Durhaka Kepada Nabi Antara Sesat dan Siksa

Al-Fadhl bin Ziyad berkata:

سَمِعْتُ أَبَا عَبْدِ اللَّهِ أَحْمَدَ بْنَ مُحَمَّدِ بْنِ حَنْبَلٍ يَقُولُ

“Aku mendengar Abu ‘Abdillah Ahmad bin Muhammad bin Hanbal berkata:

نَظَرْتُ فِي الْمُصْحَفِ فَوَجَدْتُ فِيهِ طَاعَةَ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ فِي ثَلَاثَةٍ وَثَلَاثِينَ مَوْضِعًا

“Aku melihat ke mushaf, maka kudapati di dalamnya ketaatan kepada Rasulullah ﷺ disebutkan dalam 33 tempat.”

ثُمَّ جَعَلَ يَتْلُو:

Lalu Ahmad membaca:

{فَلْيَحْذَرِ الَّذِينَ يُخَالِفُونَ عَنْ أَمْرِهِ أَنْ تُصِيبَهُمْ فِتْنَةٌ أَوْ يُصِيبَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ} [النور: 63]

“Maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintahnya takut akan ditimpa fitnah atau ditimpa siksa yang pedih.” (QS. An Nur: 63)

 وَجَعَلَ يُكَرِّرُهَا، وَيَقُولُ:

Ahmad mengulang-ulang itu dan berkata:

وَمَا الْفِتْنَةُ الشِّرْكُ، لَعَلَّهُ أَنْ يَقَعَ فِي قَلْبِهِ شَيْءٌ مِنَ الزَّيْغِ فَيَزِيغَ فَيُهْلِكَهُ

“Dan apakah yang dimaksud dengan fitnah di sini? Yaitu syirik. Mungkin saja muncul kesesatan dalam hati orang yang menyelisihi perintah Nabi, sehingga akhirnya ia sesat dan binasa.”

وَجَعَلَ يَتْلُو هَذِهِ الْآيَةَ:

Dan Ahmad membacakan ayat ini:

{فَلَا وَرَبِّكَ لَا يُؤْمِنُونَ حَتَّى يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ} [النساء: 65]

“Maka demi Tuhanmu, mereka tidak beriman hingga mereka menjadikanmu hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan.” (QS. An-Nisa’: 65)

Al-Fadhl bin Ziyad berkata:

 وَسَمِعْتُ أَبَا عَبْدِ اللَّهِ، يَقُولُ:

“Dan aku juga pernah mendengar Abu ‘Abdillah (Ahmad bin Hanbal) berkata:

مَنْ رَدَّ حَدِيثَ النَّبِيِّ ﷺ، فَهُوَ عَلَى شَفَا هَلَكَةٍ

“Siapa yang menolak hadis Nabi ﷺ, maka ia berada di tepi jurang kebinasaan.” (Al-Ibanah Al-Kubra)

 

Faidah yang bisa kita petik dari riwayat ini:

 

  1. Di antara metode pengajaran ilahi adalah mengulang-ulang perkataan.

 

  1. Wajibnya menaati Nabi ﷺ.

Menaati Nabi ﷺ adalah perkara yang wajib dan penting. Saking pentingnya itu, sampai-sampai Allah menyebutkan itu dalam 33 tempat di Al-Quran.

 

  1. Bukti keimanan kepada Nabi ﷺ adalah mengikutinya.

Karena itu, siapa yang mengaku beriman kepada Nabi ﷺ, tapi tidak mau mengikutinya, maka pengakuannya itu dusta.

 

  1. Haramnya mendurhakai Nabi ﷺ.

 

  1. Orang yang menyelisihi petunjuk Nabi ﷺ akan sesat dan mendapat siksa.

Nabi ﷺ bersabda:

وَجُعِلَ الذِّلَّةُ وَالصَّغَارُ عَلَى مَنْ خَالَفَ أَمْرِي

“Dijadikan hina dan rendahlah orang yang menyelisihi perintahku.” (HR. Bukhari)

Nabi ﷺ bersabda:

إِذَا اسْتَيْقَظَ أَحَدُكُمْ مِنْ نَوْمِهِ، فَلَا يَغْمِسْ يَدَهُ فِي الْإِنَاءِ حَتَّى يَغْسِلَهَا ثَلَاثًا، فَإِنَّهُ لَا يَدْرِي أَيْنَ بَاتَتْ يَدُهُ

“Jika salah seorang dari kalian bangun tidur, maka janganlah ia memasukkan tangannya ke dalam bejana air hingga ia mencuci terlebih dahulu tangannya sebanyak tiga kali, karena sesungguhnya ia tidak tahu di mana tangannya berada pada waktu malam.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Imam An-Nawawi menyebutkan dalam kitab Bustan Al-‘Arifin perkataan Imam Muhammad At-Taimi. Beliau berkata:

أن بعض المبتدعة حين سمع قول النبي ﷺ: إذا استيقظ أحدكم من نومه… قال ذلك المبتدع على سبيل التهكم

“Ada seorang ahli bid’ah yang setelah mendengar hadis Nabi ﷺ tadi, berkata dengan nada mengejek:

أنا أدري أين باتت يدي في الفراش

“Aku tahu di mana tanganku bermalam yaitu di atas kasur!!!”

Setelah ia berkata begitu, apa yang terjadi?

Kata Imam At-Taimi:

فأصبح وقد أدخل يده في دبره إلى ذراعه

“Ketika pagi hari ternyata ia mendapati tangannya sudah masuk ke lubang duburnya hingga ke lengannya!”

Setelah menyebutkan kisah tersebut, Imam At-Taimi berkata:

فليتق المرء الاستحفاف بالسنن ومواضع التوقيف فانظر كيف وصل إليهما شؤم فعلهما

“Karena itu, hendaknya seseorang menjaga dirinya agar jangan sampai menganggap remeh sunnah-sunnah, dan perkara-perkara yang terlarang. Sebab, lihatlah, bagaimana akibat buruk dari perbuatan tersebut!”

Syekh Abu Bakr Al-Jazairi berkata:

المتجرىء على الاستهانة بسنة الرسول ﷺ يُخشى عليه أن يموت على سوء الخاتمة والعياذ بالله.

“Orang yang lancang meremehkan sunah Rasul ﷺ dikhawatirkan suulkhatimah (mati dalam keadaan buruk), kita berlindung kepada Allah dari demikian.” (Aisar At-Tafaasir Li Kalaam Al-‘Aliyy Al-Kabir)

Siberut, 28 Dzulhijjah 1441

Abu Yahya Adiya

 

Sumber:

  1. Al-Ibanah Al-Kubra karya Imam Ibnu Baththah.
  2. Aisar At-Tafaasir Li Kalaam Al-Aliyy Al-Kabir karya Syekh Abu Bakr Al-Jazairi.
  3. Tazhim As-Sunnah Wa Mauqif As-Salaf Mimman Aaradhahaa Wastahzaa Bisyain Minhaa karya Syekh ‘Abdul Qayyum As-Suhaibani.