Membuat Tandingan Bagi-Nya

Allah berfirman:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اعْبُدُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ وَالَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

“Hai manusia, beribadahlah kepada Tuhan kalian yang telah menciptakan kalian dan orang-orang sebelum kalian, agar kalian bertakwa.

الَّذِي جَعَلَ لَكُمُ الأرْضَ فِرَاشًا وَالسَّمَاءَ بِنَاءً وَأَنْزَلَ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً فَأَخْرَجَ بِهِ مِنَ الثَّمَرَاتِ رِزْقًا لَكُمْ فَلا تَجْعَلُوا لِلَّهِ أَنْدَادًا وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَ

Yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagi kalian dan langit sebagai atap, dan Dia menurunkan air dari langit, lalu Dia menghasilkan dengan air itu buah-buahan sebagai rezeki untuk kalian. Karena itu, janganlah kalian mengadakan tandingan-tandingan bagi Allah, padahal kalian mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 21-22)

 

Faidah yang bisa kita petik dari 2 ayat tadi:

 

  1. Wajibnya beribadah kepada Allah. Sebagaimana firman-Nya: “Hai manusia, beribadahlah kepada Tuhan kalian.”

 

  1. Orang-orang musyrik di zaman Nabi ﷺ mengakui bahwa Allah lah yang menciptakan mereka.

Karena itu, Allah menyebutkan, “Yang telah menciptakan kalian”

Dan yang lebih memperkuat itu adalah firman-Nya:

وَلَئِنْ سَأَلْتَهُمْ مَنْ خَلَقَهُمْ لَيَقُولُنَّ اللَّهُ

“Dan sungguh, kalau engkau bertanya kepada mereka, siapakah yang menciptakan mereka, niscaya mereka akan menjawab, ‘Allah.” (QS. Az-Zukhruf: 87)

Bahkan, mereka mengakui bahwa Allah lah pencipta langit dan bumi.

وَلَئِنْ سَأَلْتَهُمْ مَنْ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضَ لَيَقُولُنَّ اللَّهُ

“Dan sungguh, jika engkau bertanya kepada mereka, ‘Siapakah yang menciptakan langit dan bumi?’ Tentu mereka akan menjawab, ‘Allah” (QS. Luqman: 25)

 

  1. Di antara metode berdakwah adalah:

1) Memberi contoh dari orang terdahulu.

Karena itu, setelah menyebutkan: “Beribadahlah kepada Tuhan kalian yang telah menciptakan kalian”, Allah melanjutkan, “dan orang-orang sebelum kalian”.

Agar mereka berpikir bahwa jika orang-orang sebelum mereka Allah tolong karena beriman kepada ayat-ayat-Nya, maka mereka pun akan Allah tolong kalau mereka beriman kepada ayat-ayat-Nya.

Dan agar mereka berpikir bahwa jika orang-orang sebelum mereka Allah hinakan karena mendustakan ayat-ayat-Nya, maka mereka pun akan Allah hinakan jika mendustakan ayat-ayat-Nya.

2) Mengingatkan kepada nikmat Allah. Karena, fitrah seorang manusia itu menyukai orang yang berbuat baik kepadanya.

Sebagaimana dalam ayat tadi Allah menyebutkan beberapa nikmat: “Yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagi kalian dan langit sebagai atap, dan Dia menurunkan air dari langit, lalu Dia menghasilkan dengan air itu buah-buahan sebagai rezeki untuk kalian.”

 

  1. Seluruh perintah Allah itu mengandung hikmah dan tujuan yang baik bagi hamba.

Karena itu, setelah memberikan perintah untuk beribadah kepada-Nya, Allah menyebutkan alasannya yaitu “Agar kalian bertakwa.”

 

  1. Salah satu nikmat yang Allah berikan kepada kita adalah Dia menjadikan bumi sebagai hamparan, sehingga bisa kita tempati.

Sebagaimana firman-Nya: “Yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagi kalian.”

“Allah-lah yang menjadikan bumi untuk kalian sebagai tempat menetap.” (QS. Al-Mu’min: 64)

 

  1. Salah satu nikmat yang Allah berikan kepada kita adalah Dia menjadikan langit sebagai atap, sehingga kita bisa bernaung di bawahnya.

Sebagaimana firman-Nya: “Dan langit sebagai atap.”

Sebagaimana atap rumah bisa kita jadikan naungan, maka begitu pula atap bumi. Bisa kita jadikan naungan. Naungan yang penuh berkah dan kebaikan.

 

  1. Salah satu nikmat yang Allah berikan kepada kita adalah Dia menurukan hujan.

Sebagaimana firman-Nya: “Dia menurunkan air dari langit.”

Hujan adalah nikmat, rahmat dan rezeki dari Allah.  Dengan turun hujan, tanah menjadi subur sehingga bisa tumbuh tanaman dan buah-buahan, lalu bisa kita makan.

 

  1. Segala sesuatu yang Allah tetapkan pasti ada sebab dan tujuannya. Dan itulah keyakinan Ahlussunnah Wal Jama’ah.

Sebagaimana firman-Nya: “Dia menghasilkan dengan air itu segala buah-buahan sebagai rezeki untuk kalian.”

Lihatlah, Allah menumbuhkan buah-buahan dengan sebab turunnya hujan.

Itu menunjukkan segala sesuatu yang terjadi pasti ada sebabnya.

Namun, sebab itu tidak akan berpengaruh tanpa izin dari-Nya.

 

  1. Haramnya membuat tandingan bagi Allah. Baik kecil maupun besar. Baik yang nampak maupun yang tersembunyi.

Apa contoh membuat tandingan bagi Allah?

Ibnu ‘Abbas menafsirkan ayat tadi dengan mengatakan:

الأَنْدَادُ هُوَ الشِّرْكُ أَخْفَى مِنْ دَبِيبِ النَّمْلِ عَلَى صَفَاةٍ سَوْدَاءَ، فِي ظُلْمَةِ اللَّيْلِ

“Mengadakan tandingan bagi Allah adalah perbuatan syirik, suatu perbuatan dosa yang lebih sulit untuk dikenali daripada semut kecil yang merayap di atas batu hitam, pada malam hari yang gelap gulita.

وَهُوَ أَنْ يَقُولَ:

Yaitu seperti ucapan:

وَاللَّهِ، وَحَيَاتِكَ يَا فُلانَةُ، وَحَيَاتِي.

“Demi Allah dan demi hidupmu wahai fulan, juga demi hidupku”,

وَيَقُولُ:

Atau seperti ucapan:

لَوْلا كَلْبُهُ هَذَا لأَتَانَا اللُّصُوصُ، وَلَوْلا الْبَطُّ فِي الدَّارِ لأَتَى اللُّصُوصُ

“Kalau bukan karena anjing ini, tentu kita didatangi pencuri-pencuri itu dan kalau bukan karena angsa yang ada di rumah ini, tentu kita didatangi pencuri-pencuri tersebut.”

وَقَوْلُ الرَّجُلِ لِصَاحِبِهِ:

Atau seperti ucapan seseorang kepada kawannya:

مَا شَاءَ اللَّهُ وَشِئْتَ

“Karena kehendak Allah dan kehendakmu.”

وَقَوْلُ الرَّجُلِ:

Atau seperti ucapan seseorang:

لَوْلا اللَّهُ وَفُلَانٌ.

“Kalaulah bukan karena Allah dan fulan.”

لَا تَجْعَلْ فِيهَا فلان، فَإِنَّ هَذَا كُلَّهُ بِهِ شِرْكٌ.

Janganlah engkau menyertakan “fulan” dalam ucapan-ucapan tadi, karena semua itu kemusyrikan.” (Tafsir Al-Quran Al-‘Azhim Musnadan ‘An Rasulillah wa Ash-Shahabah wa At-Tabi’in)

“Demi Allah dan demi hidupmu wahai fulan, juga demi hidupku.”

Lihatlah, sumpah dengan nama Allah disandingkan dengan sumpah dengan nama makhluk. Itu sama saja membuat tandingan bagi Allah dan itu adalah syirik kata Ibnu ‘Abbas.

“Kalau bukan karena anjing ini, tentu kita didatangi pencuri-pencuri itu dan kalau bukan karena angsa yang ada di rumah ini, tentu kita didatangi pencuri-pencuri tersebut.”

Lihatlah, keselamatan dari pencuri disandarkan pada anjing atau angsa. Bukan kepada Allah. Itu sama saja membuat tandingan bagi Allah dan itu adalah syirik kata Ibnu ‘Abbas.

“Karena kehendak Allah dan kehendakmu.”

“Kalaulah bukan karena Allah dan fulan.”

Lihatlah, kehendak Allah disandingkan dengan kehendak manusia. Itu sama saja membuat tandingan bagi Allah dan itu adalah syirik kata Ibnu ‘Abbas.

Siberut, 8 Muharram 1442

Abu Yahya Adiya

 

Sumber:

  1. At-Tashiil Lita’wiil At-Tanzil karya Syekh Musthofa Al-‘Adawi.
  2. Tafsir Al-Fatihah wa Al-Baqarah karya Syekh Muhammad bin Saleh Al-‘Utsaimin.
  3. Tafsir Al-Quran Al-‘Azhim Musnadan ‘An Rasulillah wa Ash-Shahabah wa At-Tabi’in karya Imam Ibnu Abi Hatim.