Kita bisa memiliki rumah sebagai naungan, tempat tinggal dan istirahat bersama keluarga, baik itu di lembah maupun perbukitan.
Dan ketika sedang melakukan perjalanan, kita juga bisa membuat kemah-kemah dari kulit binatang ternak yang ringan dibawa ketika berjalan dan mudah untuk kita dirikan ketika sedang beristirahat dalam perjalanan.
Dan dari bulu kambing, bulu domba, dan bulu unta, kita juga bisa membuat perabotan, perhiasan dan pakaian yang memelihara kita dari panas dan dinginnya cuaca.
Itulah beberapa nikmat yang Allah sebutkan dalam surat An-Nahl ayat 80 dan 81.
Namun apa sikap orang-orang musyrik terhadap nikmat-nikmat itu?
Allah Ta’ala berfirman:
يَعْرِفُونَ نِعْمَتَ اللَّهِ ثُمَّ يُنْكِرُونَهَا وَأَكْثَرُهُمُ الْكَافِرُونَ
“Mereka mengetahui nikmat Allah, kemudian mereka mengingkarinya dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang ingkar.” (QS. An Nahl: 83)
Apa maksud mereka mengingkarinya? Yaitu mengingkari berbagai nikmat yang Allah sebutkan dalam surat An-Nahl ayat 80 dan 81.
Bagaimana cara mereka mengingkarinya? Seperti apa bentuk pengingkaran mereka?
Ibnul Jauzi berkata:
وفي إِنكارها ثلاثة أقوال:
“Dalam hal pengingkaran terhadap nikmat-nikmat tadi ada 3 pendapat:
أحدها:
Yang pertama:
أنهم يقولون: هذه ورثناها عن آبائنا… مجاهد قال: نِعَم الله المساكن، والأنعام، وسرابيل الثياب، والحديد، يعرفه كفار قريش، ثم ينكرونه بأن يقولوا: هذا كان لآبائنا ورثناه عنهم، وهذا عن مجاهد.
Mereka berkata, ‘Nikmat-nikmat ini kami warisi dari leluhur kami.”…Mujahid berkata, ‘Nikmat-nikmat Allah itu yaitu tempat tinggal, hewan ternak, pakaian baju dan besi, itu semua diketahui oleh orang-orang kafir Quraisy, lalu mereka mengingkarinya dengan berkata, ‘Ini milik leluhur kami. Kami mewarisi itu dari mereka.’ Ini pendapat Mujahid.
والثاني:
Yang kedua:
أنهم يقولون: لولا فلان، لكان كذا، فهذا إِنكارهم، قاله عون بن عبد الله.
Mereka berkata, ‘Kalau bukan karena fulan, tentu akan terjadi begini dan begitu.’ Itulah pengingkaran mereka, sebagaimana yang diutarakan oleh ‘Aun bin ‘Abdullah.
والثالث:
Yang ketiga:
يعرفون أن النعم من الله، ولكن يقولون: هذه بشفاعة آلهتنا، قاله ابن السائب، والفراء، وابن قتيبة.
Mereka mengetahui bahwa nikmat-nikmat itu dari Allah, akan tetapi mereka berkata, ‘Nikmat-nikmat itu karena syafaat sembahan-sembahan kami.’ Itulah pendapat yang disebutkan oleh Ibnu As-Saib, Al-Farra’ dan Ibnu Qutaibah.” (Zaad Al-Masiir Fii ‘Ilm At-Tafsiir)
Syekh Muhammad bin Saleh Al-‘Utsaimin berkata:
ينكرون إضافتها إلى الله لكونهم يضيفونها إلى السبب متناسين المسبِّب الذي هو الله سبحانه
“Mereka mengingkari penyandaran nikmat itu kepada Allah, dikarenakan mereka menyandarkan nikmat itu kepada sebab munculnya nikmat, dalam keadaan lupa akan Tuhan yang menciptakan sebab itu yakni Allah.
وليس المعنى أنهم ينكرون هذه النعمة، مثل أن يقولوا: ما جاءنا مطر أو ولد أو صحة، ولكن ينكرونها بإضافتها إلى غير الله، متناسين الذي خلق السبب
Makna ayat ini bukanlah mereka mengingkari nikmat tadi, yaitu seperti dengan berkata, “Kami tidak mendapat hujan, anak atau kesehatan.” Akan tetapi mereka mengingkari nikmat itu dengan menyandarkan nikmat itu kepada selain Allah, dalam keadaan lupa akan Tuhan yang telah menciptakan sebab munculnya nikmat itu.” (Al-Qaul Al-Mufiid ‘Alaa Kitab At-Tauhid)
Faidah yang bisa kita petik dari ayat ini:
- Wajibnya menyandarkan nikmat kepada Allah semata.
- Peringatan agar tidak menyandarkan nikmat kepada selain Allah. Sebab, itu adalah kemusyrikan.
Syekh Muhammad bin Saleh Al-‘Utsaimin berkata:
أن من أضاف نعمة الخالق إلى غيره; فقد جعل معه شريكا في الربوبية لأنه أضافها إلى السبب على أنه فاعل، هذا من وجه
“Siapa yang menyandarkan nikmat Sang Pencipta kepada selain-Nya, maka ia telah menjadikan sekutu bagi-Nya dalam hal rububiyah (penciptaan, penguasaan, dan pengaturan alam semesta). Sebab, ia telah menyandarkan nikmat itu kepada sebab, dengan keyakinan bahwa itulah pelakunya. Ini dari satu sisi.
ومن وجه آخر: أنه لم يقم بالشكر الذي هو عبادة من العبادات، وترك الشكر مناف للتوحيد; لأن الواجب أن يُشْكَر الخالق المنعم – سبحانه وتعالى –
Dan dari sisi lain, ia tidak bersyukur yang merupakan salah satu dari ibadah. Sedangkan tidak bersyukur itu meniadakan tauhid. Sebab, yang wajib adalah bersyukur kepada Sang Pencipta dan Pemberi nikmat-Maha Suci dan Maha Tinggi Dia-.” (Al-Qaul Al-Mufiid ‘Alaa Kitab At-Tauhid)
- Hendaknya seorang muslim selalu menggunakan kalimat yang baik dalam berbicara. Ya, baik dari sisi kata-katanya maupun tujuannya.
Baik dari sisi kata-kata artinya kata-katanya bisa dipahami dengan baik oleh orang yang mendengarnya.
Baik dari sisi tujuan artinya tujuannya baik, bukan untuk kejahatan dan keburukan.
Makanya, tidak boleh seseorang mengucapkan kalimat yang kata-katanya baik, tapi tujuannya buruk. Dan tidak boleh juga ia mengucapkan kalimat yang tujuannya baik, tapi kata-katanya buruk.
Kata-kata dan tujuannya harus sama-sama baik!
- Wajibnya menjaga tauhid dan menutup segala sarana yang mengantarkan pada syirik.
- Bergantung kepada sebab dan melupakan Tuhan yang menciptakan sebab adalah perbuatan yang diharamkan.
Itu adalah syirik, dan bertentangan dengan tauhid. Dan itulah sikap sebagian orang-orang kafir.
Mereka-contohnya- meyakini 100% bahwa kerja keras dan cerdaslah yang menjadikan seseorang kaya. Tidak ada campur tangan Allah dalam hal itu.
Mereka lupa atau pura-pura lupa, berapa banyak orang yang bekerja keras dan cerdas, namun tetap saja, tidak juga kaya.
Adapun seorang mukmin, ia memandang sebab hanyalah sebagai sebab. Bukan penentu.
Bekerja keras dan cerdas memang merupakan sebab yang menjadikan seorang kaya. Ya, itu hanyalah sebab, dan bukan penentu.
Adapun apakah ia akan kaya atau tidak, keputusan itu hanya ada di tangan-Nya.
Berarti, segala sesuatu terjadi karena ada sebabnya. Tapi, sebab tersebut tidak akan berpengaruh kalau tidak dikehendaki Allah.
Itulah sikap yang bijaksana dan hikmah. Dan itulah sikap Ahlus Sunnah Wal Jama’ah.
Siberut, 7 Muharram 1442
Abu Yahya Adiya
Sumber:
- Al-Mulakhash fi Syarh Kitab At-Tauhid karya Syekh Saleh Al-Fauzan.
- Al-Qaul Al-Mufiid ‘Alaa Kitab At-Tauhid karya Syekh Muhammad bin Saleh Al-‘Utsaimin.
- Ma‘alim Ushul Fiqh ‘Inda Ahl As-Sunnah wa Al-Jama‘ah karya DR. Muhammad bin Husain Al-Jizani.
- Zaad Al-Masiir Fii ‘Ilm At-Tafsiir karya Imam Ibnul Jauzi.






