Apa yang mendorongmu untuk mengunjungi temanmu?
Apakah alasan materi?
Kepentingan kerja?
Atau sekadar untuk hura-hura?
Nabi ﷺ bercerita bahwa ada seseorang yang mengunjungi temannya di tempat lain. Lalu Allah mengutus malaikat untuk menemuinya.
Malaikat bertanya kepadanya:
أَيْن تُريدُ؟
“Engkau mau kemana?”
Orang itu menjawab:
أُرِيدُ أَخاً لي في هذِهِ الْقَرْيةِ.
“Aku ingin menemui temanku di kampung ini.”
Malaikat bertanya:
هَلْ لَكَ علَيْهِ مِنْ نِعْمَةٍ تَرُبُّهَا عَلَيْهِ؟
“Apakah ada kesenangan yang akan engkau peroleh dari temanmu itu?”
Orang itu menjawab:
لا، غَيْر أَنِّي أَحْببْتُهُ في اللَّهِ تَعَالَى
“Tidak, hanya saja aku mencintainya karena Allah.”
Malaikat pun berkata:
فَإِنِّي رَسُول اللَّهِ إِلَيْكَ بأَنَّ اللَّه قَدْ أَحبَّكَ كَما أَحْببْتَهُ فِيهِ
“Sesungguhnya aku utusan Allah kepadamu yang mengabarkan bahwa Allah telah mencintaimu, sebagaimana engkau telah mencintai temanmu itu karena Allah.” (HR. Muslim)
Inilah keutamaan orang yang mencintai orang lain karena Allah.
Allah akan mencintai-Nya. Dan itu adalah tanda kesempurnaan imannya.
Nabi ﷺ bersabda:
مَنْ أَحَبَّ لِلَّهِ، وَأَبْغَضَ لِلَّهِ، وَأَعْطَى لِلَّهِ، وَمَنَعَ لِلَّهِ فَقَدِ اسْتَكْمَلَ الْإِيمَانَ
“Siapa yang mencintai karena Allah, membenci karena Allah, memberikan pemberian karena Allah, dan menahan pemberian karena Allah, maka telah sempurnalah imannya.” (HR. Abu Daud)
Lihatlah, salah satu sifat orang yang memiliki iman yang sempurna yaitu mencintai seseorang karena Allah.
Ya, karena Allah.
Bukan karena semata-mata alasan fisik atau materi.
Bukan karena semata-mata satu profesi dan satu hobi.
Bukan karena semata-mata satu suku atau satu golongan.
Mencintai seseorang karena Allah yaitu….
Engkau mencintainya karena ia beriman kepada Allah.
Engkau mencintainya karena ia menaati Allah.
Engkau mencintainya karena ia telah membantumu dalam menaati Allah.
Itulah cinta yang menunjukkan kesempurnaan imanmu kepada-Nya.
Itulah cinta yang mengantarkanmu pada cinta-Nya.
Siberut, 14 Muharram 1443
Abu Yahya Adiya






