Allah berfirman:
إِنَّ إِبْرَاهِيمَ كَانَ أُمَّةً قَانِتًا لِلّهِ حَنِيفًا وَلَمْ يَكُ مِنَ الْمُشْرِكِينَ
“Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang pemimpin, patuh kepada Allah, hanif, dan ia bukanlah termasuk orang musyrik.” (QS. An Nahl: 120)
Dalam ayat ini Allah menyebutkan 4 sifat Nabi Ibrahim ﷺ:
- Pemimpin, yaitu panutan dan teladan dalam kebaikan.
Dan seorang tidak mungkin menjadi pemimpin dalam kebaikan kecuali kalau sudah memiliki kesabaran dan keyakinan yang sempurna. Sebab, dengan keduanyalah tercapai kepemimpinan.
Allah berfirman:
وَجَعَلْنَا مِنْهُمْ أَئِمَّةً يَهْدُونَ بِأَمْرِنَا لَمَّا صَبَرُوا وَكَانُوا بِآيَاتِنَا يُوقِنُونَ
“Dan Kami jadikan di antara mereka itu pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami ketika mereka sabar. Dan mereka meyakini ayat-ayat Kami.” (QS. As-Sajdah: 24)
- Patuh, dan tunduk kepada Allah.
- Hanif yaitu berpaling dari syirik dan lurus menghadap Allah.
- Jauh dari syirik dan orang-orang musyrik.
Allah telah menggambarkan Nabi-Nya dengan sifat-sifat tadi. Dan sifat tadi menunjukkan puncak kesempurnaan tauhid pada dirinya.
Faidah yang bisa kita petik dari ayat tadi:
- Keutamaan Nabi Ibrahim ﷺ.
Sebab, Allah telah memuji beliau karena beberapa sifat mulia yang beliau miliki yaitu pemimpin dalam kebaikan, patuh, hanif, dan berlepas diri dari syirik dan pelakunya.
Makanya wajarlah kalau Allah menjadikannya sebagai khalil-Nya (kesayangan-Nya).
Allah berfirman:
وَاتَّخَذَ اللَّهُ إِبْرَاهِيمَ خَلِيلا
“Allah telah menjadikan Ibrahim sebagai kesayangan-Nya.” (QS. An-Nisa’: 25)
- Kalau memang Nabi Ibrahim ﷺ adalah khalil Allah dan teladan dalam hal kebaikan dan ketaatan, maka sudah seharusnya kita meneladani beliau.
Allah berfirman:
قَدْ كَانَتْ لَكُمْ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ فِي إِبْرَاهِيمَ وَالَّذِينَ مَعَهُ
“Sungguh, telah ada suri teladan yang baik bagi kalian pada diri Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengannya.” (QS. Al-Mumtahanah: 4)
- Wajib menjauhi syirik dan pelakunya.
Allah berfirman:
قَدْ كَانَتْ لَكُمْ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ فِي إِبْرَاهِيمَ وَالَّذِينَ مَعَهُ إِذْ قَالُوا لِقَوْمِهِمْ إِنَّا بُرَآءُ مِنْكُمْ وَمِمَّا تَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ كَفَرْنَا بِكُمْ وَبَدَا بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمُ الْعَدَاوَةُ وَالْبَغْضَاءُ أَبَداً حَتَّى تُؤْمِنُوا بِاللَّهِ وَحْدَهُ
“Sungguh, telah ada suri teladan yang baik bagi kalian pada diri Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengannya; ketika mereka berkata kepada kaum mereka: “Sesungguhnya kami berlepas diri dari kalian dan dari apa yang kalian sembah selain Allah, kami mengingkari (kekafiran) kalian dan telah nyata antara kami dan kalian permusuhan dan kebencian buat selama-lamanya sampai kalian beriman kepada Allah saja.” (QS. Al-Mumtahanah: 4)
Nabi ﷺ bersabda:
أَنَا بَرِيءٌ مِنْ كُلِّ مُسْلِمٍ يُقِيمُ بَيْنَ أَظْهُرِ الْمُشْرِكِينَ
“Aku berlepas diri dari setiap muslim yang tinggal di tengah-tengah orang-orang musyrik.”
Para sahabat bertanya:
يَا رَسُولَ اللَّهِ لِمَ؟
“Wahai Rasulullah, kenapa demikian?”
Beliau ﷺ menjawab:
لَا تَرَاءَى نَارَاهُمَا
“Api keduanya tidak boleh saling terlihat.” (HR. Abu Daud dan Tirmidzi)
- Nabi Ibrahim ﷺ telah mewujudkan tauhid dengan sempurna karena beberapa sifat yang beliau miliki tadi.
Karena itu, siapa yang ingin mewujudkan tauhid dengan sempurna, maka hendaknya ia meniru Nabi Ibrahim ﷺ dan memiliki beberapa sifat yang beliau miliki tadi.
Siberut, 14 Sya’ban 1441
Abu Yahya Adiya
Sumber:
- Al-Mulakhash Fii Syarh Kitab At-Tauhid karya Syekh Dr Saleh Al-Fauzan.
- Sunan Abu Daud.
- Sunan Tirmidzi.






