Apakah ada hubungan antara ejekan dan kebodohan?
Ada.
Ketika Nabi Musa ﷺ mengabarkan kepada Bani Israel bahwa Allah menyuruh mereka untuk menyembelih sapi betina, apa tanggapan mereka?
Mereka berkata:
أَتَتَّخِذُنَا هُزُواً
“Apakah engkau hendak menjadikan kami sebagai buah ejekan?”
Lantas, apa reaksi Nabi Musa ﷺ setelah mendengar perkataan mereka ini?
Nabi Musa ﷺ berkata:
أَعُوذُ بِاللَّهِ أَنْ أَكُونَ مِنَ الْجَاهِلِينَ
“Aku berlindung kepada Allah agar tidak termasuk orang-orang yang bodoh.” (Lihat surat Al-Baqarah ayat 67)
Artinya, aku tidak mengejek kalian dan menjadikan kalian sebagai buah ejekan, karena orang yang suka mengejek orang lain adalah orang bodoh.
Syekh Muhammad bin Saleh Al-‘Utsaimin berkata:
ومنها: أن الاستهزاء بالناس من الجهل وهو الحمق، والسفه
“Di antara faidah dari ayat ini yakni mengejek orang lain termasuk kebodohan yaitu ketololan dan kedunguan.” (Tafsir Al-Fatihah wa Al-Baqarah)
Syekh ‘Abdurrahman As-Sa’di berkata:
فإن الجاهل هو الذي يتكلم بالكلام الذي لا فائدة فيه، وهو الذي يستهزئ بالناس
“Sesungguhnya orang yang bodoh adalah orang yang berbicara dengan perkataan yang tidak berfaedah dan ia mengejek orang-orang.
وأما العاقل فيرى أن من أكبر العيوب المزرية بالدين والعقل، استهزاءه بمن هو آدمي مثله
Adapun orang yang berakal, maka ia memandang bahwa termasuk aib sangat besar yang merendahkan agama dan akalnya adalah ia mengejek orang yang sama-sama manusia sepertinya.
وإن كان قد فضل عليه، فتفضيله يقتضي منه الشكر لربه، والرحمة لعباده
Kalaupun ia memiliki kelebihan darinya, maka kelebihannya itu menuntutnya untuk bersyukur kepada Tuhannya dan bersikap sayang kepada hamba-hamba-Nya.” (Taisir Al-Karim Ar-Rahman Fii Tafsiir Kalam Al-Mannan)
Bisa kita simpulkan bahwa mengejek orang lain adalah perbuatan bodoh. Lantas, bagaimana kalau orang lain mengejek kita?
Apakah kita balas ejekan mereka dengan ejekan pula?
Telah turun petunjuk dari Tuhan kita:
خُذِ الْعَفْوَ وَأْمُرْ بِالْعُرْفِ وَأَعْرِضْ عَنِ الْجَاهِلِينَ
“Jadilah pemaaf, perintahkanlah yang makruf, dan jangan pedulikan orang-orang yang bodoh.” (QS. Al-A’raaf: 199)
Ya, jangan pedulikan orang-orang yang bodoh. Kalau mereka memakimu dan mencelamu, maafkanlah mereka. Berpalinglah dari mereka dan tidak usah meladeni mereka.
Imam Asy-Syafi’i berkata:
يخاطبني السفيه بكل قبح…فأكره أن أكون له مجيباً
“Orang bodoh berbicara kepadaku dengan perkataan yang sangat buruk…maka aku tidak suka untuk menanggapi perkataannya.
يزيد سفاهة فأزيد حلماً … كعود زاده الإحراق طيباً
Makin bertambah kebodohannya, maka makin kutambah pula kebijaksanaanku….seperti gaharu, makin terbakar, makin bertambah pula wanginya.”
Kalau orang bodoh memakimu, maka jangan engkau membalasnya dengan memakinya.
Kalau ia mencelamu, maka jangan engkau membalasnya dengan mencelanya.
Jangan balas kebodohan dengan kebodohan!
Abu Tamam berkata:
إذا جاريت في خلق دنيئا فأنت ومن تجاريه سواء
“Kalau engkau meladeni orang yang hina dalam suatu perilaku maka engkau dengan orang yang engkau ladeni sama saja.”
Ya, sama saja. Yaitu sama-sama bodoh dan hina!
Lantas, maukah kita jadi orang yang bodoh dan hina?
Siberut, 30 Jumada Al-Ulaa 1443
Abu Yahya Adiya






