Seperti Apa Kesabaran Nabi Yusuf?

Seperti Apa Kesabaran Nabi Yusuf?

Dosa apakah yang membuat seorang anak dilempar ke tempat sempit dan gelap yang setiap saat bisa merenggut nyawanya? Dosa apakah yang membuatnya harus hidup sebatang kara, jauh dari pelukan ayahnya dan saudaranya, di saat usianya belum beranjak dewasa?

Demikianlah ujian berat yang harus dialami Yusuf kecil ﷺ. Saudara-saudaranya membuangnya ke dalam sumur. Mereka memisahkannya dari ayah dan adiknya serta memutus tali kasih yang selama ini mengikatnya. Tak terdengar lagi suara ayahnya. Tak terasa lagi hangat peluk saudaranya. Yang tersisa hanyalah air mata dan kenangan yang tak mungkin terkubur dalam hatinya.

Betapa dahsyat ujian yang menimpa dirinya. Ujian yang tidak dialami oleh anak-anak seusianya. Ujian yang mampu mengurai air mata dan menyentuh hati siapa pun yang memiliki nurani. Namun, di balik ujian tersebut, Allah Maha Bijaksana. Dia hendak menganugerahkan kemuliaan kepadanya. Kemuliaan yang harum dan terukir dalam tinta emas sejarah umat manusia.

Saat gelisah mengikat hatinya, datanglah rombongan kafilah yang hendak mengambil air. Mereka menemukan Yusuf ﷺ tergantung pada tali timba. Siapa sangka, anak secantik itu bisa berada dalam sumur. Mereka membawanya ke kota dan menjualnya kepada seorang pejabat Kerajaan Mesir, Al-‘Aziz.  Di sinilah babak baru kehidupan Yusuf kecil ﷺ dimulai, di bawah naungan kemewahan istana. Namun, apakah usai ujian yang menimpa dirinya? Tidak. Ujian baru justru menantinya.

Waktu bergulir dan usia Yusuf ﷺ pun bertambah. Keluhuran budinya dan keelokan rupanya semakin memancar. Pesona itulah yang menyentuh hati istri Al-‘Aziz, wanita yang merupakan orang tua asuhnya sendiri. Dulu, Yusuf hanyalah anak terlantar baginya. Kini, ia menjadi sosok yang memancarkan pesona. Pesona itu hari demi hari menguasai hatinya dan mengaduk-aduk jiwanya.

Saat Yusuf beranjak dewasa, dan keelokan hati serta fisiknya makin menonjol, wanita itu tak mampu menahan rindu untuk memiliki cintanya. Dengan segenap daya, ia memperindah diri, lalu memanggil Yusuf ke kamarnya saat suaminya tiada. Dengan lembut, ia mengajaknya untuk bercinta. Di saat itulah Yusuf dihadapkan pada pesona dunia yang memanggil dan menggoda.

Bayangkan, Yusuf adalah pemuda. Ia dalam usia di mana syahwat sedang membara. Ia juga jauh dari keluarganya dan kampung halamannya. Tak seorang pun di tempat tersebut yang mengenalnya. Seandainya ia melakukan ulah asmara, tidak akan berpengaruh pada nama baik keluarganya. Dan kini, di hadapannya berdiri seorang wanita cantik dan terpandang, yang dengan penuh kerinduan mengajaknya menuruti gejolak dunia.

Namun, lihatlah reaksi Yusuf! Dengan tegas ia berkata:

مَعَاذَ اللَّهِ إِنَّهُ رَبِّي أَحْسَنَ مَثْوَايَ

“Aku berlindung kepada Allah, sungguh tuanku telah memperlakukan aku dengan baik.” (QS. Yusuf: 23)

Ia menolak permintaan wanita tersebut, padahal peluang untuk menerima ajakannya sangat terbuka lebar di hadapannya. Dengan sabar, ia melewati ujian yang sangat berat tersebut. Ujian yang dapat menggoyahkan iman dan ketakwaan siapa pun. Ia tetap teguh menjaga kehormatannya dan kemuliaannya, menjauhi hal yang dapat menodainya. Sekali lagi, ia berhasil melewati ujian Allah yang genting tersebut.

Namun, apakah selesai ujian yang menimpa dirinya? Tidak. Ujian lain menantinya. Karena menolak cinta yang salah, ia harus menanggung akibatnya. Istri Al-‘Aziz murka dan memfitnahnya, sehingga ia harus mendekam di penjara. Meski demikian, kesabaran Yusuf tak tergoyahkan. Terlontarlah dari lisannya:

رَبِّ السِّجْنُ أَحَبُّ إِلَيَّ مِمَّا يَدْعُونَنِي إِلَيْهِ وَإِلا تَصْرِفْ عَنِّي كَيْدَهُنَّ أَصْبُ إِلَيْهِنَّ وَأَكُنْ مِنَ الْجَاهِلِينَ

“Wahai Tuhanku, penjara lebih kusukai daripada memenuhi ajakan mereka. Jika Engkau tidak menghindarkan tipu daya mereka dariku, niacaya aku akan cenderung untuk (memenuhi keinginan mereka) dan tentu aku termasuk orang-orang yang bodoh.” (QS. Yusuf: 33)

Allah tidak menyia-nyiakan kesabaran hamba-Nya. Setelah bertahun-tahun dalam penjara, Allah membuka hati raja, yang kemudian membebaskan Yusuf dan membersihkan namanya. Bahkan, Yusuf diberi kedudukan tinggi sebagai bendahara kerajaan Mesir.

Saat Yusuf telah berada pada kedudukan yang terhormat, datanglah orang-orang yang dulu menyakitinya. Yusuf mengenali mereka, tapi mereka tidak mengenalinya. Mereka adalah saudara-saudaranya sendiri, yang dulu membuangnya ke sumur dan memisahkannya dari keluarganya tercinta. Kini, mereka datang memohon pertolongan kepadanya.

Ia bisa saja membalas kejahatan mereka. Namun, ia sosok yang mulia. Ia malah mengulurkan tangan untuk menolong mereka. Perhatikanlah keluhuran akhlaknya!

Saat ia mengungkapkan identitasnya, “Apakah kalian mengetahui apa yang telah kalian lakukan terhadap Yusuf dan saudaranya ketika kalian tidak menyadari akibatnya?” Mereka pun tertegun dan berkata, “Apakah kamu benar-benar Yusuf?” Yusuf berkata, “Aku Yusuf, dan ini saudaraku. Sesungguhnya Allah telah melimpahkan karunia-Nya kepada kami.” (QS. Yusuf: 89-90)

Mereka menyesali perbuatan mereka dan berkata, “Demi Allah, sesungguhnya Allah telah melebihkan kamu atas kami, dan kami adalah orang-orang yang bersalah.” (QS. Yusuf: 91)

Dengan hati yang lapang, Yusuf berkata, “Pada hari ini tidak ada celaan terhadap kalian. Semoga Allah mengampuni kalian, karena Dia Maha Penyayang di antara para penyayang.” (QS. Yusuf: 92)

Allahu akbar! Inilah keluhuran akhlak Nabi Yusuf, suri teladan sepanjang masa.

Ia mengajarkan bahwa jalan menuju kemuliaan terbentang di atas jalan terjal penuh ujian.  Hanya mereka yang bersabar dan bertakwalah yang akan sampai ke ujungnya.

“Sesungguhnya siapa yang bertakwa dan bersabar, maka sesungguhnya Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat baik.” (QS. Yusuf: 90)

“Maka bersabarlah, sesungguhnya kesudahan yang baik adalah bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS. Yusuf: 49)

“Dan bersabarlah. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.” (QS. Yusuf: 46)

Kita memohon kepada Allah agar menganugerahi kita kesabaran dan ketakwaan kepada-Nya.

 

Siberut, 2 Rabī’ul Awwal 1447

Abu Yahya Adiya