Surat Al-Baqarah Ayat 6-7

Surat Al-Baqarah Ayat 6-7

Setelah menyebutkan sifat-sifat orang-orang yang benar-benar beriman, Allah menyebutkan sifat orang-orang kafir yang menampakkan kekafiran mereka. Allah berfirman:

  1. إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا سَوَاءٌ عَلَيْهِمْ ءَأَنْذَرْتَهُمْ أَمْ لَمْ تُنْذِرْهُمْ لا يُؤْمِنُونَ

Sesungguhnya orang-orang kafir, sama saja bagi mereka, engkau beri peringatan atau tidak engkau beri peringatan, mereka tidak akan beriman.

Ya, orang-orang kafir itu tidak akan beriman, baik mereka diberi peringatan maupun tidak. Mengapa demikian?

  1. خَتَمَ اللَّهُ عَلَى قُلُوبِهِمْ وَعَلَى سَمْعِهِمْ وَعَلَى أَبْصَارِهِمْ غِشَاوَةٌ وَلَهُمْ عَذَابٌ عَظِيمٌ

Allah telah mengunci hati dan pendengaran mereka, dan penglihatan mereka ditutup. Dan mereka akan mendapat siksa yang berat.

Allah mematikan hati, pendengaran, dan penglihatan mereka sehingga tidak bisa memahami, tidak bisa mendengar, dan tidak bisa melihat.

Padahal, hati, pendengaran, dan penglihatan adalah pintu hidayah. Kalau semuanya sudah ditutup, maka dari pintu mana lagi hidayah bisa diraih?

 

Faidah yang bisa kita petik dari dua ayat ini:

 

  1. Peringatan tidak akan bermanfaat bagi orang-orang kafir.

Sebab, Allah telah mengunci mati hati dan pendengaran mereka, dan penglihatan mereka pun ditutup.

Namun, apakah itu berlaku bagi semua orang kafir?

Tidak. Sebab, yang dimaksud orang-orang kafir yang dimatikan hati, pendengaran dan penglihatan mereka bukanlah seluruh orang kafir.

Orang-orang kafir yang disebutkan dalam ayat di atas adalah orang-orang kafir yang Allah tetapkan mati dalam keadaan kafir, seperti Abu Lahb, Abu Jahl dan semacam mereka.

Makanya Ibnu ‘Athiyyah dalam kitab Al-Muharrar Al-Wajiz menukilkan kesepakatan para ahli tafsir bahwa ayat 6-7 Al-Baqarah ini tidak berlaku bagi semua orang kafir, dikarenakan adanya orang-orang kafir yang masuk Islam setelah turunnya ayat itu.

Seandainya seluruh orang kafir dimatikan hati, pendengaran, dan penglihatan mereka, tentu tidak ada seorang pun yang menjadi pengikut dan sahabat Nabi.

Padahal, kenyataannya, Nabi ﷺ memiliki pengikut dan sahabat. Dan asalnya mereka itu tentu saja kafir, tapi ternyata mereka mendapat hidayah.

 

  1. Orang-orang kafir akan mendapatkan siksa yang berat di akhirat.

 

  1. Ayat ini merupakan penghibur bagi Nabi ﷺ.

Mengapa begitu?

Sebab, Nabi ﷺ adalah sosok yang penyayang. Beliau sangat sayang kepada umat manusia.

Di antara bentuk sayang beliau kepada mereka yaitu berusaha semaksimal mungkin agar mereka mendapatkan hidayah.

Beliau sangat senang kalau ada orang yang mendapatkan hidayah. Sebaliknya, beliau sangat bersedih dan berduka kalau ada orang yang mendustakan dan sesat.

Ya, sangat bersedih dan berduka. Karena itu, Allah, membimbing beliau agar jangan terlalu bersedih dan berduka karena adanya orang-orang yang menentang dan mendustakan dakwah beliau.

Sebagaimana Allah peringatkan dalam ayat lain:

{لعلك باخع نفسك أن لا يكونوا مؤمنين}

“Boleh jadi engkau akan membinasakan dirimu, karena mereka tidak beriman.” (QS. Asy-Syu’araa: 3)

{فلا تذهب نفسك عليهم حسرات}

“Maka janganlah engkau biarkan dirimu binasa karena kesedihan terhadap mereka.” (QS. Fathir: 8)

وَمَنْ كَفَرَ فَلا يَحْزُنْكَ كُفْرُهُ

“Dan siapa yang kafir, maka kekafirannya itu janganlah menyedihkanmu.” (QS. Luqman: 23)

Kewajiban Nabi ﷺ hanyalah menyampaikan risalah. Adapun hidayah, itu ada di tangan Allah.

Allah berfirman:

فَإِنْ أَعْرَضُوا فَمَا أَرْسَلْنَاكَ عَلَيْهِمْ حَفِيظًا إِنْ عَلَيْكَ إِلا الْبَلاغُ

“Jika mereka berpaling, maka Kami tidak mengutusmu sebagai pengawas bagi mereka. Kewajibanmu tidak lain hanyalah menyampaikan (risalah).” (QS. Asy-Syu’ara: 48)

Dan ayat-ayat tadi bukan penghibur bagi Nabi ﷺ saja, melainkan juga bagi para pendakwah.

Ya, ayat-ayat itu menghibur mereka supaya tidak berputus asa karena adanya penolakan dari orang-orang yang mereka hadapi.

Jangan bersedih dan berduka karena adanya penentangan dari mereka.

Jangan melihat hasil. Jangan berdakwah demi mencari pengikut.

Kewajiban mereka cuma menyampaikan dakwah. Adapun hidayah, itu ada di tangan Allah.

 

Siberut, 5 Rabī’ul Awwal 1442

Abu Yahya Adiya