Suku Daus menolak dan menentang dakwah Islam. Lalu datanglah beberapa orang kepada Rasulullah ﷺ untuk menyampaikan kabar tersebut.
Mereka berkata:
يَا رَسُولَ اللهِ إِنَّ دَوْسًا قَدْ كَفَرَتْ وَأَبَتْ، فَادْعُ اللهَ عَلَيْهَا
“Wahai Rasulullah, sesungguhnya Daus sudah kafir dan enggan beriman, maka berdoalah kepada Allah agar mereka mendapatkan keburukan.”
Kemudian Rasulullah ﷺ mengangkat tangan. Ya, mengangkat tangan untuk berdoa.
Melihat beliau ﷺ demikian, seseorang berkata:
هَلَكَتْ دَوْسٌ
“Binasalah Daus.”
Ia menyangka bahwa Rasulullah ﷺ akan mendoakan mereka agar mendapatkan keburukan. Namun beliau ﷺ malah berdoa:
اللهُمَّ اهْدِ دَوْسًا وَائْتِ بِهِمْ
“Ya Allah berilah hidayah kepada Daus dan datangkanlah mereka.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Dan di kemudian hari suku Daus ternyata masuk Islam!
Pada kesempatan lain….
Doa Untuk Penduduk Thaif
Penduduk Thaif menolak kehadiran Rasulullah ﷺ. Bukan cuma menolak, mereka juga mengejek beliau bahkan sampai melempari beliau dengan batu sehingga berdarahlah kaki beliau ﷺ.
Beliau ﷺ pun lari meninggalkan Thaif dalam keadaan terluka. Ya, terluka hati dan raga beliau. Luka yang begitu mendalam sehingga beliau ﷺ tak sadar bahwa kaki beliau sudah menginjak Qarn Ats-Tsa’alib.
Ketika itulah beliau ﷺ melihat ada awan yang menaungi beliau. Beliau ﷺ melihat ke atas ternyata di situ ada malaikat Jibril. Ia memanggil beliau ﷺ lalu berkata:
إِنَّ اللَّه تَعَالَى قَد سَمِع قَولَ قومِك لَكَ، وَما رَدُّوا عَلَيكَ، وَقد بعثَ إِلَيك ملَكَ الجبالِ لِتأْمُرهُ بمَا شِئْتَ فِيهم
“Sesungguhnya Allah Ta’ala telah mendengar jawaban kaummu terhadapmu dan bagaimana penolakan mereka terhadapmu. Allah kini mengutus kepadamu malaikat penjaga bukit supaya engkau menyuruhnya untuk melakukan apapun yang kau inginkan.”
Seterusnya malaikat penjaga bukit memberi salam kepada Rasulullah ﷺ lalu berkata:
يَا مُحَمَّدُ إِنَّ اللَّه قَد سمعَ قَولَ قَومِكَ لَكَ، وأَنَا مَلَكُ الجِبالِ، وقَدْ بَعَثَني رَبِّي إِلَيْكَ لِتأْمُرَني بِأَمْرِكَ، فَمَا شئتَ: إِنْ شئْتَ: أَطْبَقْتُ عَلَيهمُ الأَخْشَبَيْن”
“Hai Muhammad, sesungguhnya Allah telah mendengar jawaban kaummu terhadapmu dan aku adalah malaikat penjaga bukit. Tuhanku mengutusku kepadamu agar engkau memberiku perintah. Kalau engkau mau, aku bisa timpakan dua bukit itu kepada mereka.”
Artinya, malaikat itu menawarkan bantuan kepada beliau untuk membinasakan penduduk Thaif. Lantas, apa reaksi beliau?
Rasulullah ﷺ bersabda:
بلْ أَرْجُو أَنْ يُخْرِجَ اللَّه مِنْ أَصْلابِهِم منْ يعْبُدُ اللَّه وَحْدَهُ لاَ يُشْرِكُ بِهِ شَيْئاً
“Bahkan, aku berharap agar Allah memunculkan dari keturunan mereka orang yang beribadah kepada Allah semata dan tidak menyekutukan-Nya sama sekali.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Lihatlah, bagaimana sikap rasul-Nya ﷺ terhadap orang-orang yang menentang dakwahnya.
Beliau ﷺ bersabar menghadapi penolakan mereka. Beliau ﷺ tidak tergesa-gesa mengharapkan mereka binasa. Beliau ﷺ malah berdoa agar mereka mendapatkan petunjuk dari Tuhan mereka.
Itulah buah dari ketulusan hati beliau dalam memberikan nasehat dan berdakwah di jalan-Nya.
Itulah akhlak mulia seorang rasul yang mulia, utusan Tuhan Yang Maha Mulia.
Apakah kita juga memiliki akhlak yang sama?
Apa sikap kita terhadap orang yang terjatuh dalam kesalahan?
Apa sikap kita terhadap orang yang menolak nasehat yang kita sampaikan?
Pernahkah kita mendoakannya supaya ia mendapat hidayah?
Bisakah kita bersabar menghadapinya agar ia mendapat hidayah?
Padang, 7 Syawwal 1442
Abu Yahya Adiya






