Nabi ﷺ bersabda:
قَالَ اللهُ عَزَّ وَجَلّ
“Allah ‘Azza wa Jalla berfirman:
يُؤْذِينِي ابْنُ آدَمَ، يَسُبُّ الدَّهْرَ وَأَنَا الدَّهْرُ، أُقَلِّبُ اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ
“Anak Adam menyakiti Aku, ia mencaci masa, padahal Aku adalah pemilik dan pengatur masa, Akulah yang menjadikan malam dan siang silih berganti.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Dan beliau ﷺ juga bersabda:
لَا تَسُبُّوا الدَّهْرَ، فَإِنَّ اللهَ هُوَ الدَّهْرُ
“Janganlah kalian mencaci masa, karena sesungguhnya Allah adalah Pemilik dan Pengatur masa.” (HR. Muslim)
Anak Adam yaitu manusia.
Menyakiti-Ku yaitu mencela Allah.
ia mencaci masa yaitu mencela dan memakinya tatkala tertimpa musibah.
Faidah yang bisa kita petik dari 2 hadis ini:
- Wajibnya beriman kepada takdir Allah. Sebab, tidak ada suatu pun kejadian terjadi di bumi melainkan sudah Allah tetapkan.
Allah berfirman:
مَا أَصَابَ مِنْ مُصِيبَةٍ فِي الْأَرْضِ وَلَا فِي أَنْفُسِكُمْ إِلَّا فِي كِتَابٍ مِنْ قَبْلِ أَنْ نَبْرَأَهَا إِنَّ ذَلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيرٌ
“Tidak ada suatu bencana pun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) yang menimpa diri kalian sendiri melainkan semuanya telah tertulis dalam kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum Kami mewujudkannya. Sesungguhnya yang demikian itu mudah bagi Allah.” (QS. Al-Hadid: 22)
- Haramnya mencela masa. Dalam bentuk apapun. Baik dengan ucapan maupun perbuatan.
- Siapa yang melarang dari sesuatu hendaknya menyebutkan alasan pelarangannya, agar mudah diterima.
Seperti halnya Nabi ﷺ dalam hadis tadi melarang dari mencela masa, dan beliau sebutkan alasannya: “karena sesungguhnya Allah adalah Pemilik dan Pengatur masa.”
- Hendaknya kita selalu menjaga lisan kita. Jangan sampai kita mengumbarkan lisan kita untuk melaknat dan mencela.
Nabi ﷺ bersabda:
ليس المؤمن بالطعان ولا اللعان والفاحش البذيء
“Seorang mukmin bukanlah orang yang suka mencela, melaknat dan juga mengucapkan kata-kata keji.” (HR. Ahmad dan Tirmidzi)
Nabi ﷺ bersabda:
من حسن إسلام المرء تركه ما لا يعنيه
“Di antara tanda baiknya keislaman seseorang adalah meninggalkan perkara yang tidak bermanfaat baginya.” (HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah)
Kalau begitu, orang yang banyak melakukan perkara yang tidak bermanfaat adalah orang yang tidak baik. Dan orang yang banyak mengucapkan sesuatu yang tidak bermanfaat adalah orang yang tidak cerdas.
Sebab, muslim yang baik dan cerdas sadar bahwa malaikat mencatat semua ucapan yang keluar dari mulutnya.
Allah berfirman:
مَا يَلْفِظُ مِنْ قَوْلٍ إِلَّا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ
“Tidak ada suatu kata yang ia (insan) ucapkan melainkan di sisinya ada malaikat pengawas yang selalu siap (mencatat).” (QS. Qaaf: 18)
Karena itu, hendaknya lisan kita selalu mengucapkan kata-kata baik. Kalau tidak, diam itu lebih baik.
Nabi ﷺ bersabda:
مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَاليَوْمِ الآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ
“Siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaknya ia berkata baik atau diam.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Siberut, 16 Muharram 1442
Abu Yahya Adiya
Sumber:
- Al-Mulakhash fi Syarh Kitab At-Tauhid karya Syekh Saleh Al-Fauzan.
- Al-Qaul Al-Mufiid ‘Alaa Kitab At-Tauhid karya Syekh Muhammad bin Saleh Al-‘Utsaimin.






