Zaid bin Tsabit berkata:
تَسَحَّرْنَا مَعَ رَسُولِ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم -. ثُمَّ قَامَ إلَى الصَّلاةِ.
“Kami sahur bersama Rasulullah ﷺ lalu beliau bangkit melaksanakan salat.”
Anas bin Malik:
قُلْت لِزَيْدٍ:
“Kukatakan kepada Zaid:
كَمْ كَانَ بَيْنَ الأَذَانِ وَالسَّحُورِ؟
“Berapa lama antara azan dan sahur?”
قَالَ
Zaid menjawab:
قَدْرُ خَمْسِينَ آيَةً
“Seukuran 50 ayat.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Apa yang dimaksud azan dalam hadis ini?
Ibnu Daqiq Al-‘Ied berkata:
وَالظَّاهِرُ: أَنَّ الْمُرَادَ بِالْأَذَانِ هَهُنَا: الْأَذَانُ الثَّانِي.
“Yang tampak maksud dari azan di sini adalah azan kedua (ikamah).” (Ihkam Al-Ahkam)
Dalil yang menunjukkan demikian adalah ucapan Zaid dalam riwayat Muslim:
تَسَحَّرْنَا مَعَ رَسُولِ اللهِ ﷺ ثُمَّ قُمْنَا إِلَى الصَّلَاة
“Kami sahur bersama Rasulullah ﷺ, lalu kami bangkit melaksanakan salat.”
Anas bertanya:
كَمْ كَانَ قَدْرُ مَا بَيْنَهُمَا؟
“Berapa kadar waktu antara keduanya?”
Zaid menjawab:
خَمْسِينَ آيَةً
“50 ayat.”
Apa maksud seukuran 50 ayat?
Al-Hafizh Ibnu Hajar menjelaskan:
أَيْ مُتَوَسِّطَةً لَا طَوِيلَةً وَلَا قَصِيرَةً لَا سَرِيعَةً وَلَا بَطِيئَةً
“Yaitu bacaan yang sedang. Tidak panjang dan tidak pula pendek. Tidak cepat dan tidak pula lambat.” (Fathul Bari)
Ada beberapa faidah yang bisa kita petik dari hadis ini:
- Anjuran untuk mengakhirkan sahur sampai menjelang terbitnya fajar.
Mengapa demikian?
Sebab itulah sunnah Nabi ﷺ.
Nabi ﷺ bersabda:
إنا معاشر الأنبياء أمرنا أن نعجل فطرنا ، وأن نؤخر سحورنا
“Kami para Nabi diperintahkan untuk menyegerakan berbuka dan mengakhirkan sahur.” (HR. Ath-Thabrani dalam Al-Mu’jam Al-Ausath)
Lantas apa hikmah dianjurkannya mengakhirkan sahur?
Ibnu Daqiq Al-‘Ied berkata:
وَإِنَّمَا يُسْتَحَبُّ تَأْخِيرُهُ؛ لِأَنَّهُ أَقْرَبُ إلَى حُصُولِ الْمَقْصُودِ مِنْ حِفْظِ الْقُوَى
“Hanya saja dianjurkan mengakhirkan sahur, karena dengan itu lebih dapat mencapai tujuan berupa terjaganya kekuatan.” (Ihkam Al-Ahkam)
Syekh Ibn Jibrin berkata:
ولعل الحكمة في تأخيره أن يكون أقرب إلى الإمساك، فإنه إذا كان السحور في وسط الليل لم يكن اسمه سحوراً، وأيضاً لم يبق أثره في النهار، بخلاف ما إذا كان قرب الإمساك فإنه يبقى أثر الأكل، ولا يحس بالجوع إلا بعد مضي مدة لكونه حديث عهد بأكل وبشرب.
“Bisa jadi hikmah diakhirkannya sahur yaitu agar dekat dengan waktu imsak (menahan diri dari makan dan minum). Karena, jika sahur itu di pertengahan malam, maka namanya bukan sahur dan juga pengaruh sahurnya tidak bertahan di waktu siang. Berbeda halnya jika sahur itu dekat dengan waktu imsak, maka pengaruh dari makanan tetap bertahan dan ia tidak merasa lapar kecuali setelah lewat beberapa waktu, dikarenakan ia baru saja makan dan minum.” (Syarh ‘Umdah Al-Ahkam)
- Anjuran untuk menyegerakan pelaksanaan salat Subuh.
Syekh Muhammad bin Saleh Al-‘Utsaimin berkata:
وهذا يدل على أن الرسول صلى الله عليه وسلم يؤخر السحور تأخيرا بالغا وعلى أنه يقدم صلاة الفجر ولا يتأخر
“Hadits ini menunjukkan bahwa Rasul ﷺ benar-benar mengakhirkan sahur dan beliau juga menyegerakan salat Subuh dan tidak menundanya.” (Syarh Riyadhus Shalihin)
- Disyariatkan menghibur teman dengan mengajak makan bersama. Sebagaimana telah dicontohkan Nabi ﷺ dalam hadis tadi.
- Bolehnya berjalan di malam hari karena ada kebutuhan. Sebab, dalam kisah di atas Zaid bin Tsabit tidak bermalam bersama Nabi ﷺ.
- Bolehnya berkumpul untuk sahur bersama.
- Para sahabat terdahulu menggunakan waktu sahur untuk membaca Al-Quran.
Al-Hafizh Ibnu Hajar berkata:
وَكَانَتِ الْعَرَبُ تُقَدِّرُ الْأَوْقَات بِالْأَعْمَالِ كَقَوْلِهِم قَدْرَ حَلْبِ شَاةٍ وَقَدْرَ نَحْرِ جَزُورٍ فَعَدَلَ زَيْدُ بْنُ ثَابِتٍ عَنْ ذَلِكَ إِلَى التَّقْدِيرِ بِالْقِرَاءَةِ إِشَارَةً إِلَى أَنَّ ذَلِكَ الْوَقْتَ كَانَ وَقْتَ الْعِبَادَةِ بِالتِّلَاوَة
“Orang-orang Arab biasa mengukur waktu dengan perbuatan. Seperti pernyataan mereka, ‘Seukuran waktu memerah susu. Dan seukuran waktu menyembelih unta.’ Namun Zaid tidak menggunakan itu dan memilih mengukur waktu dengan bacaan sebagai isyarat bahwa waktu tersebut adalah waktu ibadah yaitu membaca Al-Quran.” (Fathul Bari)
Siberut, 27 Sya’ban 1441
Abu Yahya Adiya
Sumber:
- Taisir Al-‘Allaam Syarh ‘Umdah Al-Ahkam karya ‘Abdullah Al-Bassam.
- Fathul Bari karya Al-Hafizh Ibnu Hajar.
- Syarh Riyadhus Shalihin karya Syekh Muhammad bin Saleh Al-‘Utsaimin.
- Ihkam Al-Ahkam Syarh ‘Umdah Al-Ahkam karya Ibnu Daqiq Al-‘Ied.
- Syarh ‘Umdah Al-Ahkam karya Syekh Ibnu Jibrin.






