanya.
Imam Ibnu Hubairah berkata:

في هذا الحديث من الفقه ما يدل على أن العينين أحب أعضاء الإنسان إليه، فإن الإنسان يقول لواحد إذا أراد أن يخبره بغاية المحبة فإنه يقول له:

“Dalam hadis ini terdapat kandungan hukum yang menunjukkan bahwa kedua mata adalah organ tubuh manusia yang paling ia cintai. Karena jika seseorang ingin mengabarkan kepada orang lain tentang kecintaannya yang sangat besar, ia akan berkata:

أنت عندي كعيني

“Kamu bagiku seperti mataku.” (Al-Ifṣāḥ ’an Ma’ānī Aṣ-Ṣiḥāḥ)

3. Keutamaan bersabar atas kehilangan penglihatan.
Imam Ibnu Baṭṭal berkata:

هذا الحديث أيضًا حجة فى أن الصبر على البلاء ثوابه الجنة، ونعمة البصر على العبد وإن كانت من أجل نعم الله تعالى فعوض الله عليها الجنة أفضل من نعمتها فى الدنيا لنفاذ مدة الالتذاذ بالبصر فى الدنيا وبقاء مدة الالتذاذ به فى الجنة

“Hadis ini juga merupakan dalil bahwa balasan karena bersabar atas cobaan adalah surga, dan bahwa nikmat penglihatan bagi seorang hamba, walaupun itu merupakan nikmat yang sangat agung dari Allah, maka balasan dari Allah berupa surga itu lebih utama daripada nikmat penglihatan di dunia, karena kenikmatan melihat di dunia itu akan hilang, sedangkan kenikmatan melihat di surga akan kekal.” (Syarḥ Ṣaḥīḥ Al-Bukhārī)
Oleh karena itu, siapa yang mengalami musibah hingga hilang penglihatannya, maka hendaknya ia membaca hadis tadi, merenungkan kandungannya, dan menengok orang-orang yang bersabar menghadapinya.

Mullah ’Ali Al-Qārī berkata:

وَيَنْبَغِي لِمَنِ ابْتُلِيَ بِذَلِكَ أَنْ يَتَأَسَّى بِأَحْوَالِ الْأَكَابِرِ مِنَ الْأَنْبِيَاءِ وَالْأَوْلِيَاءِ الَّذِينَ حَصَلَ لَهُمْ هَذَا الْبَلَاءُ، فَصَبَرُوا عَلَيْهِ وَرَضَوْا بِهِ، بَلْ عَدُّوهُ نِعْمَةً، وَمِنْ ثَمَّ لَمَّا ابْتُلِيَ بِهِ حَبْرُ الْأُمَّةِ، وَتُرْجُمَانِ الْقُرْآنِ: عَبْدُ اللَّهِ بْنُ عَبَّاسٍ رضي الله عنهما أَنْشَدَ

“Sepantasnya bagi siapa pun yang mengalami cobaan demikian untuk meneladani keadaan orang-orang besar dari kalangan para nabi dan wali yang juga pernah mengalami cobaan tersebut, lalu mereka bersabar dan rida akan demikian. Bahkan, mereka menganggap itu sebagai nikmat. Oleh karena itu, tatkala ulama besar umat ini dan penerjemah Al-Qur‘an, ’Abdullah bin ’Abbas, mengalaminya, ia melantunkan syair:

إِنْ يُذْهِبِ اللَّهُ مِنْ عَيْنَيَّ نُورَهُمَا … فَفِي لِسَانِي وَقَلْبِي لِلْهُدَى نُورُ

“Jika Allah menghilangkan cahaya dari kedua mataku…maka pada lisanku dan hatiku tetap ada cahaya petunjuk.” (Mirqāt Al-Mafātīḥ Syarḥ Misykāt Al- Maṣābīḥ)

4. Apa pun musibah yang Allah berikan kepada hamba-Nya pasti baik dan mengandung kebaikan.
Al-Ḥāfiẓ Ibnu Ḥajar mengomentari hadis tadi:

وابتلاء الله عبده في الدنيا ليس من سخطه عليه، بل إما لدفع مكروه أو لكفارة ذنوب أو لرفع منزلة

“Ujian Allah terhadap hamba-Nya di dunia bukanlah karena kemarahan-Nya kepadanya, melainkan bisa jadi untuk menolak keburukan, menghapus kesalahan, atau mengangkat derajatnya.” (Fatḥu Al-Bārī Syarḥ Ṣaḥīḥ Al-Bukhārī)

 

Siberut, 21 Jumādā Al-Ūlā 1447
Abu Yahya Adiya