Apakah ada hari raya selain Idulfitri? Bolehkah berpuasa ketika itu?
Apakah orang yang hendak melaksanakan salat Idulfitri dianjurkan makan dan mandi terlebih dahulu?
Apakah untuk mendatangi tempat salat dianjurkan berjalan atau berkendaraan?
Berikut ini pembahasannya:
1. Cuma ada 2 hari raya.
Anas bin Malik berkata:
قَدِمَ رَسُولُ اللهِ الْمَدِينَةَ وَلَهُمْ يَوْمَانِ يَلْعَبُونَ فِيهِمَا فِي الْجَاهِلِيَّةِ فَقَالَ:
“Rasulullah ﷺ datang ke Madinah, sedangkan penduduk Madinah mempunyai dua hari yang mereka ramaikan dengan berbagai permainan. Beliau pun bersabda:
إِنَّ اللهَ قَدْ أَبْدَلَكُمْ بِهِمَا خَيْرًا مِنْهُمَا: يَوْمَ الْفِطْر وَيَوْمَ النَّحْرِ
“Sesungguhnya Allah telah menggantikan keduanya dengan dua hari yang lebih baik bagi kalian, yaitu: Idulfitri dan Iduladha.” (HR. Ahmad dan lain-lain)
Imam Ash-Shan’ani berkata:
وفيه دليل على أنه لا يعظم غير يومي العيدين
“Dalam hadis ini terdapat dalil bahwa selain 2 hari raya ini tidak boleh diagungkan.” (At-Tanwir Syarh Al-Jami’ Ash-Shaghir)
2. Bolehkah berpuasa di hari raya?
Ketika hari raya, ‘Umar bin Al Khaththab mengimami salat lalu berkhutbah di hadapan khalayak. Ia berkata:
إِنَّ هَذَيْنِ يَوْمَانِ، نَهَى رَسُولُ اللهِ عَنْ صِيَامِهِمَا، يَوْمُ فِطْرِكُمْ مِنْ صِيَامِكُمْ، وَالْآخَرُ يَوْمٌ تَأْكُلُونَ فِيهِ مِنْ نُسُكِكُمْ
“Sesungguhnya inilah dua hari yang dilarang Rasulullah untuk berpuasa, yaitu hari saat kalian berbuka dari puasa kalian (Idulfitri) dan hari lainnya adalah hari ketika kalian memakan hewan kurban kalian (Iduladha).” (HR. Bukhari dan Muslim)
Imam An-Nawawi berkata:
وَقَدْ أَجْمَعَ الْعُلَمَاءُ عَلَى تَحْرِيمِ صَوْمِ هَذَيْنِ الْيَوْمَيْنِ بِكُلِّ حَالٍ سَوَاءٌ صَامَهُمَا عَنْ نَذْرٍ أَوْ تَطَوُّعٍ أَوْ كَفَّارَةٍ أَوْ غَيْرِ ذَلِكَ
“Para ulama telah sepakat akan haramnya puasa di dua hari ini (Idulfitri dan Iduladha) dalam keadaan apa pun, baik itu puasa nazar, puasa sunnah, kafarat atau selain itu.” (Al-Minhaj Syarh Shahih Muslim bin Al-Hajjaj)
3. Perlukah mandi sebelum salat?
Nafi’ berkata:
كَانَ ابْنُ عُمَرَ يَغْتَسِلُ فِي يَوْمِ الْعِيدِ، كَغُسْلِهِ مِنَ الْجَنَابَةِ، ثُمَّ يَمَسُّ مِنَ الطِّيبِ، إِنْ كَانَ عِنْدَهُ، وَيَلْبَسُ أَحْسَنَ ثِيَابِهِ، ثُمَّ يَخْرُجُ حَتَّى يَأْتِيَ الْمُصَلَّى
“Ibnu ‘Umar mandi di hari raya sebagaimana ia mandi janabat. Lalu ia mengenakan minyak wangi jika memilikinya dan memakai pakaian terbaiknya kemudian keluar sampai mendatangi tanah lapang.” (Syarh As-Sunnah)
Imam An-Nawawi berkata:
وَمِنْ الْغُسْلِ الْمَسْنُونِ غُسْلُ الْعِيدَيْنِ وَهُوَ سُنَّةٌ لِكُلِّ أَحَدٍ بِالِاتِّفَاقِ سَوَاءٌ الرِّجَالُ وَالنِّسَاءُ وَالصِّبْيَان
“Di antara mandi yang disunahkan yaitu mandi ketika dua hari raya. Itu sunnah bagi siapa pun berdasarkan kesepakatan para ulama, baik itu kaum pria, wanita, maupun anak-anak.” (Al-Majmu’ Syarh Al-Muhadzdzab)
4. Makanlah sebelum salat!
Anas bin Malik berkata:
كَانَ رَسُولُ اللَّهِ لاَ يَغْدُو يَوْمَ الفِطْرِ حَتَّى يَأْكُلَ تَمَرَاتٍ
“Rasulullah ﷺ tidak berangkat untuk menunaikan salat Idulfitri hingga memakan terlebih dahulu beberapa butir kurma.” (HR. Bukhari)
Sa’id bin Al-Musayyab berkata:
كَانَ الْمُسْلِمُونَ يَأْكُلُونَ يَوْمَ الْفِطْرِ قَبْلَ الصَّلَاةِ، وَلَا يَفْعَلُونَ ذَلِكَ يَوْمَ النَّحْرِ
“Dulu kaum muslimin memakan sebelum melaksanakan salat Idulfitri dan mereka tidak melakukan itu ketika Iduladha.” (As-Sunan Al-Kubra)
Sa’id bin Al-Musayyab juga berkata:
سُنَّةُ الْفِطْرِ ثَلَاثٌ: الْمَشْيُ إِلَى الْمُصَلَّى، وَالْأَكْلُ قَبْلَ الْخُرُوجِ، وَالِاغْتِسَالُ
“Sunnah dalam Idulfitri ada 3: berjalan, makan dan mandi sebelum keluar untuk menunaikan salat Idulfitri di tanah lapang.” (Ahkamul ‘Iedain)
5. Jangan lupa dandan!
Suatu hari ‘Umar bin Al-Khaththab mengambil baju jubah terbuat dari sutera yang ia beli di pasar. Kemudian ia membawa jubah tersebut kepada Rasulullah ﷺ seraya berkata:
يَا رَسُولَ اللَّهِ ابْتَعْ هَذِهِ تَجَمَّلْ بِهَا لِلْعِيدِ وَالْوُفُودِ
“Wahai Rasulullah! Belilah jubah ini sehingga engkau bisa memperbagus penampilan saat hari raya atau ketika menyambut para delegasi.”
Rasulullah ﷺ lalu berkata kepadanya:
إِنَّمَا هَذِهِ لِبَاسُ مَنْ لَا خَلَاقَ لَهُ
“Ini adalah pakaian orang yang tidak akan mendapatkan bagian di akhirat!”
Lalu ‘Umar tidak nampak untuk beberapa waktu lamanya. Kemudian Rasulullah ﷺ mengirimkan kepada ‘Umar sebuah jubah yang terbuat dari sutera.
Umar terkejut lalu membawa itu kepada Rasulullah ﷺ kemudian berkata:
يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّكَ قُلْتَ إِنَّمَا هَذِهِ لِبَاسُ مَنْ لَا خَلَاقَ لَهُ وَأَرْسَلْتَ إِلَيَّ بِهَذِهِ الْجُبَّةِ
“Wahai Rasulullah! Sesungguhnya engkau telah berkata bahwa ini adalah pakaian orang yang tidak akan mendapatkan bagian di akhirat, tapi engkau malah memberikan pakaian ini kepadaku?!”
Maka Rasulullah ﷺ pun berkata kepadanya:
تَبِيعُهَا أَوْ تُصِيبُ بِهَا حَاجَتَكَ
“Juallah itu, sehingga engkau bisa memenuhi kebutuhanmu.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Nabi ﷺ tidak menyalahkan anjuran ‘Umar untuk berdandan ketika hari raya. Yang beliau salahkan adalah anjuran ‘Umar untuk memakai sutra. Sebab, memakai sutra diharamkan atas kaum pria.
Imam Ibnu Rajab berkata:
وقد دل هذا الحديث على التجمل للعيد، وأنه كان معتادا بينهم… ولا خلاف بين العلماء – فيما نعلمه – في استحباب لبس الثياب أجود الثياب لشهود الجمعة والأعياد.
“Hadis ini menunjukkan tentang berdandan ketika hari raya dan itu sesuatu yang biasa bagi mereka (Nabi dan para sahabatnya)….dan tidak ada perbedaan pendapat di antara para ulama-setahu kami-tentang dianjurkannya memakai pakaian yang paling baik untuk menghadiri salat Jumat dan hari raya.” (Fathul Bari)
Karena itu, berdandan dan berpenampilan baik ketika hari raya adalah perbuatan yang dianjurkan selama tidak melakukan apa yang diharamkan. Dan itulah yang telah Nabi ﷺ contohkan.
Abu Rimtsah berkata:
رَأَيْتُ النَّبِيَّ ﷺ يَخْطُبُ وَعَلَيْهِ بُرْدَانِ أَخْضَرَانِ
“Aku melihat Nabi ﷺ berkhutbah dengan memakai dua burdah yang berwarna hijau.” (HR. Tirmidzi dan Nasai)
6. Lebih cepat lebih baik.
Muhammad bin Ziyad berkata:
رَأَيْتُ أَبَا أُمَامَةَ الْبَاهِلِيَّ، وَرِجَالًا مِنْ أَصْحَابِ النَّبِيِّ ﷺ إِذَا صَلَّوُا الْفَجْرَ فِي الْعِيدَيْنِ مَعَ الْجَمَاعَةِ فَسَلَّمَ الْإِمَامُ عَجَّلُوا الْخُرُوجَ حَتَّى يَقْعُدُوا قَرِيبًا مِنَ الْمِنْبَرِ
“Aku melihat Abu Umamah Al-Bahili dan beberapa orang sahabat Nabi ﷺ jika melaksanakan salat Subuh berjamaah di 2 hari raya dan imam telah mengucapkan salam, maka mereka segera keluar (ke tanah lapang) hingga duduk dekat dengan mimbar.” (Syarh As-Sunnah dan Ahkamul ‘Iedain)
‘Abdullah bin Busr suatu hari menunaikan salat hari raya. Ketika itu imam salat terlambat datang, maka ‘Abdullah pun berkata:
إِنَّا كُنَّا قَدْ فَرَغْنَا سَاعَتَنَا هَذِهِ وَذَلِكَ حِينَ التَّسْبِيحِ
“Sesungguhnya pada saat ini kami (di zaman Nabi) biasanya telah selesai salat. Dan saat itu adalah waktu Duha.” (HR. Bukhari dan lain-lain)
7. Berjalan kaki atau berkendaraan?
(bersambung)
Padang, 29 Ramadhan 1442
Abu Yahya Adiya






