Badā‘: Apakah Allah Kehilangan Pengetahuan?

Badā‘: Apakah Allah Kehilangan Pengetahuan?

“Sesungguhnya bagi Allah tidak ada satu pun yang tersembunyi di bumi dan tidak pula di langit.” (QS. Āli-’Imrān: 5)

Benar, tidak ada satu pun yang tersembunyi bagi Allah. Sebab:

“Allah mengetahui apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi serta Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (QS. Al-Ḥujurāt: 16)

Jika Allah Maha Mengetahui segala sesuatu, dan tidak ada satu pun yang tersembunyi bagi-Nya, bagaimana mungkin kaum Syiah menyematkan konsep badā‘ pada-Nya?

Disebutkan dalam kitab induk Syiah:

ما عبد الله بشيء مثل البداء

“Allah tidak disembah dengan sesuatu yang semacam badā‘.” (Uṣūl Al-Kāfī)

Apa itu badā‘?

Al-Jurjani berkata:

البداء: ظهور الرأي بعد أن لم يكن.

“Badā‘ adalah munculnya suatu pemikiran setelah sebelumnya tidak ada.” (At-Ta’rifāt)

Artinya, mereka beranggapan bahwa Allah memberikan keputusan setelah sesuatu tampak, padahal sebelumnya tersembunyi. Jika benar demikian, berarti ada sesuatu yang tidak diketahui oleh Allah. Dengan kata lain, Dia seolah tidak mengetahui perkara gaib!

Namun anehnya, seorang tokoh Syiah, Al-Kulaini menyatakan:

أن الأئمة يعلمون متى يموتون، وأنهم لا يموتون إلا باختيار منهم

“Sesungguhnya para imam mengetahui kapan mereka mati dan mereka tidak mati kecuali atas pilihan mereka sendiri.” (Al-Kāfī)

Bukankah pengetahuan tentang di mana seseorang akan mati dan kapan ia akan mati merupakan perkara gaib?

“Katakanlah, ‘Tidak ada seorang pun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara gaib, kecuali Allah.” (QS. An-Naml: 65)

Jika demikian, terkumpul pada mereka dua pengingkaran:
1. Pengingkaran bahwa Allah mengetahui perkara gaib
2. Pengingkaran bahwa tidak ada manusia yang mengetahui perkara gaib.

Lebih parah lagi, konsekuensi dari pandangan ini adalah bahwa imam-imam mereka jadi lebih hebat daripada Allah! Sebab, bagaimana bisa imam-imam mereka mengetahui perkara gaib, sedangkan Allah sendiri tidak mengetahuinya?!

 

Siberut, 20 Jumādā Al-Ūlā 1447
Abu Yahya Adiya