Pemimpin yang kaya raya dan bergelimang harta. Itulah keadaan Sultan Muhammad bin Mahmud bin Muhammad bin Maliksyah.
Ketika menjelang meninggal dunia, ia meminta diperlihatkan semua kekayaannya berupa: harta, perhiasan, mutira, para pembantu, dan tentaranya.
Sultan melihat semua itu lalu menangis tersedu-sedu.
Kemudian ia berkata:
هَذِهِ الْعَسَاكِرُ لَا يَدْفَعُونَ عَنِّي مِثْقَالَ ذرة مِنْ أَمْرِ رَبِّي، لا يزيدون في عمري لحظة
“Tentara-tentara ini tidak bisa menolak sedikit pun hukuman Tuhanku untuk diriku, dan tidak bisa menambah sedikit pun umurku.”
Ia menyesali kelalaiannya selama ini lalu ia berkata:
وهذه الخزائن والأموال والجواهر لو قبلهم ملك الموت مني فداء لجدت بذلك جميعه له، وهذه الحظايا والجواري الحسان والمماليك لو قبلهم فداء مني لكنت بذلك سمحاً له.
“Seandainya seluruh perbendaharaan, harta dan perhiasan ini mau diterima oleh malaikat pencabut nyawa sebagai penebus diriku, niscaya akan kuserahkan semua itu kepadanya. Seandainya selir-selir dan budak-budak cantik ini mau diterima oleh malaikat pencabut nyawa sebagai penebus diriku, tentu aku akan serahkan semua itu kepadanya.”
Lalu ia membaca Al-Quran surat Al-Haaqqah ayat 28-29:
مَا أَغْنَى عَنِّي مَالِيَهْ هَلَكَ عَنِّي سُلْطَانِيَهْ
“Hartaku sama sekali tidak berguna bagiku. Kekuasaanku telah hilang dariku.” (Al-Bidayah wa An-Nihayah)
Kalau dalam keadaan sehat dan dan bergelimang harta, bisa jadi seseorang merasa bahwa harta dan jabatannya itu berguna dan bernilai baginya.
Namun, tatkala ia akan meninggalkan dunia, sadarlah ia bahwa harta yang selama ini tumpuk dan jabatan yang selama ini ia kejar, benar-benar tidak berguna. Ia pun memandang rendah dunia dan menganggapnya tidak berharga.
Dan kejadian yang menimpa Sultan Muhammad tadi memberikan pelajaran yaitu hendaknya seseorang memfokuskan perhatiannya pada dirinya tatkala ia merasa telah dekat ajalnya.
Ketika ajal sudah terasa dekat, mungkin saja terlintas di hati seseorang:
“Siapa yang akan menafkahi anak-anakku? Dan siapa yang akan menafkahi istriku? Apakah mereka sanggup mencari nafkah sendiri?”
Ia menyangka bahwa yang akan menderita adalah orang-orang yang akan ia tinggal, bukan dirinya!
Padahal, siapa yang sebentar lagi merasakan beratnya sakratulmaut? Siapa yang sebentar lagi merasakan himpitan kubur dan dahsyatnya fitnah kubur?
Orang yang akan meninggal seharusnya berfokus pada dirinya. Bukan pada orang terdekat dengan dirinya, apalagi orang yang jauh darinya!
Hendaknya ia berpikir: “Apakah saat ini aku sudah pantas bertemu dengan Tuhanku? Apakah amal salehku sudah cukup untuk membahagiakanku? Apakah aku masih mempunyai dosa yang akan menyengsarakanku?”
Siberut, 18 Sya’ban 1443
Abu Yahya Adiya






