Suatu hari Masrūq bin Al-Ajda’ dan Syutair bin Syakal duduk bersama di masjid. Orang-orang pun berkumpul mengelilingi mereka.
Masrūq berkata:
لَا أَرَى هَؤُلَاءِ يَجْتَمِعُونَ إِلَيْنَا إِلَّا لِيَسْتَمِعُوا مِنَّا خَيْرًا، فَإِمَّا أَنْ تُحَدِّثَ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ فَأُصَدِّقَكَ أَنَا، وَإِمَّا أَنْ أُحَدِّثَ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ فَتُصَدِّقَنِي؟
“Tidaklah aku melihat mereka berkumpul di sekitar kita kecuali untuk mendengarkan kebaikan dari kita. Begini saja, engkau menyampaikan apa yang engkau dengar dari ’Abdullāh (bin Mas’ūd) lalu aku membenarkannya, atau biar aku yang menyampaikan apa kudengar dari ’Abdullāh lalu engkau membenarkannya.”
Syutair menjawab:
حَدِّثْ يَا أَبَا عَائِشَةَ
“Sampaikan saja, wahai Abū ’Āisyah.”
Masrūq berkata:
هَلْ سَمِعْتَ عَبْدَ اللَّهِ يَقُولُ: الْعَيْنَانِ يَزْنِيَانِ، وَالْيَدَانِ يَزْنِيَانِ، وَالرِّجْلَانِ يَزْنِيَانِ، وَالْفَرْجُ يُصَدِّقُ ذَلِكَ أَوْ يُكَذِّبُهُ؟
“Apakah engkau pernah mendengar ’Abdullāh berkata, ‘Mata bisa berzina, tangan bisa berzina, kaki bisa berzina, dan kemaluanlah yang menentukan apakah semua itu benar-benar terjadi atau tidak’?”
Syutair menjawab:
نَعَمْ
“Ya.”
Masrūq berkata:
وَأَنَا سَمِعْتُهُ
“Aku juga mendengarnya.”
Masrūq melanjutkan:
فَهَلْ سَمِعْتَ عَبْدَ اللَّهِ يَقُولُ: مَا فِي الْقُرْآنِ آيَةٌ أَجْمَعَ لِحَلَالٍ وَحَرَامٍ وَأَمْرٍ وَنَهْيٍ، مِنْ هَذِهِ الْآيَةِ: {إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى} [النحل: 90]؟
“Apakah engkau pernah mendengar ’Abdullāh berkata, ‘Tidak ada ayat dalam Al-Qur‘an yang lebih lengkap dalam membahas halal dan haram, perintah dan larangan, daripada ayat: ‘Sesungguhnya Allah memerintahkan kalian untuk berlaku adil, berbuat baik, dan memberi kepada kerabat’?”
Syutair menjawab:
نَعَمْ
“Ya.”
Masrūq berkata:
وَأَنَا قَدْ سَمِعْتُهُ
“Aku pun mendengarnya.”
Masrūq berkata lagi:
فَهَلْ سَمِعْتَ عَبْدَ اللَّهِ يَقُولُ: مَا فِي الْقُرْآنِ آيَةٌ أَسْرَعَ فَرَجًا مِنْ قَوْلِهِ: {وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا} [الطلاق: 2] ؟
“Apakah engkau pernah mendengar ’Abdullāh berkata, ‘Tidak ada ayat yang lebih cepat memberikan kelapangan daripada firman Allah: ‘Siapa yang bertakwa kepada Allah, maka Dia akan memberinya jalan keluar’?”
Syutair menjawab:
نَعَمْ
“Ya.”
Masrūq berkata:
وَأَنَا قَدْ سَمِعْتُهُ
“Aku juga mendengarnya.”
Masrūq melanjutkan lagi:
فَهَلْ سَمِعْتَ عَبْدَ اللَّهِ يَقُولُ: مَا فِي الْقُرْآنِ آيَةٌ أَشَدَّ تَفْوِيضًا مِنْ قَوْلِهِ: {يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَى أَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا} [الزمر: 53] مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ؟
“Apakah engkau pernah mendengar ’Abdullāh berkata, ‘Tidak ada ayat yang lebih menanamkan sikap pasrah kepada Allah daripada firman-Nya: ‘Wahai hamba-hamba-Ku yang telah melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah berputus asa dari rahmat Allah’?”
Syutair menjawab:
نَعَمْ
“Ya.”
Masrūq berkata:
وَأَنَا سَمِعْتُهُ
“Aku juga mendengarnya.” (HR. Bukhārī dalam Al-Adab Al-Mufrad)
Faidah yang dapat kita petik dari hadis ini:
1. Bolehnya berbincang-bincang di masjid untuk membahas perkara yang bermanfaat.
2. Berkumpulnya orang-orang adalah peluang untuk menyampaikan nasihat kepada mereka.
3. Di antara metode pengajaran, yaitu tanya jawab.
4. Boleh mengajukan pertanyaan kepada seseorang tentang sesuatu yang telah diketahui jawabannya dalam rangka mengajari orang lain.
5. Yang diharamkan dalam Islam bukan hanya zina kemaluan, melainkan juga segala sesuatu yang mengantarkan padanya, seperti zina mata, zina telinga, zina tangan, dan zina kaki.
6. Ayat Al-Qur‘an yang paling lengkap dalam membahas halal dan haram, perintah dan larangan adalah firman Allah:
إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسانِ وَإِيتاءِ ذِي الْقُرْبى وَيَنْهى عَنِ الْفَحْشاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ
“Sesungguhnya Allah memerintahkan kalian untuk berlaku adil, berbuat kebajikan, memberi kepada kerabat, dan melarang dari perbuatan keji, kemungkaran, dan permusuhan. Dia memberikan pengajaran kepada kalian agar kalian dapat mengambil pelajaran.” (QS. An-Naḥl: 90)
7. Ayat Al-Qur‘an yang paling cepat memberikan kelapangan dari kesempitan adalah firman Allah:
وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا
“Siapa yang bertakwa kepada Allah, maka Dia akan memberinya jalan keluar.” (QS. Aṭ-Ṭalāq: 2)
8. Ayat Al-Qur‘an yang paling kuat menanamkan sikap pasrah kepada Allah adalah firman-Nya:
قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَى أَنْفُسِهِمْ لا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ
“Katakanlah, ‘Hai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kalian berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni semua dosa. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Az-Zumar: 53)
9. Semangatnya tabiin dalam menukil ilmu dari para sahabat Nabi, seperti yang dicontohkan oleh Masrūq bin Al-Ajda’ dan Syutair bin Syakal.
Siberut, 28 Jumādā Al-Ūlā 1447
Abu Yahya Adiya
Sumber:
1. Rasysyu Al-Barad Syarḥ Al-Adab Al-Mufrad karya Muḥammad Luqmān As-Salafī
2. Syarḥ Ṣaḥīḥ Al-Adab Al-Mufrad karya Ḥusain bin ’Audah Al-’Awāyisyah.






