Suatu hari, putra Ummu Sulaim dan Abū Ṭalḥah mengalami sakit keras. Ketika Abū Ṭalḥah sedang tidak ada di rumah, meninggallah putranya tersebut.
Ummu Sulaim berkata kepada keluarganya:
لاَ تُحَدِّثُوا أَبَا طَلْحَةَ بابنِهِ حتَّى أَكُونَ أَنَا أُحَدِّثُهُ
“Jangan kalian beritahukan kematian anak ini kepada Abū Ṭalḥah, hingga aku sendirilah yang memberitahukannya nanti.”
Tidak lama kemudian, datanglah Abū Ṭalḥah lalu bertanya:
مَا فَعَلَ ابنِي؟
“Bagaimana keadaan anakku?”
Lantas, apa jawaban Ummu Sulaim?
Suatu hari, seorang wanita berkulit hitam datang kepada Nabi ﷺ lalu berkata:
إِنِّي أُصْرَعُ وَإِنِّي أَتَكَشَّفُ فَادْعُ اللَّهَ لِي
“Sesungguhnya aku terkena penyakit ayan dan auratku terbuka, maka berdoalah kepada Allah untukku.”
Beliau ﷺ pun bersabda:
إِنْ شِئْتِ صَبَرْتِ وَلَكِ الْجَنَّةُ وَإِنْ شِئْتِ دَعَوْتُ اللَّهَ أَنْ يُعَافِيَكِ
“Jika kamu mau, kamu dapat bersabar, maka kamu akan mendapatkan surga. Dan jika kamu mau, aku dapat berdoa kepada Allah agar Dia menyembuhkanmu ”
Lantas, apa yang dipilih oleh wanita tersebut?
Suatu hari, penyakit misterius menyerang kaki ’Urwah bin Az-Zubair. Penyakit tersebut menjalar sampai ke betisnya hingga ia tidak dapat menggerakan kakinya. Datanglah para dokter untuk memeriksa kakinya. Setelah memeriksanya, mereka berkata:
ليس له دواء إلا القطع
“Tidak ada obatnya kecuali amputasi!”
Lantas, apa reaksi ’Urwah?
- Ketahuilah, Allah mencintai orang yang bersabar. Dia berfirman:
وَاللَّهُ يُحِبُّ الصَّابِرِينَ
“Allah mencintai orang-orang yang bersabar.” (QS. Ali-’Imrān [3]: 146)
- Dan ketahuilah, orang yang bersabar mendapatkan pahala yang sangat besar. Allah berfirman:
إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُمْ بِغَيْرِ حِسَابٍ
“Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.” (QS. Az-Zumar [39]: 10)
- Dan ketahuilah pula, dengan kesabaran kita bisa masuk surga yang penuh kenikmatan. Allah berfirman:
وَٱلْمَلَٰٓئِكَةُ يَدْخُلُونَ عَلَيْهِم مِّن كُلِّ بَابٍ سَلَٰمٌ عَلَيْكُم بِمَا صَبَرْتُمْ ۚ فَنِعْمَ عُقْبَى ٱلدَّارِ
“Para malaikat masuk ke tempat-tempat mereka dari semua pintu (sambil berkata), ‘Selamat sejahtera atas kalian karena kesabaran kalian.’ Maka alangkah nikmatnya tempat kesudahan itu.” (QS. Ar-Ra’d [13]: 24)
Masih banyak lagi ayat dan hadis yang menyebutkan keutamaan sabar. Lantas, apa itu sabar?
Sabar adalah:
حَبس النفس عن الجزع
“Menahan diri dari berkeluh kesah.” (Aṣ-Ṣiḥāh)
Apabila seseorang dapat menahan hatinya agar tidak marah, menahan lisannya agar tidak berkeluh kesah, dan menahan anggota badannya agar tidak melakukan perbuatan yang tidak terarah, maka ia telah bersabar dan tabah.
Lihatlah, apa reaksi ’Urwah tatkala disarankan agar kakinya diamputasi?
Ia menerima saran tersebut. Lalu, apa hasilnya?
Az-Zuhrī berkata:
فقطعت فما تضور وجهه
“Lalu dipotonglah kaki ’Urwah, tapi tidak merengut wajahnya!” (Siyar A’lām An-Nubalā‘)
Lihatlah, tidak merengut wajahnya!
Hisyām bin ’Urwah berkata:
فوضع المنشار على ركبته اليسرى، فما سمعنا له حسا.
“Kemudian diletakkan gergaji di lutut kirinya. Maka, kami tidak mendengar sedikit pun suara darinya.” (Siyar A’lām An-Nubalā‘)
Allahu akbar! Itulah yang disebut sabar. Itulah hakikat orang yang bersabar.
Adapun wanita yang terkena ayan tadi, tatkala mendapatkan tawaran dari Nabi ﷺ—“Jika kamu mau, kamu dapat bersabar, maka kamu akan mendapatkan surga. Dan jika kamu mau, aku dapat berdoa kepada Allah agar Dia menyembuhkanmu”— apa yang ia pilih?
Wanita itu menjawab:
أَصْبِرُ
“Aku akan bersabar.”
Ia memilih bersabar. Ia ingin mendapatkan surga. Ia tidak peduli dengan penderitaan sesaat di dunia.
Maka, tidaklah salah jika sebelum menceritakan kisah wanita tersebut, Ibnu ’Abbās berkata kepada ’Aṭā’ bin Abi Rabāḥ:
أَلَا أُرِيكَ امْرَأَةً مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ؟
“Maukah kuperlihatkan kepadamu salah satu wanita penghuni surga?”
Allahu akbar! Itulah sabar. Itulah orang yang bersabar.
Lalu, apa yang dilakukan oleh Ummu Sulaim tatkala putranya meninggal dunia sedangkan suaminya baru tiba di rumah?
Ketika Abū Ṭalḥah sampai ke rumah, ia bertanya kepada Ummu Sulaim tentang anaknya. Ummu Sulaim pun menjawab:
هُوَ أَسْكَنُ مَا كَانَ
“Ia dalam keadaan sangat tenang.”
Ya, dalam keadaan sangat tenang. Artinya, ia sudah meninggal dunia!
Lihatlah, Ummu Sulaim dapat menahan hati dan lisannya, serta tidak ingin melukai hati suaminya.
Tidak hanya itu, Ummu Sulaim berusaha menghibur suaminya.
Anas bin Malik berkata:
فَقَرَّبَتْ إِلَيْهِ عَشَاءً
“Kemudian ia menghidangkan makan malam untuk suaminya.”
Apakah hanya sampai di situ pelayanan Ummu Sulaim untuk menghibur suaminya? Tidak!
Anas bin Malik melanjutkan:
ثُمَّ تَصَنَّعَتْ لَهُ أَحْسَنَ مَا كَانَ تَصَنَّعُ قَبْلَ ذَلِكَ
“Kemudian ia berdandan secantik mungkin. Belum pernah ia berdandan secantik itu sebelumnya.”
Ia melakukan itu seakan-akan tidak ada satu pun musibah menimpa keluarganya.
Setelah mendapatkan pelayanan seperti itu, Abū Ṭalḥah pun menyetubuhi istrinya.
Itulah pelayanan Ummu Sulaim terhadap suaminya. Dan hasilnya….
Di kemudian hari, dari hasil hubungan malam itu, Ummu Sulaim hamil lalu melahirkan seorang bayi laki-laki.
Ummu Sulaim menyuruh Anas bin Malik membawa bayi itu ke hadapan Nabi ﷺ. Anas bin Malik berkata:
فَمَسَحَ وَجْهَهُ وَسَمَّاهُ عَبْدَ اللهِ
“Beliau ﷺ mengusap wajahnya dan menamainya dengan nama ‘Abdullah.” (HR. Muslim)
Dari ’Abdullah inilah kelak lahir sembilan pria yang istimewa.
Seorang pria Anshar berkata:
فَرَأَيْتُ لَهُمَا تِسْعَةَ أَوْلاَدٍ كُلُّهُمْ قَدْ قَرَأَ القُرْآنَ
“Kulihat keduanya (Abū Ṭalḥah dan Ummu Sulaim) memiliki sembilan cucu laki-laki, semuanya penghafal Al-Quran!” (HR. Bukhari)
Ya, semuanya penghafal Al-Quran!
Allahu akbar! Inilah buah kesabaran. Mudah-mudahan kita pun dapat menjadi orang-orang yang bersabar.
Siberut, 14 Jumādā Al-Ūlā 1447
Abu Yahya Adiya






