7. Kapan waktu salat Tarawih?
Disebutkan dalam Al-Mausu’ah Al-Fiqhiyyah Al-Kuwaitiyyah:
ذَهَبَ جُمْهُورُ الْفُقَهَاءِ إِلَى أَنَّ وَقْتَ صَلاَةِ التَّرَاوِيحِ مِنْ بَعْدِ صَلاَةِ الْعِشَاءِ، وَقَبْل الْوِتْرِ إِلَى طُلُوعِ الْفَجْرِ
“Mayoritas fukaha berpendapat bahwa waktu salat Tarawih adalah setelah salat Isya dan sebelum salat witir sampai terbitnya fajar.”
Apa alasan mereka bahwa itulah waktu salat Tarawih?
Karena beberapa alasan berikut ini:
لِنَقْل الْخَلَفِ عَنِ السَّلَفِ
“Itulah yang dinukil oleh orang-orang belakangan dari salaf (orang-orang terdahulu).
وَلأِنَّهَا عُرِفَتْ بِفِعْل الصَّحَابَةِ فَكَانَ وَقْتُهَا مَا صَلَّوْا فِيهِ، وَهُمْ صَلَّوْا بَعْدَ الْعِشَاءِ قَبْل الْوِتْرِ
Dan karena itu diketahui lewat perbuatan para sahabat Nabi. Karenanya, waktu salat Tarawih yaitu waktu salat yang mereka kerjakan. Dan mereka melaksanakan salat Tarawih setelah Isya sebelum Witir.
وَلأِنَّهَا سُنَّةٌ تَبَعٌ لِلْعِشَاءِ فَكَانَ وَقْتُهَا قَبْل الْوِتْرِ.
Dan karena salat Tarawih adalah sunnah yang mengikuti salat Isya. Karena itu, waktunya sebelum Witir.” (Al-Mausu’ah Al-Fiqhiyyah Al-Kuwaitiyyah)
8. Kapan waktu paling utama untuk melaksanakan salat Tarawih?
Ada yang bertanya kepada Imam Ahmad:
تُؤَخِّرُ الْقِيَامَ يَعْنِي فِي التَّرَاوِيحِ إلَى آخِرِ اللَّيْلِ؟
“Apakah engkau akan mengakhirkan salat Tarawih sampai akhir malam?”
Beliau menjawab:
لَا، سُنَّةُ الْمُسْلِمِينَ أَحَبُّ إلَيَّ.
“Tidak. Sunnah kaum muslimin lebih kusukai.” (Al-Mughni)
Maksud beliau, itu adalah kebiasaan kaum muslimin sejak dulu kala.
Imam Al-Buhuti berkata:
لِأَنَّ النَّاسَ كَانُوا يَقُومُونَ عَلَى عَهْدِ عُمَرَ أَوَّلَهُ.
“Sebab, orang-orang dulu di masa ‘Umar melaksanakan salat Tarawih di awal malam.” (Kasyaf Al-Qina’ ‘An Matn Al-Iqna’)
9. Mana yang lebih utama melaksanakan salat Tarawih di masjid atau di rumah?
Imam Az-Zarqani berkata:
وقال مالك وأبو يوسف وبعض الشافعية وغيرهم: الأفضل صلاتها فرادى في البيوت، لقوله عليه الصلاة والسلام:
“Malik, Abu Yusuf, dan sebagian ulama mazhab Syafi’i dan selain mereka berpendapat bahwa yang lebih utama adalah salat Tarawih sendiri-sendiri di rumah. Berdasarkan sabda Nabi:
أفضل صلاة المرء في بيته إلا المكتوبة
“Salat seseorang yang paling utama adalah yang dikerjakan di rumahnya kecuali salat wajib.”
قالوا: وإنما فعلها صلى الله عليه وسلم في المسجد لبيان الجواز، أو لأنه كان معتكفا.
Mereka berkata bahwa Nabi ﷺ melaksanakan salat Tarawih di masjid untuk menjelaskan bahwa itu boleh atau karena beliau sedang iktikaf.” (Syarh Az-Zarqani ‘Ala Al-Mawahib Al-Ladunniyyah bi Al-Minah Al-Muhammadiyyah)
Imam Al-Khurasyi berkata:
وَالْمُرَادُ بِالِانْفِرَادِ فِيهَا فِعْلُهَا فِي الْبُيُوتِ وَلَوْ جَمَاعَةً هَذَا إنْ لَمْ تُعَطَّلْ الْمَسَاجِدُ فَإِنْ خِيفَ مِنْ الِانْفِرَادِ فِي التَّرَاوِيحِ التَّعْطِيلُ فَالْمَسَاجِدُ أَفْضَلُ
“Yang dimaksud dengan sendiri-sendiri dalam salat Tarawih yaitu mengerjakannya di rumah, walaupun secara berjamaah, jika memang masjid tidak terbengkalai. Kalau dengan menyendiri dalam salat Tarawih khawatir menyebabkan masjid terbengkalai, maka salat di masjid lebih utama.” (Syarh Mukhtashar Khalil Lilkhurasyi)
10. Adakah istirahat dalam salat Tarawih?
Disebutkan dalam Al-Mausu’ah Al-Fiqhiyyah Al-Kuwaitiyyah:
اتَّفَقَ الْفُقَهَاءُ عَلَى مَشْرُوعِيَّةِ الاِسْتِرَاحَةِ بَعْدَ كُل أَرْبَعِ رَكَعَاتٍ؛ لأِنَّهُ الْمُتَوَارَثُ عَنِ السَّلَفِ، فَقَدْ كَانُوا يُطِيلُونَ الْقِيَامَ فِي التَّرَاوِيحِ وَيَجْلِسُ الإْمَامُ وَالْمَأْمُومُونَ بَعْدَ كُل أَرْبَعِ رَكَعَاتٍ لِلاِسْتِرَاحَةِ.
“Para fukaha telah sepakat atas disyariatkannya istirahat setelah 4 rakaat. Sebab itulah amalan yang diwariskan dari salaf (orang-orang terdahulu). Dulu mereka memanjangkan berdiri dalam salat Tarawih dan imam serta makmum duduk setelah 4 rakaat untuk istirahat.”
11. Apakah boleh Imam mengimami salat sambil membaca mushaf Al-Quran?
Syekh Abdul ‘Aziz bin ‘Abdullah bin Baaz berkata:
وفيه خلاف بين أهل العلم، لكن الصحيح أنه لا حرج أن يقرأ من المصحف إذا كان لم يحفظ، أو كان حفظه ضعيفا وقراءته من المصحف أنفع للناس وأنفع له فلا بأس بذلك. وقد ذكر البخاري رحمه الله تعليقا في صحيحه عن عائشة – رضي الله عنها – أنه كان مولاها ذكوان يصلي بها في الليل من المصحف
“Ada perbedaan pendapat di antara para ulama dalam hal ini. Namun, pendapat yang benar yaitu tidak mengapa imam membaca mushaf jika ia tak hafal atau hafalannya lemah, sementara bacaannya dari mushaf lebih bermanfaat bagi orang-orang dan bagi dirinya. Itu tak mengapa. Al-Bukhari telah menyebutkan dalam Shahihnya secara mu’allaq dari ‘Aisyah-semoga Allah meridainya-bahwa budaknya Dzakwan mengimami salatnya pada suatu malam dengan membaca mushaf.” (Majmu’ Fatawa Al-‘Allamah Abdul ‘Aziz bin Baaz)
12. Apakah boleh makmum menyimak bacaan imam sambil melihat mushaf Al-Quran?
Syekh Muhammad bin Saleh Al-‘Utsaimin berkata:
لا ينبغي حمل المأموم للمصحف، بل لو قيل بكراهيته لكان له وجه؛ لأن ذلك يؤدي إلى حركة لا حاجة إليها، فالإنسان يتحرك لفتح المصحف، وإغلاقه، وحمله وتفوته سنة وضع اليدين على الصدر ويكون منه حركة بصرية كثيرة؛ لأن عينيه تجول في الصفحات
“Tidak sepantasnya seorang makmum membaca mushaf. Bahkan, kalau itu dikatakan makruh, maka ada sisi benarnya. Sebab, itu mengakibatkan gerakan yang tidak dibutuhkan. Seseorang jadi bergerak untuk membuka mushaf, menutupnya, dan membawanya. Dan luputlah darinya sunnah meletakkan kedua tangan di dada dan akan muncul darinya banyak gerakan penglihatan. Sebab, kedua matanya berputar di mushaf.
ولهذا ذهب بعض العلماء إلى بطلان صلاة الإنسان إذا قرأ من المصحف،
Karena itu, sebagian ulama berpendapat batalnya salat seseorang jika sambil membaca mushaf.
والصحيح أن الصلاة لا تبطل، لكن لا شك أن متابعة الإمام في المصحف إذا لم يكن هناك حاجة مكروه،
Yang benar adalah salatnya tidak batal. Namun, tidak diragukan bahwa mengikuti bacaan imam dengan melihat mushaf jika memang tidak ada kebutuhan adalah makruh.
أما لو كان الإمام محتاجاً إلى من يتابعه لكونه ضعيف الحفظ فطلب من أحد المصلين أن يتابعه ليقرأ عليه إن أخطأ فإن ذلك لا بأس به.
Adapun kalau imam butuh orang yang mengikuti bacaannya karena hafalannya lemah lalu ia meminta salah seorang makmum untuk mengikuti bacaannya supaya bisa membenarkannya kalau ia salah, maka itu tak mengapa.” (Majmu’ Fatawa Wa Rasail Al-‘Utsaimin)
Siberut, 17 Ramadhan 1442
Abu Yahya Adiya
Sumber:
- Al-Minhaj Syarh Shahih Muslim bin Al-Hajjaj karya Imam An-Nawawi.
- Majmu’ Fatawa Al-‘Allamah Abdul ‘Aziz bin Baaz karya Syekh Abdul ‘Aziz bin Abdullah bin Baaz.
- Majmu’ Fatawa Wa Rasail Al-‘Utsaimin karya Syekh Muhammad bin Saleh Al-Utsaimin.
- Syarh Az-Zarqani ‘Ala Al-Mawahib Al-Ladunniyyah bi Al-Minah Al-Muhammadiyyah karya Imam Az-Zarqani.
- Syarh Mukhtashar Khalil Lilkhurasyi karya Imam Al-Khurasyi.
- Al-Mausu’ah Al-Fiqhiyyah Al-Kuwaitiyyah






