Allah berfirman:
وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَتَّخِذُ مِنْ دُونِ اللَّهِ أَنْدَاداً يُحِبُّونَهُمْ كَحُبِّ اللَّهِ وَالَّذِينَ آمَنُوا أَشَدُّ حُبّاً لِلَّهِ وَلَوْ يَرَى الَّذِينَ ظَلَمُوا إِذْ يَرَوْنَ الْعَذَابَ أَنَّ الْقُوَّةَ لِلَّهِ جَمِيعاً وَأَنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعَذَابِ
“Di antara manusia ada yang membuat tuhan-tuhan tandingan selain Allah, mereka mencintainya sebagaimana mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman lebih besar cintanya kepada Allah. Sekiranya orang-orang yang berbuat zalim itu melihat, ketika mereka melihat siksa, bahwa kekuatan itu semuanya milik Allah dan bahwa Allah sangat berat siksa-Nya (niscaya mereka menyesal).” (QS. Al Baqarah: 165)
mereka mencintainya sebagaimana mencintai Allah artinya mereka mencintai sembahan-sembahan mereka sebagaimana mereka mencintai Allah. Atau mereka mencintai sembahan-sembahan mereka sebagaimana kaum muslimin mencintai Allah.
Faidah yang bisa kita petik dari ayat di atas:
- Cinta itu ibadah. Makanya Allah menganggap orang yang menyamakan diri-Nya dengan selain-Nya dalam hal kecintaan sebagai musyrik dan membuat tandingan bagi-Nya.
Karena itu, siapa pun yang mencintai selain Allah, entah itu malaikat, nabi, atau orang saleh, seperti halnya mencintai Allah, berarti ia telah menyekutukan Allah.
Syekh Muhammad bin Saleh Al-‘Utsaimin berkata:
وهذا موجود في كثير من المنتسبين للإسلام اليوم; فإنهم يحبون أولياءهم أكثر مما يحبون الله
“Ini ada pada banyak orang yang mengaku muslim sekarang ini. Karena sesungguhnya mereka lebih banyak mencintai wali-wali mereka daripada mencintai Allah.
ولهذا لو قيل له: احلف بالله; حلف صادقا أو كاذبا، أما الولي; فلا يحلف به إلا صادقا.
Karenanya, kalau dikatakan kepadanya, “Bersumpahlah dengan nama Allah!”, maka ia akan bersumpah baik untuk mengatakan yang benar maupun dusta. Adapun terkait seorang wali, maka ia hanya mau bersumpah dengan namanya untuk mengatakan yang benar.
وتجد كثيرا منهم يأتون إلى مكة والمدينة، ويرون أن زيارة قبر الرسول صلى الله عليه وسلم أعظم من زيارة البيت
Dan engkau mendapati banyak dari mereka yang mendatangi Mekah dan Madinah, dan menganggap bahwa menziarahi kubur Rasul ﷺ lebih penting daripada menziarahi Baitullah.
لأنهم يجدون في نفوسهم حبا لرسول الله صلى الله عليه وسلم كحب الله أو أعظم، وهذا شرك
Sebab, mereka mendapati dalam jiwa mereka cinta mereka kepada Rasulullah ﷺ seperti cinta mereka kepada Allah, atau malah lebih besar. Dan itulah syirik.
لأن الله يعلم أننا ما أحببنا رسول الله صلى الله عليه وسلم إلا لحب الله، ولأنه رسول الله
Sebab, Allah tahu bahwa kita tidaklah mencintai Rasulullah ﷺ kecuali karena cinta kita kepada Allah dan karena ia adalah Rasulullah.
ما أحببناه لأنه محمد بن عبد الله، لكننا أحببناه لأنه رسول الله صلى الله عليه وسلم
Kita tidak mencintainya karena ia adalah Muhammad bin Abdullah. Akan tetapi, kita mencintainya karena ia adalah Rasulullah ﷺ.
فنحن نحبه بمحبة الله، لكن هؤلاء يجعلون محبة الله تابعة لمحبة الرسول صلى الله عليه وسلم إن أحبوا الله.
Maka, kita mencintai Rasulullah karena cinta kepada Allah. Akan tetapi mereka jika mencintai Allah, menjadikan kecintaan mereka kepada Allah mengikuti kecintaan mereka kepada Rasul.” (Al-Qaul Al-Mufid ‘Alaa Kitab At-Tauhid)
- Orang-orang musyrik itu mencintai Allah tapi kecintaan mereka kepada Allah tidak bermanfaat karena mereka menyekutukan Allah.
- Beratnya siksa yang akan diterima orang-orang yang menyekutukan Allah.
Allah menyebutkan balasan bagi orang-orang musyrik di hari kiamat nanti:
وَإِنْ يَسْتَغِيثُوا يُغَاثُوا بِمَاءٍ كَالْمُهْلِ يَشْوِي الْوُجُوهَ بِئْسَ الشَّرَابُ
“Dan jika mereka meminta minum, niscaya mereka akan diberi air seperti besi yang mendidih yang melenyapkan muka. Itulah seburuk-buruk minuman.” (QS. Al-Kahfi: 29)
Kalau terkena luar badan seperti itu, maka bagaimana pula kalau dalam badan?!
Allah berfirman:
وَسُقُوا مَاءً حَمِيمًا فَقَطَّعَ أَمْعَاءَهُمْ
“Dan mereka diberi minuman dengan air yang mendidih sehingga terpotong-potonglah usus mereka.” (QS. Muhammad: 15)
Dikarenakan kerasnya siksa yang akan menimpa orang-orang musyrik, ‘Umar bin Al-Khaththab pun menangis kalau teringat itu.
Suatu hari ‘Umar bin Al-Khaththab melewati tempat seorang rahib. Lalu ia memanggil:
يَا رَاهِبُ
“Wahai rahib!”
Maka muncullah si rahib. Tatkala ‘Umar melihatnya, ia pun menangis.
Ada yang bertanya:
يَا أَمِيرَ الْمُؤْمِنِينَ مَا يُبْكِيكَ مِنْ هَذَا؟
“Wahai amirulmukminin, apa yang menyebabkanmu menangis?”
‘Umar menjawab:
ذَكَرْتُ قَوْلَ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ فِي كِتَابِهِ: عامِلَةٌ ناصِبَةٌ تَصْلى نَارًا حامِيَةً فذاك الذي أبكاني.
“Aku teringat firman Allah dalam kitab-Nya: “bekerja keras lagi kepayahan, memasuki api yang sangat panas (neraka)“, itulah yang menyebabkanku menangis.” (Tafsir Al-Quran Al-‘Azhim)
Siberut, 7 Syawwal 1441
Abu Yahya Adiya
Sumber:
- Al-Qaul Al-Mufid ‘Alaa Kitab At-Tauhid karya Syekh Muhammad bin Saleh Al-‘Utsaimin
- Tafsir Al-Fatihah wa Al-Baqarah karya Syekh Muhammad bin Saleh Al-‘Utsaimin
- Tafsir Al-Quran Al-‘Azhim karya Imam Ibnu Katsier






