Kita bisa mengenal seseorang itu baik bukan cuma di tempat ibadah saja, melainkan juga di luar tempat ibadah, terutama di jalan.
Ketika di jalan, kita bisa menilai seseorang baik atau tidak, dengan memerhatikan apakah ia menjalankan adab-adab ketika di jalan atau tidak.
Apa sajakah adab-adab ketika di jalan?
- Berjalan dengan rendah hati.
Allah berfirman:
وَعِبَادُ الرَّحْمَنِ الَّذِينَ يَمْشُونَ عَلَى الْأَرْضِ هَوْنًا
“Adapun hamba-hamba Tuhan Yang Maha Pengasih itu adalah orang-orang yang berjalan di bumi dengan rendah hati.” (QS. Al-Furqan: 63)
Apa makna berjalan di bumi dengan rendah hati?
Yaitu:
ساكنين متواضعين لله وللخلق
“Tenang dan rendah hati di hadapan Allah dan juga manusia.” (Taisir Al-Karim Ar-Rahman Fii Tafsiir Kalam Al-Mannaan)
Jangan sampai kita berjalan dengan angkuh dan sombong. Sebab…
إِنَّ اللَّهَ لاَ يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُورٍ
“Sesungguhnya Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong dan membanggakan diri.” (QS. Luqman: 18)
Kalau tidak menyukai, artinya…
حَقٌّ عَلَى اللَّهِ أَنْ لاَ يَرْتَفِعَ شَيْءٌ مِنَ الدُّنْيَا إِلَّا وَضَعَهُ
“Sudah merupakan hak Allah bahwa tidaklah ada sesuatu yang meninggi di dunia ini, melainkan akan Dia rendahkan.” (HR. Bukhari)
- Menjaga pandangan.
Allah berfirman:
قُلْ لِلْمُؤْمِنِينَ يَغُضُّوا مِنْ أَبْصَارِهِمْ
“Katakanlah kepada laki-laki yang beriman, agar mereka menjaga pandangan mereka.” (QS. An-Nur: 30)
وَقُلْ لِلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ
“Katakanlah kepada wanita yang beriman, agar mereka menjaga pandangan mereka.” (QS. An-Nur: 31)
Imam Ibnu Katsir berkata:
هَذَا أَمْرٌ مِنَ اللَّهِ تَعَالَى لِعِبَادِهِ الْمُؤْمِنِينَ أَنْ يَغُضُّوا مِنْ أَبْصَارِهِمْ عَمَّا حَرَّمَ عَلَيْهِمْ
“Ini adalah perintah dari Allah kepada hamba-hamba-Nya yang beriman agar menahan pandangan mereka dari apa yang diharamkan bagi mereka.
فَلَا يَنْظُرُوا إِلَّا إِلَى مَا أَبَاحَ لَهُمُ النَّظَرَ إِلَيْهِ وَأَنْ يَغُضُّوا أَبْصَارَهُمْ عَنِ الْمَحَارِمِ
Karena itu, janganlah mereka memandang kecuali apa yang diperbolehkan bagi mereka untuk memandangnya. Dan hendaknya mereka menahan pandangan mereka dari yang haram.
فَإِنِ اتَّفَقَ أَنْ وَقَعَ الْبَصَرُ عَلَى مُحرَّم مِنْ غَيْرِ قَصْدٍ، فَلْيَصْرِفْ بَصَرَهُ عَنْهُ سَرِيعًا
Jika kebetulan pandangan itu jatuh pada yang haram tanpa kesengajaan, maka hendaknya segera memalingkan pandangannya itu darinya.” (Tafsir Al-Quran Al-‘Azhim)
Jarir bin ‘Abdillah berkata:
سَأَلْتُ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ عَنْ نَظَرِ الْفُجَاءَةِ فَأَمَرَنِي أَنْ أَصْرِفَ بَصَرِي
“Aku pernah bertanya kepada Rasulullah ﷺ tentang pandangan yang tidak disengaja, maka beliau menyuruhku untuk mengalihkan pandanganku.” (HR. Muslim)
Jangan sampai kita membiarkan mata kita melihat ke mana-mana dengan liar. Sebab…
النَّظْرَةُ سَهْمٌ مِنْ سِهَامِ إِبْلِيسَ مَسْمُومَةٌ فَمَنْ تَرَكَهَا مِنْ خَوْفِ اللَّهِ أَثَابَهُ جَلَّ وَعَزَّ إِيمَانًا يَجِدُ حَلَاوَتَهُ فِي قَلْبِهِ
“Pandangan adalah salah satu panah Iblis yang beracun. Siapa yang meninggalkannya karena takut Allah, maka Allah akan membalasnya dengan keimanan yang akan ia rasakan manisnya pada hatinya.” (HR. Al-Hakim)
- Mengucapkan salam kepada orang yang dikenal maupun tidak dikenal.
Seseorang bertanya kepada Nabi ﷺ:
أَيُّ الْإِسْلَامِ خَيْرٌ
“Apa amalan dalam Islam yang paling baik?”
Nabi ﷺ menjawab:
تُطْعِمُ الطَّعَامَ وَتَقْرَأُ السَّلَامَ عَلَى مَنْ عَرَفْتَ وَمَنْ لَمْ تَعْرِفْ
“Kamu memberi makan, mengucapkan salam kepada orang yang kamu kenal dan yang tidak kamu kenal.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Hendaknya kita menebarkan salam. Sebab….
لا تَدْخُلُوا الجَنَّةَ حَتَّى تُؤْمِنُوا، وَلا تُؤْمِنُوا حَتَّى تَحَابُّوا، أَوَلا أَدُلُّكُمْ عَلَى شَيءٍ إِذَا فَعَلْتُمُوه تَحَابَبْتُمْ؟ أَفْشُوا السَّلامَ بينَكم
“Kalian tidak dapat masuk surga hingga kalian beriman. Dan kalian tidak beriman hingga kalian saling mencintai. Maukah kalian kutunjukkan sesuatu yang bila kalian lakukan, maka kalian bisa saling mencintai? Sebarkanlah salam di antara kalian!” (HR. Muslim)
- Menjaga kebersihan jalan
Nabi ﷺ bersabda:
إِنَّ اللَّه جَمِيلٌ يُحِبُّ الجَمالَ
“Sesungguhnya Allah itu Maha Indah dan mencintai keindahan.” (HR. Muslim)
Ya, Allah mencintai keindahan. Maka, hendaknya kita pun mencintai keindahan dalam segala hal dan segala tempat, termasuk di jalan.
Jangan sampai kita mengotori jalan dan merusak pemandangan. Sebab…
إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْمُفْسِدِينَ
“Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.” (QS. Al-Qashshash: 77)
- Menjauhi bahaya
Allah berfirman:
وَلا تُلْقُوا بِأَيْدِيكُمْ إِلَى التَّهْلُكَةِ
“Dan janganlah kalian menjatuhkan diri kalian sendiri ke dalam kebinasaan.” (QS. Al-Baqarah: 195)
Ya, hati-hatilah. Jangan sampai engkau celaka dan binasa di jalan.
Jangan kebut-kebutan di jalan dan jangan melakukan apa pun yang bisa mengantarkanmu pada kebinasaan! Sebab…
أن كل من تسبب في قتل نفسه فإنه يعتبر قاتل لنفسه
“Setiap orang yang melakukan sebab hilangnya nyawanya sendiri, maka ia dianggap telah membunuh dirinya sendiri.” (Fatawa Nur ‘Alaa Ad-Darb)
Ya, ia dianggap telah bunuh diri!
Sedangkan siapa yang membunuh dirinya dengan melakukan sesuatu, maka ia akan terus melakukan itu di neraka nanti!
Nabi ﷺ bersabda:
مَنْ تَرَدَّى مِنْ جَبَلٍ فَقَتَلَ نَفْسَهُ، فَهُوَ فِي نَارِ جَهَنَّمَ يَتَرَدَّى فِيهِ خَالِدًا مُخَلَّدًا فِيهَا أَبَدًا
“Siapa yang menjatuhkan dirinya dari gunung hingga meninggal, maka ia akan menjatuhkan dirinya terus menerus di dalam neraka Jahannam. Ia kekal dan abadi di dalamnya selama-lamanya.
وَمَنْ تَحَسَّى سُمًّا فَقَتَلَ نَفْسَهُ، فَسُمُّهُ فِي يَدِهِ يَتَحَسَّاهُ فِي نَارِ جَهَنَّمَ خَالِدًا مُخَلَّدًا فِيهَا أَبَدًا
Dan siapa yang meminum racun hingga meninggal dunia, maka racun tersebut akan berada di tangannya, dan ia akan meminumnya terus menerus di dalam neraka Jahannam. Ia kekal dan abadi di dalamnya selama-lamanya.
وَمَنْ قَتَلَ نَفْسَهُ بِحَدِيدَةٍ، فَحَدِيدَتُهُ فِي يَدِهِ يَجَأُ بِهَا فِي بَطْنِهِ فِي نَارِ جَهَنَّمَ خَالِدًا مُخَلَّدًا فِيهَا أَبَدًا
Dan siapa yang membunuh dirinya dengan benda tajam, maka benda tajam itu akan ada di tangannya, dan ia akan menusukkan itu terus menerus ke perutnya di dalam neraka Jahannam. Ia kekal dan abadi di dalamnya selama-lamanya.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Siberut, 6 Jumada Al-Ulaa 1442
Abu Yahya Adiya
Sumber:
- Riyadhush Shalihin karya Imam An-Nawawi
- Fatawa Nur ‘Alaa Ad-Darb karya Syekh Muhammad bin Saleh Al-‘Utsaimin.
- Al-Adab Al-Islamiyyah.






