Dua orang sama-sama berharta dan kaya. Namun, nasib keduanya berbeda. Yang satu kekayaannya bermanfaat baginya, sedangkan yang lainnya kekayaannya tidak bermanfaat baginya.
Siapakah keduanya?
Syekh Muḥammad bin Ṣāliḥ Al-’Uṡaimīn menyebutkan orang yang pertama, yaitu:
القسم الأول: من يعطيه الله المال يكتسبه من طريق حرام؛ كالمرابي، والكذاب، والغشاش في البيع والشراء، ومن أكل أموال الناس بالباطل وما أشبه ذلك، فهذا غناه لا ينفعه
“Orang yang Allah berikan harta yang ia peroleh dari jalan yang haram, seperti rentenir, pendusta, orang yang curang dalam jual beli, dan orang yang memakan harta orang lain dengan cara batil dan yang serupa dengannya. Orang semacam ini, kekayaannya tidak berguna baginya.” (Syarḥ Riyāḍ Aṣ-Ṣāliḥīn)
Mengapa kekayaannya tidak berguna baginya?
Syekh Muḥammad bin Ṣāliḥ Al-’Uṡaimīn berkata:
إذ أن هذا الشي الذي دخل عليه من هذا الوجه سوف يعاقب عليه يوم القيامة
“Karena apa yang masuk ke dalam dirinya dengan cara tersebut akan menjadi sebab ia mendapatkan hukuman pada hari kiamat.” (Syarḥ Riyāḍ Aṣ-Ṣāliḥīn)
Itu sesuai dengan sabda Nabi ﷺ:
إِذَا رَأَيْتَ اللهَ يُعْطِي الْعَبْدَ مِنَ الدُّنْيَا عَلَى مَعَاصِيهِ مَا يُحِبُّ فَإِنَّمَا هُوَ اسْتِدْرَاجٌ ” ثُمَّ تَلَا رَسُولُ اللهِ ﷺ:
“Jika engkau menyaksikan seseorang yang bermaksiat diberikan oleh Allah berupa kenikmatan dunia yang ia sukai, maka itu adalah istidraj.”
Ya, istidraj, yaitu penguluran waktu dari Allah. Dia terus memberikan nikmat kepadanya, sampai ketika ia lalai, Dia menyiksanya dengan tiba-tiba.
Setelah mengucapkan perkataan tadi, Nabi ﷺ membaca surat Al-An’ām ayat 44:
فَلَمَّا نَسُوا مَا ذُكِّرُوا بِهِ فَتَحْنَا عَلَيْهِمْ أَبْوَابَ كُلِّ شَيْءٍ حَتَّى إِذَا فَرِحُوا بِمَا أُوتُوا أَخَذْنَاهُمْ بَغْتَةً فَإِذَا هُمْ مُبْلِسُونَ
“Maka ketika mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kami pun membukakan semua pintu kesenangan untuk mereka; sehingga apabila mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka dengan tiba-tiba, maka ketika itu mereka terdiam berputus asa.” (HR. Aḥmad)
Adapun orang yang kedua, Syekh menyebutkan, yaitu:
من أغناه الله بالمال لكن عن طريق الحلال، يبيع بالبيان والنصح والصدق، ويأخذ كذلك، ولا يكتسب إلا المال الحلال، فهذا هو الذي ينفعه غناه
“Orang yang Allah beri kekayaan dengan harta, tetapi melalui jalan yang halal. Ia menjual dengan menjelaskan kekurangan barang yang dijual, menasihati, dan jujur. Begitu pula ketika mengambil barang. Ia hanya memperoleh harta yang halal. Maka inilah orang yang kekayaannya berguna baginya.” (Syarḥ Riyāḍ Aṣ-Ṣāliḥīn)
Mengapa kekayaannya berguna baginya?
Syekh berkata:
لأن من كان كذلك؛ فالغالب أن الله يوفقه لصرفه فيما ينفع
“Sebab, siapa yang demikian, maka seringnya Allah memberinya taufik untuk mengalokasikan hartanya dalam perkara yang berguna.” (Syarḥ Riyāḍ Aṣ-Ṣāliḥīn)
Itu sesuai dengan firman Allah:
فَأَمَّا مَنۡ أَعۡطَىٰ وَٱتَّقَىٰ وَصَدَّقَ بِٱلۡحُسۡنَىٰ فَسَنُيَسِّرُهُۥ لِلۡيُسۡرَىٰ
“Adapun orang yang memberikan dan bertakwa, serta membenarkan adanya yang baik, maka akan Kami mudahkan baginya menuju kemudahan.” (QS. Al-Lail: 5-7)
Apa maksud menuju kemudahan di sini?
Ibnu ’Abbās berkata:
يعني للخير
“Yakni menuju kebaikan.” (Tafsīr Al-Qur‘ān Al-’Aẓīm)
Artinya, Allah memudahkan baginya melakukan kebaikan dan menjauhi keburukan. Apabila seseorang sudah mudah melakukan kebaikan dan menjauhi keburukan, maka mudahlah baginya memasuki surga.
Kalau demikian, jadilah orang yang bersyukur atas pemberian-Nya agar Dia mempermudahmu memasuki surga-Nya.
Siberut, 25 Jumādā Al-Ūlā 1447
Abu Yahya Adiya






